Contoh Cerpen Singkat Tentang Pengorbanan ibu

Kumpulan Contoh Cerpen Singkat Tentang Pengorbanan Ibu Yang Selama ini Kamu Abaikan

contoh cerpen singkat tentang ibu – Ibu merupakan sesosok manusia yang mengabiskan tenaganya untuk merawat kita, mengeluarkan keringatnya untuk membesarkan kita dan menghabiskan waktunya untuk mendidik kita. Maka seharusnya kita memuliakan beliau setelah memuliakan Allah Ta’ala dan Rasull.

Contoh Cerpen Singkat Pendek “Pengorbanan Ibu”

Judul : Kasih Ibu Tak Batas Waktu
Karya : Dictionary Motivation

Contoh Cerpen Singkat Tentang ibu

Seorang anak bertengkar dengan ibunya & meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.

Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”
“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,”jawab anak itu dengan malu-malu.”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,”jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.”Ada apa Nak?”Tanya si pemilik kedai.”Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.

Pemilik kedai itu berkata”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu…. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut.”Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?”

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun,aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.

Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja.

Contoh Cerpen Tentang Ibu

Judul : Pembantu Ibu
Karya : Putri Handayani

contoh cerpen singkat tentang ibu

Hari ini aku ada janji bertemu dengan Putri, sahabat kala masih berseragam putih-abu-abu. Namun karena dia tidak bisa ke mana-mana, maka aku putuskan untuk berkunjung ke rumahnya.

Jarak rumahku dengan Putri lumayan jauh, sekitar empat puluh lima menit jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. Jika menggunakan sepeda motor bisa jadi lebih cepat, sayangnya aku tak memilikinya.

***
Kuketuk pintu kayu berwarna cokelat yang sedikit dihiasi dengan ukiran sederhana berbentuk persegi panjang.

“Assalamualaikum,” ucapku dengan suara yang sedikit kencang.

Kutunggu beberapa saat hingga terdengar suara balasan.

“Waalaikum salam,” suara yang kukenal itu terdengar dari balik pintu. “Eh Rani, ayo masuk. Maaf ini aku masih berantakan.” Lanjutnya sembari mempersilakan aku masuk ke dalam. Wajahnya tetap terlihat cantik sekalipun ia tengah berantakan. ‘Mungkin baru selesai merapikan rumah,’ pikirku kala memperhatikan ia dari ujung jilbab hingga ke kaki.

“Iya,Put. Kok sepi, ya? Ibu, bapak ke mana?” Kulontar tanya sambil melangkah mengikuti Putri.

“Ibu ke pasar, belanja buat jualan. Bapak biasa kerja bangun rumah di seberang desa.”

“Berarti kamu di rumah sendirian?”

“Iya nih Ran. Biasa jadi pembantunya ibu,” jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.

Aku yang mendengar kata itu sontak kaget. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu.

“Lho kok kamu ngomongnya gitu sih?”
Jujur aku sedikit kecewa dengan sahabatku ini. Gadis yang kukenal pintar dan santun tapi sesempit itu menganggap dirinya sebagai pembantu dari orang tuanya sendiri.

“Terus mau bilang apa dong Ran? Setiap hari kerjaanku ya gini. Nyuci baju, nyuci piring, ke pasar, ngepel. Apa itu bukan pembantu namanya? Kadang aku iri sama mereka yang bebas ke sana ke mari buat jalan sama teman atau sekedar melepas penat,” ucapnya dengan suara yang tertahan.
Kulihat ia mencoba menahan kristal bening yang hampir luruh.
Sungguh tak kuasa menahan haru, namun jelas persepsi Putri tentang itu keliru.

“Putri…,” kucoba mendekatkan diri untuk sekadar menenangkan sahabatku ini. “Kamu salah jika berpikir seperti itu. Tak ada orang tua yang ingin menjadikan anak sebagai pembantu. Kalau kita pikir lebih jauh ke masa lalu. Apakah yang kita lakukan saat ini sebanding dengan yang telah dilakukan oleh ibu kita?” lanjutku sambil mengusap bulir yang terlanjur jatuh di pipi gadis berlesung pipi di hadapan.

“….”

“Aku juga sama sepertimu, membantu pekerjaan ibu. Setidaknya bisa meringankan beban ibu. Membantu tak membuat kita lantas menjadi pembantu Put. Itu jelas berbeda. Masalah kamu ingin bepergian, sudahkah kau coba menanyakan kepada ibu untuk sekedar meminta ijin?”

Sahabatku menggeleng dan kembali memelukku lebih erat.

“Bahkan kalau boleh aku beranggapan bahwa sesungguhnya ibulah yang setiap hari kita jadikan pembantu. Sayangnya ibu lebih mulia dari itu hingga tak pernah terlintas dalam benakku untuk beranggapan seperti itu. Ayolah Putri, jangan hanya karena kau ingin seperti aku atau yang lain kau menjadi sepicik ini dengan beranggapan seperti itu,” suaraku mulai meninggi. Bukan untuk memarahi, namun aku ingin sahabatku ini mengerti bahwa yang dia salah jika berpikir seperti itu. Gadis di depanku semakin tenggelam dalam tangisannya, memeluk erat tubuh kecilku.
Hening…. ia tak memberi bantahan atas apa yang kuutarakan.

Perlahan kedua tanganku memegang kedua lengan gadis bermata cokelat ini.

“Putri…. Denger aku ya, hidup kamu jauh lebih beruntung daripada ribuan orang yang tinggal di kolong jembatan atau bahkan yang tak memiliki tempat tinggal. Jika hanya karena kamu tak bisa seperti aku dan yang lain, bukan berarti kamu itu pembantu ibu. Tak boleh keluar bisa jadi karena ada alasan. Besok lusa jika ingin bepergian cobalah meminta ijin jauh sebelum hari yang dijaadwalkan. Lalu tetap lakukan hal yang harus dilakukan seperti biasa

namun lebih awal.” Kutarik nafas sebentar untuk kemudian melanjutkan apa yang ingin kukatakan, “Akupun sama. Tak boleh bepergian jika tak ada keperluan. Ke rumahmu pun aku lebih dulu meminta ijin kepada ibu. Pekerjaan rumah sengaja kukerjakan lebih awal agar aku bisa bertemu dan bersilaturahmi denganmu. Kumohon jangan beranggapan seperti itu lagi. Tak pantas.”

Kubiarkan jemari menghapus sisa-sisa bulir mutiara yang terlanjur luruh. Gadis di hadapan mengangguk tanda setuju akan pintaku.

“Sekarang senyum, bisa?”

“Bisa,” jawabnya setengah parau.

“Kamu gak mau kasih aku minum, haus nih.”

“Astagfirullah aku lupa, maaf.”

“Aku cuma becanda, kok Put.”

Tawa kami terdengar begitu bebas. Hingga tak sadar ada seseorang yang mengetuk pintu.

Contoh Cerpen Cinta Tentang Ibu

Judul : Arti Diam
Karya : Putri Handayani

contoh cerpen singkat tentang ibu

Selesai salat asar, aku bergegas siap-siap hendak pergi bertemu teman-teman. Kulihat Ibu masih belum terbangun dari tidurnya. Mungkin beliau lelah. Tapi bisa jadi ini kesempatan emas bagiku untuk pergi. Kalau Ibu bangun, harus bernegosiasi untuk ijin pergi.

Kupatutkan diri dari ujung jilbab hingga sepatu. Memastikan sudah senada hingga tak lagi disebut jemuran berjalan.

Setelah semua siap, aku mencium tangan Ibu. Sekalipun sang ratu masih terlelap. Lalu aku berpamitan kepada bapak.

“Pak, Karla pergi dulu ke Cilegon sama Fida, Amah, dan Tika. Nanti kalau Ibu tanya, bilang aja gitu ya,
Pak.” pamitku dibarengi mencium punggung tangannya.

“Hati-hati. Pulang jangan terlalu malam. Nanti Ibu marah.” Bapak menasihati.

Aku menganggukan kepala seraya mengucapkan salam.
“Assalamualaikum, Pak.”

“Waalaikum salam warrahmatullahi wabbarakatuh.”
Aku mengayunkan kaki dan segera pergi.

Hari ini aku ada janji dengan tiga sahabat SMA. Lama tak bertemu membuat rindu makin mengebu. Rencanya kami akan menonton dan seperti biasa, aku dapat jatah tiket gratis dari mereka. Maklum hanya aku diantara kami yang belum bekerja. Dan tahukah? Ongkos juga diganti oleh mereka. Kumpul ber-empat lebih berarti, dan mereka lebih sering mentraktirku. Sejak dulu, sejak di masa SMA.

Kami menghabiskan waktu bersama. Mulai dari nonton, makan, hingga memutari Mall sekedar untuk melihat-lihat baju dan yang lainnya.

Jam dipergelangan tangan menunjukkan sudah pukul 8. Dan aku harus segera pulang. Aku takut sampai rumah lebih dari jam 9.

“Fid, Am, Tik, Aku pulang, ya?” pamitku kepada mereka.

“Kok pulang?” tanya fida.

“Baru juga jam 8.” Santai Tika menjawab.

“Iya udah malem.” saut Amah polos.

“Kalian enak rumahnya deket. Aku kan jauh rumahnya.”

“Iya udah ayo pulang.” Tika menghentikan memilah-milih baju dan memutuskan untuk pulang bersama.

Kami berempat menaiki angkot yang berbeda. Sesuai dengan rute rumah masing-masing.

Sialnya jalanan macet, dan setengah sembilan aku masih terjebak di Cilegon. Hatiku kacau, sudah pasti telat sampai di rumah.

Benar saja, aku sampai di rumah jam sembilan lewat tiga puluh menit. Takut-takut aku masuk ke dalam.

“Assalamualaikum,” pelan kuucap salam.

Tak kudengar jawaban dari salam yang barusan terucap. Padahal ibu ada, sedang bapak sudah tertidur.

Takut-takut kudekati ibu. Ibu hanya diam tak merespon. Tetap asik dengan pekerjaannya. Tapi kulihat wajahnya berbeda. Biasanya ibu akan memarahiku jika salah. Tapi ini.

Kucoba memancing tanya tapi ibu tetap diam.
‘Ada apa dengan ibu? Tak biasanya diam begitu.’ batinku berkecamuk.

Aku takut dengan sikap ibu. Marahkah kau padaku, Bu?.

Suara adzan subuh terdengar begitu merdu hingga mampu merangsang mata untuk terbuka. Namun ada yang berbeda. Ibu tak membangunkanku.

Kulihat ibu tengah sibuk dengan sejuta aktivitas, tanpa sedikitpun menoleh padaku. Padahal aku jelas-jelas lewat di hadapannya.

‘Adakah maksud di balik diamnya ibu?’ tanyaku dalam hati.

Contoh Cerpen Tentang Ibu

Judul : Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak Sama Sekali
Karya : Putri Handayani
contoh cerpen singkat tentang ibu
blog.debusana.com

Terlahir dari keluarga yang kurang akan pendidikan serta ekonomi tak membuat ibu putus asa untuk tetap menyekolahkan kami, anak-anaknya yang haus akan ilmu untuk dipelajari. Harapan ibu adalah anak-anaknya tak bodoh seperti mereka yang hanya menempuh pendidikan jenjang Sekolah Dasar.

Ibu adalah sosok malaikat sedang bapak adalah pahlawan dalam kehidupan. Mereka berdua adalah orang yang paling berjuang dalam mengentaskan kami dari kebodohan. Berbagai cara dilakukan agar kami tak seperti anak-anak kebanyakan yang tak mengenyam pendidikan.

Ibu beradu dengan waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk ke 6 anaknya. Sedang bapak rela berkawan dengan teriknya matahari serta bermain-main dengan palu, paku, pasir, semen serta bahan lainnya demi melihat senyum anak-anaknya.

Aku Putri Handayani, anak ke-lima dari enam bersaudara di sebuah keluarga sederhana. Aku memiliki suatu cita-cita, menjadi seorang guru yang membagikan semua ilmu yang dimiliki. Karena yang kutahu ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan manusia yang tak akan putus meskipun ruh tak lagi bersama raga.

Namun sayangnya, keterbatasan ekonomi membuat aku hanya mampu menulis mimpi dalam buku diary yang selalu kubawa setiap hari.
***
Rasa iri menyelimuti hati ketika hampir 80% teman SMA ku melanjutkan ke Perguruan Tinggi untuk segera meraih mimpi yang diingini. Tapi bukan Putri jika menyerah begitu saja pada keadaan. Bermodal kenekatan, aku mencari beasiswa sana-sini agar dapat penuhi hasrat hati. Namun tak dapat dipungkiri, Allah tak ridhai hasrat ini. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti sejenak dari mimpi.

Kulalui hari demi hari dengan berbakti kepada ibu, namun ada sampingan lain yang mampu mendatangkan penghasilan meskipun tak seberapa. Menjadi satu-satunya penjual pulsa di kampung membuat aku mampu menabung sedikit demi sedikit untuk menuntaskan mimpiku. Mulai dari menjual pulsa hingga kartu perdana. Alhasil konter kecil tercipta di rumah bilik nan mungil.

Beberapa bulan berlalu sebagai seorang wiraswata penjual pulsa namun uang terkumpul tak seberapa, masih kurang banyak jika untuk mendaftar kuliah. Jujur aku ingin menyerah, namun lagi-lagi mimpi dan asa menari indah di dasar jiwa.

Allah selalu mempunyai jalan melalui cara yang tak terduga, begitupun kejutan yang telah Ia rancang untukku. Salah seorang tetangga meminta tolong padaku untuk mengajarkan matematika karena nilai anaknya selalu di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Tanpa pikir panjang, kuterima tawaran tersebut.

Kunikmati pekerjaan baru sebagai seorang guru les, dari yang mulai satu seiring berjalan waktu hingga sepuluh muridku. Ini adalah hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Setahun berlalu, terkumpul uang untuk biaya pendaftaran kuliah yang sudah menjadi mimpiku sejak dulu. Tapi lagi-lagi mimpiku tak dapat terealisasi karena ada yang lebih membutuhkan uang itu daripada aku, untuk kesekian kali kuurungkan niatku.

Apa hidup begitu berliku?
Meraih mimpi pun aku tak mampu.
Sebab apa aku begitu
Sedang kurasa ku berusaha semampuku.
***
Sungguh ingin menyerah, tapi senyum ibu yang merekah membuat aku yang sempat hilang arah kembali bergairah. Tiga tahun sudah kutangguhkan mimpi, kini bermodal kenekatan hati harus kutepiskan ragu di hati. Lagi kucari informasi tentang Perguruan Tinggi yang mampu terjangkau olehku saat itu. Sampai suatu hari.

“Dik, ini ada brosur IAIN. Mau coba daftar?” tanya salah seorang sahabat karib kakak ku.

“Ada jurusan guru tidak Mas?” tanyaku lugu.

“Ada, Dik, coba saja daftar!” titahnya kepadaku.

“Tapi, Mas, Putri kan engga tau tempatnya dimana?”

“Dari sini Putri naik bus turun di patung, setelah itu naik angkot bilang ke kampus.”

“Cuma gitu doing mas?”

“Iya. Putri. Mudah kan?”

“Iya, Mas. Terima kasih banyak ya, Mas.”

“Sama-sama Adik cantik, Mas yakin kamu bias karena menurut Mas kamu cerdas.”

“Semoga Putri bias ya. Mas.”

“Aamiin.”

Semangatku tumbuh lagi setelah mendapat dukungan dari seseorang yang ku anggap kakak ini. Kali ini kumantapkan hati untuk bersiap diri, semoga saja belum terlambat.

***
Setelah mengikuti rute yang diberikan oleh Mas Rondi, kini aku berdiri di pintu gerbang Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten. Sempat ragu, namun kuayunkan langkahku perlahan seolah menikmati perjalanan padahal degup jantung berdetak hebat. Kudekati Pak Satpam sekedar mencari informasi.
“Assalamu’alaikum, Pak,” salamku memecahkan lamunan penjaga pos tersebut.

“Eh … Wa’alaikum salam, Neng. Ada yang bisa Bapak bantu?” jawabnya bersahabat.

“Kalau mau daftar mahasiswa baru di mana ya Pak?”

“Dari sini Neng lurus aja, nanti di depan belok kanan terus naik ke lantai 2 cari ruang akademik. Di situ Neng bisa daftar,”

“Begitu ya, terima kasih ya, Pak.”

“Sama-sama, Neng.”

Aku bergegas menuju tempat yang sudah diberi tahu oleh pak satpam yang baik hati tersebut. Hiruk pikuk calon mahasiswa mengantri untuk mendaftarkan diri di tempat ini, dan aku adalah salah satu dari mereka. Lelah rasanya berdiri berjam-jam demi sebuah pendaftaran, tapi tahukah apa yang kudapatkan?

“Saya mau daftar, Pak,” celotehku ketika tiba juga di tempat pendaftaran.

“Lulusan tahun berapa?”

“2008, Pak,”

“Wah sudah tahun ke empat setelah kelulusan, maaf Dik tidak bisa daftar.”
Seketika runtuh harapku untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda, hamper saja air mataku jatuh berceceran. Kucoba menegarkan diri.

“Begitu ya, terima kasih ya, Pak,” ujarku hendak membalikkan badan.

“Dik, datang minggu depan saja untuk tes PCMB. Jalur itu tidak ada batasan umur, jika SPMB ini menggunakan batas umur,” terang bapak penerima pendaftaran.

“Terima kasih ya, Pak untuk informasinya,” kemudian aku berlalu dari tempat itu.
Alhamdulillah, masih ada kesempatan untuk realisasikan mimpi. Semoga tercapai ya Allah. Gumamku dalam hati.
***
Proses demi proses pendaftaran kulalui sendiri tanpa siapapun mendampingi, sempat terbesit rasa iri namun kakak bilang ini adalah proses belajar mandiri. Kakak ingin aku tak selalu bergantung dan merepotkan bapak dan ibu.

Tes penyaringan dilakukan empat hari dengan materi yang kebanyakan tentang bahasa arab di dalamnya. Aku tak pernah belajar tentang bahasa arab seperti ini karena dari SD hingga SMA aku sekolah umum, ragu mulai menyelimti diriku. Namun aku tak pernah lupa belajar, berdoa dan selalu meminta restu ibu untuk kelancaran ujian penyaringan ini.
***
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur PCMB digelar hari ini di papan pengumuman. Ramai para calon mahasiswa berdesakan untuk mencari nama mereka di sana begitupun dengan aku. Kucari namaku di jurusan PAI dan Muamalat tetap tak kutemukan. Namun aku terperangah ketika namaku tertera di jurusan PGMI.

“Alhamdulillah,” ucapku lirih. Ternyata Allah memberiku jalan menjadi seorang guru MI. Di sinilah mimpi ku mulai.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Singkat Tentang Pengorbanan ibu, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Singkat Tentang Pengorbanan ibu. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Leave a Comment