Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

8 Contoh Cerpen Pengalaman Hidup Lucu dan Menarik

Contoh Cerpen Pengalaman – Berikut adalah kumpulan cerpen pengalaman pribadi yang kami tulis secara singkat. Semua cerpen yang ditulis disini bersumber dari berbagai teman kami sesama penulis pemula. Semoga dapat menghibur anda.

Sebelum membaca berbagai contoh cerpen pengalaman, kami mempunyai sebuah video seorang siswa yang menceritakan pengalaman yang menarik. Bahasa yang digunakan anak ini sungguh selama video sungguh bikin dag-dig dug.

Contoh Cerpen Pengalaman

Judul: Alamakk
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Pengalaman

Tak ada yang tahu bagaimana akhir dari sebuah kisah cinta. Tak seorang pun. Terkadang, kisah cinta bisa berakhir manis memadu. Namun, tak jarang pula berujung pada rasa pahit yang bersarang dan mengerak di hati para pencinta.
Sayangnya, kisah hubunganku dengan Fathan menepi pada sisi yang pahit.

***
Aku mengenalnya saat masih kuliah di kampus Islam di Surabaya. Meski kurus, pemuda itu memiliki wajah menyenangkan, pipi berlesung saat tersenyum, hidung mancung, dan tubuh tinggi. Sikapnya yang selalu ceria membuat siapa pun akan merasa nyaman jika berada di dekatnya.

Yang kuingat, setiap mengikuti mata kuliah dia akan memilih tempat duduk di tengah. Sekali pun tak pernah kulihat dia duduk di kursi barisan depan, tidak juga di bagian paling belakang.

“Saat kau duduk di barisan kursi depan, dosen akan menganggapmu mahasiswa yang rajin. Dan, itu beresiko kau akan ditanyai terus oleh dosen.” Ujarnya saat aku menanyakan kebiasaannya saat kuliah, “begitu pula saat kau terbiasa duduk di bangku paling belakang.

Dosen akan mengira kau mahasiswa yang malas dan tak serius mengikuti perkuliahannya. Dari situ dosen akan underestimate padamu. Jadi, lebih aman jika kau duduk di bangku tengah.” Sambungnya sembari tertawa.

“Darimana kau tahu itu semua, hah?” sahutku dengan nada meragukan argumennya.

Dia hanya mengendikkan bahu, “itu hanya pendapatku.”

“Sok tau.” Jawabku setengah ketus.

Fathan, namanya Fathan Rabbani. Hubunganku dengannya mulai dekat saat perkuliahan kami memasuki tahun kedua. Di atas kertas, dia bukan tergolong mahasiswa yang menonjol dalam hal akademik.

Namun, ada satu hal yang membuatku selalu emm… rindu padanya: Perhatian. Ya, dia tipe orang yang perhatian terutama kepada seseorang yang ‘tersampingkan’ dari pergaulan teman-teman kebanyakan.

Suatu ketika di dalam kelas, saat mata kuliah terakhir pada hari itu usai, tak sengaja kudapati Fathan memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado kepada Andin, mahasiswi bertubuh gemuk, berparas biasa, dan jarang terlihat bergaul dengan teman yang lain.

Sepengetahuanku selama kuliah, tak ada seorang laki-laki pun yang mendekatinya. Kalaupun ada, itu hanya karena laki-laki tersebut ingin berkelompok dengan Andin dalam tugas mata kuliah Manajemen. Itu saja. Tugas selesai, habis perkara. Kuakui Andin adalah mahasiswi yang rajin.

Waktu itu aku sempat berfikir, mungkin Fathan juga berpura-pura baik kepada Andin, hanya karena dia ingin berkelompok dengan mahasiswi tersebut dalam mengerjakan tugas kuliah. Kalau ada maunya, semua laki-laki akan bermanis-manis seperti itu, gumamku dalam hati.

“Nay, engkau akan merasa hidup ini sangat berarti, jika ada seseorang yang memperhatikanmu.” Kata Fathan kepadaku setelah aku men-ciey-ciey dirinya sehabis dia memberikan kotak tersebut kepada Andin, tentu saja ketika Andin sudah beranjak dari sana.

“Kau tahu, Nay? Aku memperhatikan Andin sebab kulihat dialah salah seorang yang terkucil dari pergaulan teman kampus lainnya.” Sambung Fathan dengan mengutipkan kedua jari telunjuknya saat mengatakan kalimat: Terkucil.

“Emm, menurutku, kau berlaku sok baik hanya karena ingin berada satu kelompok dengan Andin pada tugas mata kuliah Pengantar Psikologi semester ini. Iya, kan?” Aku memonyongkan bibir, sedang yang kuajak bicara tertawa kecil sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.

“Kau mungkin lupa kalau hari ini Andin berulang tahun.”

Darahku kontan terkesiap kala mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Fathan barusan. Aku menepuk dahi, astaga, bagaimana mungkin aku lupa kalau hari ini Andin sedang berulang tahun. Tiba-tiba saja aku jadi merasa bersalah kepada Andin, dan iri kepada Fathan.

Merasa bersalah karena aku melupakan hari ulang tahun teman sekelas. Iri, sebab mengapa seorang laki-laki seperti Fathan masih sempat mengingat hari jadi salah seorang teman –yang menurut orang lain, tak punya fisik yang menarik- dan memberinya kado, sedangkan aku tidak.

“Mengenai dugaanmu barusan, apa itu tadi?” Fathan menahan kalimatnya sebentar, seolah mencoba mengingat sesuatu. “Ah, iya, kau menduga kalau aku hanya berpura-pura perhatian karena aku ingin satu kelompok dengan Andin mengerjakan tugas Pengantar Psikologi.

Sebaiknya kau pikir ulang dugaanmu itu, Nay. Bukankah untuk tugas tersebut, aku memilih satu kelompok denganmu, Naylaku?”

Lagi. Aku terkesiap lagi mendengar ucapan yang meluncur dari bibirnya. Aku merasa jantung ini berdetak lebih kencang. Ah, dia bilang apa tadi? Nayla-ku? Apa aku tak salah dengar?

Persendianku lemas. Dan, kini aku butuh sandaran tubuh.

***
“Aku ingin menikahimu, Nay.” Itu yang diucapkannya padaku, sehari setelah kami lulus program sarjana.

Aku termangu mendengar kalimat tersebut. Tak ada kesan bercanda yang kutangkap dari raut wajahnya. Fathan menyisir rambut dengan jemari tangannya sendiri, berusaha menutupi gejolak yang mendebur di hatinya.

“Emm…” Andai Fathan tahu kalau jantungku pun ber-dag-dig-dug senang.

Di semester lima, aku dan Fathan menjalin hubungan ‘lebih dari seorang teman’. Fathan menyampaikan rasa cintanya kepadaku saat kami melakukan praktek lapangan. Hari-hari setelah itu, aku merasa hidup ini sangat indah, berwarna dan penuh semangat. Kami menjalin hubungan sewajarnya: Keluar makan setiap sabtu malam sebulan sekali, karena katanya, dia harus menabung dulu untuk mengajakku makan. Dia lelaki yang sangat sopan dalam memperlakukanku. Ah, rasanya hati ini semakin cinta padanya.

“Baiklah, biar kusampaikan kepada kedua orang tuaku dulu, ya?” Ujarku berusaha menutupi semu di pipi, Fathan mengangguk.

Dan, di malam hari itu pula, aku menyambungsampaikan hasrat Fathan untuk meminangku kepada kedua orang tuaku.

“Apa dia serius denganmu, Nak?” Ayah menanyaiku, aku menganggukkan kepala.
Ayah dan Ibuku pernah bertemu Fathan sebelumnya, masing-masing dari mereka kuperkenalkan saat wisuda kemarin. Jika dilihat dari air muka kedua orang tuaku saat pertama kali bertemu Fathan, sepertinya mereka akan menyetujui hubungan kami.

“Kau mencintainya?” Tanya Ayah lagi, Ibu yang duduk di samping Ayah menatapku sambil menyungging senyum. Seperti mengisyaratkan padaku bahwa semua rencana ini akan berjalan mulus.

“Iya, Yah.” Jawabku.

“Baiklah,” Ayah berkata mantab, membuat hatiku langsung berbunga-bunga. “Ayah boleh minta tanggal lahirnya?” sambungnya.

Sejenak waktu aku sempat bingung mengapa Ayah meminta tanggal lahir Fathan. Namun, karena tak berminat memikirkan hal tersebut terlalu panjang, maka kusebutkanlah tanggal lahir Fathan secara lengkap kepada Ayah.

Dan tanpa kusadari sebelumnya, dari sinilah semua petaka itu bermula.
***

Sudah mafhum bahwa masyarakat di tanah Jawa mengenal tradisi Itung Weton, atau perhitungan hari lahir sebelum menjodohkan dan menikahkan anak mereka. Itung Weton ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada keserasian kedua calon pengantin yang mengacu pada perhitungan hari lahir keduanya. Hasil dari penghitungan ini akan dikembalikan pada rumusan di buku Primbon. Jika hasil hitungan baik, maka kedua orang tua akan setuju. Sebaliknya, kedua keluarga ‘wajib’ membatalkan pernikahan jika hitungan berakhir buruk. Ayahku termasuk orang yang sangat berpegang teguh pada adat Itung Weton ini.

“Kau tidak bisa meneruskan hubungan ini, Nak.” Ayah menggelengkan kepalanya sembari melepaskan kacamata yang menggantung di tulang hidungnya. Tangan kanan Ayah memegang bolpoin yang tadi digunakannya untuk mencorat-coret kertas, yang aku sendiri tak tahu apa arti coretan tersebut. Di atas meja, terdapat buku almanak kalender abadi 4000 tahun, dan buku primbon berjudul ‘Ilmu Kaweruh Jendra Hayuningrat’.

“Maksud Ayah?” Tanyaku tak paham. Meski hidup di tanah Jawa, aku sama sekali tak tertarik mempelajari tradisi-tradisi leluhur yang kadang menurutku tak masuk akal tersebut.

“Hasil hitungan tanggal lahir kalian berarkhir Pati. Dan, jika diteruskan menikah, salah satu dari kalian akan hidup sengsara, bahkan mati.” Jawab Ayah tegas.

Entahlah, tetiba emosiku meluap. “Ayah, semua itu hanya mitos. Kenapa di jaman sekarang Ayah masih percaya saja dengan hal yang begituan?” Ah, aku tak pernah bicara sekeras ini kepada Ayah sebelumnya.

“Ini adat yang turun-temurun kami pegang, Nak. Ayah tidak mau nantinya kau celaka.” Volume suara Ayah juga ikut meninggi mengimbangi suaraku.

“Tapi, aku mencintainya, Ayah. Kami saling mencin…”

“Cukup, Nay. Kau jangan membantah Ayah. Jika kau nekat meneruskan hubungan kalian, jangan harap Ayah akan menganggapmu anak lagi.” Ayah memotong kalimatku. Wajahnya mengeras, sorot matanya tajam mengerikan. Ibu mengelus-elus punggung Ayah, berusaha mencairkan keadaan.

“Ayah jahat.” Aku berlari dengan berlinangan air mata menuju kamar tidur.
Kenapa? Kenapa kisah hubunganku dengan Fathan harus terhenti pada adat konyol ini? Kenapa kebahagiaan kami harus terenggut hanya oleh kalender dan buku primbon murahan itu? Apa salah kami? Kami tidak pernah meminta kapan kami dilahirkan, bukan? Di dalam kamar aku terus menangis, meluapkan kemarahan yang menyeruak dari dalam hati.

“Nay, buka pintunya, Nak.” Ibuku memanggil dari balik pintu yang kukunci rapat. Aku terus menangis tak menyahuti. “Nay, kami tahu perasaanmu. Tapi semua yang kami yang lakukan ini untuk kebahagiaanmu juga.” Imbuh Ibu.

Tidak. Mereka tidak tau bagaimana perasaanku yang saat ini hancur lebih dari berkeping-keping. Kenapa Ayah harus percaya dengan hitungan basi itu? Itu semua mitos dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Batinku terus bergema.

***
“Kau yakin dengan keputusan ini, Nay?” Tanya Fathan padaku yang sedari tadi hanya tergugu di hadapannya. Bagaimana aku harus menjawabnya? Siapapun, tolong bantu aku untuk menjawab pertanyaan ini.

Aku mencintai Fathan, tapi aku juga tak bisa menentang kehendak kedua orang tua. Aku hanya seorang perempuan lemah, yang terkodrat untuk mematuhi perintah Ayah dan Ibu. Kini aku sudah pasrah pada kenyataan.

Dan, meski dengan hati bak tersayat belati, aku memutuskan untuk menyudahi hubunganku dengan Fathan.

Kalian salah besar jika menganggapku tak melakukan apa pun untuk mempertahankan hubungan ini. Berbagai cara sudah kulakukan guna merayu Ayah agar dia bisa merestui hubunganku dengan Fathan. Bahkan sempat aku mogok makan, dan tak keluar dari kamar seharian. Namun, Ayah tetap bergeming. Sikapnya yang berpegang teguh pada tradisi sangat kuat bagai akar pohon yang menacap ratusan tahun di dalam tanah. Pernah juga Fathan memberanikan diri datang ke rumah untuk meyakinkan kedua orang tuaku. Lalu apa hasilnya? Nisbi. Lelaki yang kucintai itu pulang dengan wajah tertunduk.

Tangan kanan Fathan menyentuh daguku, lalu mengangkatnya pelan, hingga wajahku yang basah oleh air mata ini sempurna menatap wajahnya. Ah, mata itu. Mata yang selalu ceria itu, kini berubah sayu.

“Tak apa, Nay, tak apa. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku pun sudah berusaha meyakinkan kedua orang tuamu, tapi kepercayaan mereka terhadap tradisi itu tak goyah sedikitpun. Tak apa, Nay,” Fathan menarik nafas sejenak, berancang-ancang mengucapkan kata terakhir, “mulai sekarang kita putus.”

***
Dua tahun berlalu…

Ponselku bergetar dua bib tanda SMS masuk tatkala aku hendak berangkat kerja. Dan alangkah terkejutnya diri ini, saat mengetahui bahwa Fathan-lah pengirim SMS tersebut:

“Nay, bulan depan aku akan menikah dengan Andin.”

Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi

Judul: Gara-Gara Tato
Karya : Hidayah
  Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

Siang menjelang sore, Toib pulang menuju Rumahnya, Setelah lama pilah-pilih dan menghabiskan waktu di Toko Buku langganannya …

Toib berjalan dengan santainya, tanpa tau di belakang , dua orang pereman sedari tadi telah mengawasi perjalanannya yang masih agak jauh..

Tak sedikitpun di benaknya merasa kalau ada yang mengikuti, tetap cool dan santai..

“nyawa atau uang’!!! Gertakan pereman, yang tiba-tiba mengancam sebilah pisau ke arah perutnya.

“atau bang!!, jawaban toib dengan cepat, tegas campur kaget.

“lo jangan main-main ma gue” gertak pereman, nyinsing lengan, pamer tato bergambar Sponge Bob,

Melihat tato itu,Toib tersenyum spontan, dengan takut yang mulai berkurang.

“Wajah seram, hati Sponge Bob ya Bang” tiba-tiba Toib bergumam.

“Terus lo mau apa?? “nantang” nyingsing lengan kiri, tunjukin tato yang lebih woow bergambar Naruto,

ga’ sih Bang,. Tapi saya lebih ngeri dan lebih takut lihat panu, Toib menegaskan

pereman melongo, mendadak mikir, ia juga ya, dalam hati .

Dan Toib ga mau menyia-nyiakan waktu melongo itu , tanpa pamit ,Toib pun kabur..

“Bos… Bos” sasaran kita kabur… , ucap teman pereman yang sedari tadi menyaksikan gurauan Toib,

”ach biari aja lah , cari sasaran yang lain aja, dia takutnya ma panu, bukan Tato.

Baca juga : Contoh Pengalaman Pribadi Yang Bikin Deg-Degan

Contoh Cerpen Pengalaman Liburan

Judul : Salah Paham
Karya : Cunul
Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

 

Sari, mahasiswa dari Semarang yang kini berkuliah di Tegal baru saja sampai di kos-kosan. Setelah menempatkan barang-barang di dalam kamar, ia memutuskan untuk pergi ke warung yang letaknya tepat di depan kos.

“Ibu, tumbas susu sachet.” (Ibu, beli susu sachet) Sari meminta sopan.

“Laka,nok.” (Gak ada, Dik).

Sari terdiam di sana, terpaku seolah menanti sesuatu.

Ibu penjaga warung jadi bingung.
“Arep golet apa maning?” (Mau cari apa lagi?).

“Susu sachet.”

“LAKA, NOK!!!” tanggap ibu penjaga warung dengan geregetan.

Sari masih terdiam, tapi sekarang sambil garuk-garuk kepala.
Ibu penjaga warung memperhatikan Sari dengan seksama. Saat itu ia menyadari,
“Oh … maksud saya, susu sachetnya TIDAK ADA, dek …”

“Ooh … gak ada ya, Bu.” Sari manggut-manggut sembari beringsut pergi.

Contoh Cerpen Pengalaman Hidup

Judul : Senteleng
Karya : Elfi Ratna Sari

Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

Sebagai gadis belia imut tiada tara dan ketua Ikatan Pengurus Menteri Seluler (Ingus Meler), aku mematuhi perintah bos. Kemarin, sebelum pulang ke Jogja, beliau menyuruhku ke rumah mengambil senteleng untuk dibungkusi di kantin. Di depan rumah, terlihat pagar tertutup dengan gembok menempel, tapi pintu rumah terbuka. Sudah pasti adiknya ibunya mamanya Lita yang ada di dalam.

“Budhe!” teriakku dengan nada Goyang Dumang.

Tapi sudah pasti takkan dibukakan, karena pendengaran budhe terganggu. Kuputar otak simetris 360 derajat. Baru ingat, kalau diri ini manusia multi talenta. Mungkin hobby lama terpendamku baiknya dipakai sekarang.

“Manjat pagar,” ucapku pada kresek yang diam tanpa kata.

OMG hello! Pantaskah muslimah cantik ber’mexy’ putih ini manjat? Tapi tiada cara lain. Panjatan pertama …. Ngiet … pagar terbuka.

“Sayur lodeh! Ternyata dari tadi gembok cuma nempel?”

Masuklah aku dengan bibir manyun.

“Ada apa, Fi?” tanya budhe.

“Disuruh ngambil senteleng untuk dibungkusi, Budhe.”

“Ndak usah. Di sini sudah banyak orang. Kamu balik ke kantin saja.”

Aku hanya melongo, lantas keluar. Tak sengaja melihat tembok taman.

“Ya Allah, lewat situ ‘kan bisa? Secara tubuhku ramping bukan main.”

NB:
Senteleng: Makanan yang terbuat dari nanas muda dengan mi putih
Lita: Anak bosku
Ndak: Tidak
FTS ditambah-tambahi

Contoh Cerpen Pengalaman

Judul : Antara Lina dan Linu
Karya : Oleh kiky Ardianti

Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

Dua sahabat yang sangat lucu, mereka adalah Lina dan Linu. Kegemaran mereka ialah lomba lari dan makan permen. Siang itu, mereka ngobrol sambil makan permen dan tanpa sepengetahuan Linu, Lina meletakkan sampah-sampah permen di dekat Linu.

“Hey linu, banyaknya makan permen, kamu lihat tu sampahnya banyak sekali”

“Haha … banyakan kamu lah, tuh lihat ana saja makan permen sampahnya tidak dimakan, lah kamu habis dilahab juga sampah permennya”, jawab Linu sambil tertawa.

Niat ana kan ngerjai kok jadi ana yang kena (tepuk jidat si Lina), oke ana tantang kamu lomba lari deh, gaya si Lina.
Oke siapa takut, jawab Linu.

1 2 3 …

“Hey, kamu kok lama larinya? dulu selalu juara, pasti kali ini ana juaranya”,tanya Lina.

“Dasar, dulu kan ana masih kurus jadi ana yang juara lah sekarang ana mah uda segedek gajah, ah curang lu.. (jawab Linu kesal)

Contoh Cerpen Pengalaman Lucu

Judul: En Ha
Karya : Solusi konyol
Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

 

Di sebuah BANK. Setelah mengambil nomer antrian Ipah pun duduk menunggu panggilan. Cukup lama menunggu akhirnya…. disebutlah nomer antriannya, lalu Ia bergegas ke tempat teller.

Teller: “Selamat siang Mbak, silahkan. Ada yang bisa Kami bantu…. 🙂 ?”

Ipah: “Ini Mbak, mau ambil tabungan”
(Menyerahkan slip penarikan dan buku tabungan)

Teller: “Iya Mbak, silahkan ditunggu sebentar ya 🙂

Ipah: “iya Mbak 🙂
(Sesaat kemudian)

Teller: ” Maaf kami memastikan, ini mau menarik uang sejumlah Rp 200.000 benar Mbak?”

Ipah: “Iya benar Rp 200.000 ”

Teller: “Ini Mbak uangnya, silahkan di hitung dulu! 🙂

Ipah: “Sudah pas Mbak uangnya, engggggg…maaf Mbak, kalau sekalian Saya mau kirim uang bisa kan?”

Teller: “Bisa Mbak, silahkan di isi dulu form nya ya. 🙂 (menghulurkan form)

Ipah: “Ini sudah Saya isi Mbak.” (mengembalikan form beserta uang Rp 200.000)
Lalu….

Teller: “Maaf, silahkan isi form lagi mbak, sepertinya Mbak salah menuliskan Nomer rekening tujuannya.”

Ipah: (mengechek) “Nggak salah, udah benar kok Rp 200.000 Saya kirim ke Nomer itu”

Teller: “Tolong Mbak chek lagi…. Mbak ini mau kirim uang kan….?”

Ipah: “Iya”

Teller: “Tapi, yang Mbak tulis tadi Nomer rekening Mbak sendiri”

Ipah: “Memang Saya mau memasukkan uang ke rekening Saya itu Mbak”

Teller :”Maksudnya…” (mulai jengkel)

Ipah: “Saya mau nabung Mbak, tapi belum punya uang. Jadi…Saya ambil uang tabungan untuk nabung”

Teller: @@@ggg®®$$$$$***

Contoh Cerpen Pengalaman Horor

Judul : Teman Dua Alam
Karya : Shinta Wahyu

Contoh Cerpen Pengalaman Lucu Fiksi Liburan, pribadi liburan, lucu, diri sendiri, persahabatan, hidup, sekolah

Azis, Julian dan Wiro berlari terbirit-birit. Tujuan mereka untuk ‘berburu hantu’ kini berbalik jadi ‘diburu hantu’. Hantu perempuan berseragam SMA dengan tubuh berdarah-darah dan rambut terurai menutupi wajah itu semakin mendekat.

Azis komat-kamit melafalkan doa semampunya. Sedangkan Julian sudah hampir lemas.

“Aha!” Seru Wiro seperti sedang menemukan ide namun segera diringkus oleh dua temannya.

“Diem! Nanti ketahuan!” Julian melotot. Wiro tak peduli, malah berdiri dari tempat persembunyiannya. Berdiri lima meter membelakangi sang hantu. Dan …

Ckrik …!
Dia ‘selfie’.

“Sekalian tag ef-bi aku ya, Bang! Abang add dulu akun aku -Diana She hanchuberseragamsma- ntar langsung aku konfirmasi!” Pesan si hantu dengan nada ceria.

“Yang mana nih? Banyak akun yang sama.” Tanya Wiro

Si hantu mendekat dan ikut melihat sambil mengeluarkan tab yang dikempit di ketiak. Mereka tampak akrab. Sedang Julian dan Azis sudah pingsan sejak Wiro selfie.

Contoh Cerpen Pengalaman

Judul: Kotak Ajaib
Karya : ‎Jajang Faris SutrisnaPr

contoh-cerpen-pendek

Kakak memberikanku sebuah kotak berwarna biru. Kakak pernah berujar, “Dik, simpanlah uangmu di kotak itu! Jika sudah sebulan, bukalah. Maka kau akan mendapati uangmu berlipat ganda menjadi dua kali lipat dari yang kau simpan.”

Karena penasaran, kucoba menyimpan uang yang jumlahnya mencapai 100 ribu, setelah sebulan, kotak itu kubuka, benar kata kakak, uangnya berlipat ganda menjadi dua kali lipat. Kudapati 2 lembar uang 200 ribuan.

“Besok aku harus menyimpan uang lebih banyak lagi!” ujarku.

Sebulan telah berlalu, aku sudah tak sabar ingin mengambil uang yang kusimpan di kotak itu. Menurutku sekarang jumlahnya pasti jadi 2 juta. Kotak itu kubuka. Mataku membelalak. Saat kulihat tak ada uang di kotak itu. Tapi, ada secarik kertas. Di kertas itu tertulis, ‘Maaf, Anda belum beruntung. Coba lagi!’

Contoh Cerpen Pengalaman

Judul : Wajah putih di malam hari
Karya : ‎Triwahyuni
Contoh Cerpen Pengalaman

Yang nama nya sekolah asrama pasti ujung-ujung nya selalu menyimpan cerita horor entah itu di buat-buat atau kah memang benar ada nya.

Pernah teman ku bercerita suatu malam, kira-kira jam 2 mlm, ia kebelet ingin buang air kecil, pergilah ia ke kamar mandi, di lihat kamar mandi kok sepi amaat yak, mana lampu nya sudah redup, kamar mandi berjejer berhadapan dengan pintu-pintu yang terbuka lebar, ya iyalah kalau ada orang di dalam pasti tertutup itu pintu hehe ups kembali ke cerita.

Karena sudah terasa tidak tahan masuk lah ia ke kamar mandi yang paling dekat dengan nya sambil menutup pintu, setelah selesai mau beranjak keluar tiba-tiba ada suara ketukan tok-tok-tok di pintu kamar mandi yang paling ujung, ciutlah nyali nya seketika.

Berbekal ilmu yang di dapat, di baca nya ayat kursi tanpa menghiraukan ia saat ini masih berada di kamar mandi, komat kamit bibir nya bergerak sambil mengambil ancang-ancang langkah seribu, selesai ayat kursi di baca, buka pintu…. kabuuuuuur dilihat nya tidak ada siapa-siapa disitu sambil terus ia berlari hingga sampai ke pintu kamar nya. Gegerlah penghuni asramah saat itu

Ada lagi cerita di tempat para santri biasa ambil wudhu atau untuk mencuci pakaian, kata nya sih di situ ada yang pernah lihat bayangan sekilas, tapi tidak ada orangnya, aku toh belum begitu percaya sebelum melihat nya sendiri pikir ku saat itu.

Jadi santri itu segudang kegiatan nya di mulai shalat lail berjamaah di mesjid hingga waktu subuh, selesai subuh ada acara hapalan vocabulary bahasa inggis dan arab yang biasa di sebut mufrodat, kebayang kan gimana ngantuk nya untuk santri pemula saat itu, tapi sebenar nya banyak sekali manfaat nya.

Setelah itu siap-siap untuk berangkat ke sekolah, sekolah pulang jam 12.00 siang, sampai asrama siap-siap shalat dzuhur berjamaah di mesjid, para santriwati sangat di wajibkan untuk shalat berjamaah di mesjid, hingga di struktur organisasi santriwati terdapat bakem alias bagian keamanan yang anggotanya juga para santriwati untuk mengingat kan seluruh santriwati untuk shalat berjamaah di mesjid.

Setelah shalat dzuhur istirahat sejenak memejamkan mata hingga waktu ashar, setelah shalat ashar ada kegiatan extra menurut peminatan, ada marching band, tapak suci, theater dan lain-lain hingga waktu untuk mncuci baju pun agak tersita.

sebenar nya di waktu mandi pun bisa sekalian mencuci baju tapi kasihan yang sudah mengantri untuk mendaptkan jatah air mandi jadi terpaksa harus menunda acara tersebut hehe.

Singkat kata malam ini jam 21.00 setelah sebelum nya aku nyetor hapalan ke ustadzah, waktu nya mencuci baju dengan di temani teman satu asrama yang juga ikut-ikutan mencuci baju.

“Yuk lisa jadi kan nyuci baju nya?” Tanyaku

“Iya ini sudah siap, yuk ah cap cuuus” jawab lisa sambil jalan duluan meninggalkan ku, loooh jadi dia duluan kataku dalam hati.

Dilihat tempat mencuci sudah sepi, tidak ada lagi santri yang terlihat, cuma pohon-pohon yang terlihat di samping pondokan di batasi dengan tembok besar. Aku dan lisa mulai mencuci, disela-sela mencuci

“Lis kenapa sepi banget yaa? Sambil kepalaku nengok kanan kiri, bulu kuduk ku agak berdiri, aku pun membaca ayat kursi

“Tya ente takut?” Tanya nya

Pake nanya lagi, sahutku dalam hati. Akupun berusaha cuek dan mempercepat cucian ku.

Malam semakin larut, udara dingin semakin terasa, sampai kulihat dari kejauhan ada seorang wanita dengan wajah seluruh nya putih memakai baju terusan putih menuju ke arah ku berada, tanpa basa-basi ku teriak….

“Aaaaaaaaaa lisaa” teriak ku sambil menubruk tubuh temanku,sambil mataku kututup dengan kedua tanganku

“Kenapa tiii, belum sempat dia meneruskan kata-kata nya,dia juga melihat kearah wanita itu dan juga menutup mata nya.

Kita berdua jongkok di pojokan sambil menutup mata, saat itu pikiran ku di penuhi ketakutan, tidak beberapa lama…

“Loh De-de-de kenapa? Tnya nya sambil wanita itu memegang tanganku, pelan-pelan kulihat wajah nya, walahhhh gubrakkk ternyata itu kakak kelas ku yang memakai masker, seketika itu kita tertawa berdua setelah temanku menyadari kalau itu manusia tulen hehehe….

Selesai, mohon kritik dan saran nya, terima kasih

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai contoh cerpen pengalaman, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang contoh cerpen pengalaman. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Tinggalkan komentar