Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat

Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat Ini Akan Menambah Pengalaman Hidupmu

Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat – Setiap orang mempunyai pengalaman pribadi masing-masing, pengalaman lucu, pengalaman sedih, pengalaman saat liburan ataupun pengalaman saat di sekolah. Di artikel ini semoga anda dapat bahagia..#Hahaha


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


contoh-cerpen-pengalaman-pribadi-singkat
http://syiahindonesia.net/

Judul : Damai yang Tertunda
Karya : Fitrah Ilhami

Ragu-ragu, Joko mendekati istrinya yang sedang duduk di sofa sembari membaca majalah. Lelaki itu ingin berdamai dengan sang istri setelah tiga hari ini tidak bertegur sapa. Ya, tiga hari yang lalu mereka terlibat kesalahpahaman hingga menyebabkan pertengkaran ala pasangan rumah tangga. Joko ingat pesan Nabi saw, bahwa tak diperkenankan suami istri saling marah dan tak bertegur sapa hingga lebih dari tiga hari.

“Dek,” ujar Joko pada istrinya dengan memasang wajah sayu. “Mas mau minta maaf. Aku sadar kalau aku yang salah,” sambungnya tulus.

Mendengar pengakuan maaf yang begitu tulus itu, sang istri segera meletakkan majalahnya di atas meja. Ah, sebenarnya perempuan itu juga ingin sekali berdamai dengan Joko, tapi mungkin karena lebih mendahulukan ego hingga membuatnya segan untuk menjadi orang yang pertama meminta maaf.

“Maukah kau memaafkanku, Dek?” ulang Joko.

Yang ditanyai mengangguk lemah. “Iya, Mas. Aku juga minta maaf, ya? Sebenarnya aku pun salah.”

“Tidak, Dek,” Joko menggeleng. “Kamu tidak salah sama sekali. Akulah yang salah.”

“Tidak, Mas. Akulah yang salah, hingga membuat hubungan kita keruh seperti ini,” Timpal sang istri.

“Tidak, Dek. Aku yang salah, kamu tidak.”

“Dengarkan aku, Mas. Aku yang salah.”

“Gak bisa. Pokoknya aku yang salah.” Joko mulai gemas.

“Aku …” Istrinya juga ikut gemas.

“Kamu gak boleh membantah lagi. Aku yang salah. Titik!” ujar Joko, emosi.

“Yang salah itu aku, Mas! Mas ini kok selalu gak mau mengalah sama istri sih?” sahut istrinya juga emosi.

“Kamu itu yang gak pernah mau ngertiin aku. Dibilangin aku yang salah, aku yang salah masih saja ngotot.” Joko naik darah.

“Ah, sebel aku sama Mas,” istri Joko ngambek. “Aku gak mau ngomong lagi sama Mas.”

“Ya sudah kalau begitu. Terserah.” Timpal Joko sembari keluar rumah.

Yah, gak jadi deh damainya.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


contoh-cerpen-pengalaman-pribadi-singkat
Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat

Judul : Pernak Pernik Pernikahan
Karya : Fitrah Ilhami (By : Milie Holmez)

Iseng buka file-file di laptop. Eh, kok nemu tulisan istriku yang satu ini. Kalau dilihat dari isinya, sepertinya tulisan ini dibuat saat dia sedang marah padaku, entah perihal apa? Aku sih menduga dia marah sebab melihatku terlalu banyak mengupil di sembarang tempat, entahlah. Ya, daripada file ini dipenuhi sarang laba-laba, karena saking lamanya didiemin di laptop, ku-share saja di facebook. Mudah-mudahan ada manfaat …

***

Dahulu, bayangan pernikahan seolah menjadi cerita indah sepanjang masa. Menikah, berarti siap mempertemukan diri pada kebahagiaan tak berbatas. Dan menikah dengan orang yang dicintai adalah anugerah tanpa cela. Segala pernik pernikahan adalah episode paling hebat dalam hidup.

Tetapi, tak dapat dipungkiri, memasuki dunia baru bersama seorang laki-laki yang tidak begitu dikenal menjadi tantangan tersendiri buatku. Masa penjajakan setelah akad menjadi episode yang sangat berat yang terpaksa wajib kulalui. Bagaimana tidak, ini bukan lagi persoalan pacaran, yang begitu ada hal-hal yang tidak sesuai di hati, langsung say good bye. Putus. Penikahan adalah persoalan lain. Nikah merupakan perjanjian dengan Allah, juga ribuan malaikatnya. Perjanjian dengan wali dan saksi yang hadir dalam akad, dan perjanjian dengan hati yang begitu sakral.

Maka, ketika sikap pasangan tak sesuai dengan hati, atau kriteria pasangan sangat jauh dari yang diharapkan, tak boleh ada keputusan yang gegabah untuk mengakhiri semua. Karena, pilihan sudah terlanjur kita genggam. Fokuskan melihat kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Lihatlah kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan, serta tataplah pengorbanan-pengorbanan yang telah dia perjuangkan.

Tak pernah terpungkiri janji-Nya yang mengatakan, “Laki-laki yang baik untuk perempuan baik-baik”, begitupun sebaliknya. Aku merasa bahwa dialah yang pantas untukku. Aku merasa bahwa Allah memilihkan dia karena memang dia yang akan dapat melengkapi kekurangan-kekuranganku. Dan dialah yang terbaik menurut-Nya. Percaya saja, bahwa Dia tak mungkin memilihkan sesuatu yang buruk untuk hamba-Nya.

Aku memilihnya dengan istikhoroh. Dia pun memilihku lewat istikhoroh. Dan mungkin namaku dan namanya sudah tertulis dalam lauh mahfudz sebagai jodoh, jauh sebelum kita berdua terlahir di dunia ini. Lelaki inilah yang akan menjadi ladang amalku menuju-Nya, pelengkap dien yang melengkapi pula nilai ibadahku pada-Nya.

Dan pada akhirnya, akan kuwakafkan seluruh hidupku untuk mengabdi pada Dia dan dia.

Allah, mohon bahagiakan kami … apa pun yang terjadi.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat
Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat

Judul : Surat Romantis untuk Istri
Karya : Fitrah Ilhami

Istriku …
Kuhaturkan terimakasih karena engkau telah menerimaku, seseorang pemuda kurus cungkring namun manis ini untuk menjadi suamimu.

Istriku …
Kuharap tetaplah mencintaiku seperti sekarang. Cinta yang bergejolak, yang malu-malu tapi mau, khas pengantin baru. Meski mungkin nanti akan banyak perbedaan yang akan kita hadapi; Engkau hobi traveling, aku hobi tidur; Kau menangis saat nonton film bioskop bertema romantis, aku ketiduran di tengah acara, karena terlena oleh ruang dingin ber-ac dalam bioskop. Maka, maklumilah perbedaan ini agar menjadi indah hidup kita.

Istriku …
Ingatkah kau dengan bunga melati yang bertabur di kamar kita malam itu? Aromanya begitu memanjakan indera penciuman kita. Lalu, kau tersenyum sambil berkata, “Semoga jalan cinta kita seharum bunga melati ini.”

Ya, ingat-ingatlah selalu semerbak harum bunga putih itu, istriku. Sebab mungkin suatu saat nanti, kamar kita tak lagi bertabur melati nan mewangi, melainkan akan terganti dengan bau pesing ompol bayi kita. Bahkan aku yakin saat tua nanti, kamar kita akan bau balsem dan minyak telon, sebab kita pasti suka kerokan karena sering masuk angin.

Istriku …
Teruslah sayang padaku meski ujian kehidupan terus mengganggu. Harga beras naik, cabai naik. Aku takut saat aku minta sarapan dengan nasi hangat, engkau malah menjawab, “Beras naik lagi, Bang. Abang makan nasi aking saja, ya?”

Aku juga takut saat minta dimasakkan makanan yang pedas, namun yang terhidang di meja makan malah masakan beraroma minyak angin. Dan saat aku protes, engkau malah menimpali, “Harga cabai juga mahal, Abang. Biar pedas, masakannya kukasih balsem. Sama-sama pedasnya, kok.”

Istriku …
Kelak ketika tua nanti, aku tak mungkin bisa menggendong sambil bercanda denganmu lagi. Karena tatkala waktu itu tiba, mungkin tulang ini akan keropos. Jangankan menggendong, digerakkan untuk mengupil pun rasanya tangan ini tak sanggup.

Istriku …
Pada akhirnya, aku akan tetap mencintaimu, seperti halnya kau mencintaiku apa adanya. Aku akan tetap terus menyayangimu, walau kelak setiap kali ingin memelukmu, aku akan selalu ingat pada sebuah pepatah: ‘Maksud hati ingin memeluk istri, namun apa daya tangan tak sampai.’

Sudah, kau tak perlu tersinggung, apalagi pakai diet ketat.

Makan yang banyak, ya, biar sehat.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat
http://weknowyourdreams.com

Judul : Catatan untuk Buah Hati
Karya : Fitrah Ilhami

Nak, jika nanti engkau benar-benar diijinkan-Nya terlahir di dunia ini, kuharap berbaktilah kepada Ibumu. Sebab, dialah yang pertama menyayangimu, lebih dari siapa pun.

Tahukah engkau, Nak? Saat mengetahui bahwa di dalam rahimnya bersemayam dirimu, wanita itu begitu bahagia. Setidaknya itulah yang kutangkap dari pancaran wajahnya yang merona. Ya, wanita itu adalah Ibumu. Seseorang yang bertekad akan membuatmu selalu bahagia, meski untuk mewujudkan itu, ia harus bertaruh dengan apa pun, termasuk nyawanya sendiri.

Segala macam sayur ia lahap habis, walau saat mengkonsumsinya ia harus menutup lubang hidungnya, guna menahan mual dan muntah yang mendera.

“Aku khawatir, perkembangan si kecil terganggu jika aku tak banyak makan sayur-sayuran.” Itulah yang dituturkan Ibumu padaku, saat kutanyakan mengapa ia mau makan sayur. Ya, sebelum ini wanita itu tak seberapa suka mengkonsumsi buah, apalagi sayur. Ibumu bahkan pernah bilang, bahwa ia tak pernah bisa makan nasi yang telah dicampur sayur. Ia tak pernah suka makan sayur. Namun, entah mengapa, hanya dengan mengingat bahwa ada engkau di dalam perutnya, wanita itu menjadi penyuka sayur. Kau ajaib, Nak.

Pernah aku menawari Ibumu untuk beli baju baru, namun ia menolak tegas. “Lebih baik uangnya buat beli susu hamil saja,” ujarnya.

Ah, ketahuilah, Nak, bila tak salah ingat, semenjak menikah aku hanya sekali membelikannya baju baru, dan itu terjadi tiga hari sebelum hari raya kemarin. Hanya baju itu yang menjadi andalannya untuk berpergian. Sampai sempat terpikiran olehku, apa kata teman-temannya jika kemana-mana ia hanya memakai baju itu?

Dan, hal itu benar-benar terjadi. Bukan, bukan soal baju. Melainkan sandal. Ah, sebagai lelaki, aku merasa hina saat mendapati ia diledek teman-temannya.

“Non, sandal japitmu kok aneh gitu?” begitu ia ditanya oleh salah satu temannya, yang lain menahan tawa di belakang punggung Ibumu.
Namun, Ibumu hanya tersenyum, “Ini sandal model terbaru, tau?”
Makin terbahaklah teman-temannya.

Adakah engkau tahu, Nak, sandal apa yang dipakai Ibumu saat itu? Yaitu sepasang sandal yang sebelah kanan berwarna merah, sedangkan sebelah kiri berwarna hitam polos. Masing-masing sandal berbeda merek dan ukuran. Sandal itu adalah sandal japitku yang tertukar saat sholat jum’at, dan Ibumu memaksa memakai sandal tersebut saat keluar rumah. Karena waktu kutawari untuk beli sandal baru, Ibumu hanya menutup matanya, lantas beberapa jeda kemudian ia kembali membuka kelopak matanya, dan berkata, “Uang untuk beli sandalnya, dibuat tambahan beli susunya si jabang bayi saja.”

Nak, andai kelak kau sempat membaca kisah ini, kuharap kau bisa mengerti mengapa aku menyuruhmu untuk berbakti dan sayang kepadanya sepenuh hati.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat
Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat

Judul : Surat untuk Isteriku
Karya : Fitrah Ilhami

Dear, Isteriku …

Menapaki jalan setapak berumah tangga ini, tak ada salahnya kita coba memaknai ibadah sholat yang setiap hari kita laksanakan, guna diterapkan di dalam kehidupan nyata. Semoga dengan memaknai sholat ini, laju bahtera rumah tangga kita menemukan sebenar-benar tujuan; Keridhoan-Nya.

  1. Awali sholat dengan bersuci.

Ya, seperti itulah yang seharusnya kita lakukan, mengawali setiap hari dengan mensucikan lahir maupun batin. Suci lahir seperti mandi, mencungkil upil yang berserakan di lubang hidung hingga bersih , merapikan bulu ketiak, mengambil belek yang bergelantungan di sudut mata, juga tak lupa mengusap liur yang menempel di pipi. Ini semua dilakukan agar tetangga atau teman kantor merasakan nyaman saat berinteraksi dengan kita.

Untuk batin pun demikian, kita diharuskan berprasangka baik kepada orang lain, tak silau lagi iri oleh kemewahan yang didapat tetangga, serta selalu berpikiran potisif, optimis, dan percaya diri. Tak ada alasan untuk tidak percaya diri setelah mensucikan lahiriah, bukan?

  1. Jangan lupakan niat.

Niat merupakan aspek paling penting dalam melakukan ibadah. Jika niat baik, maka baiklah segalanya. Berumah tangga pun demikian, niat awal sangat menentukan jalan ‘sampan kecil’ ini. Kalau engkau menikah denganku dengan tujuan harta, maka engkau akan menemukan kecewa, sebab aku tidak beruang. Ya, aku ini manusia bukan beruang.

Lain lagi jika engkau mau menerimaku karena ketampanan. Meskipun engkau akan benar-benar mendapatiku sebagai orang yang (luar biasa) tampan, namun ketampananku ini tak akan bertahan lama. Mungkin sepuluh tahun lagi kulit pipiku sudah mengendur, tulangku kropos, produksi upilku sudah tak bisa lagi dikendalikan, saking banyaknya, dan aku sudah tak setampan saat ini. Apakah engkau akan tetap bersamaku?

Maka, sewajibnyalah kita niatkan pernikahan ini hanya untuk mencari cinta Allah dan Rasulullah, dengan cara menggenapkan separuh agama-Nya, dan menjalankan sunnah.

  1. Agungkan Asma-Nya.

Bertakbir dalam memulai sholat, bermakna kita harus memulai segala sesuatu dengan memujij-Nya. Bahkan, jika aku sebagai imammu terlupa jumlah rokaat sholat, dianjurkan bagimu untuk mengingatkanku dengan mengucap ‘Subhanallah’, Maha Suci Allah. Ah, indah nian agama ini. Bahkan cara menegur pun diatur se-santun mungkin. Aku tak bisa membayangkan kalau tak aturan dalam menegur ini. Bisa jadi, waktu aku salah rokaat saat mengimamimu, engkau akan langsung menjitak kepalaku sambil berseru ketus, “Woy, salah rokaatnya, woy!”

  1. Jangan dahului gerakan imam.

Sholat seorang makmum seketika batal tatkala mendahului gerakan imam. Maka, janganlah engkau mendahului gerakanku, ya, Isteriku? Rukuklah, jika kau sudah melihat aku merukuk. Sujudlah, jika aku telah sempurna sujud.

Dan dalam kehidupan sehari-hari pun demikian, seandainya kita melihat gorengan di hadapan mata, maka jangan pernah mengambil gorengan itu sebelum aku (imammu) mengambil terlebih dahulu. Kan, engkau pasti tau kalau aku sangat suka sekali makan gorengan, apalagi yang baru masak. Hihihi. *Nyengir kuda*

***
Ah, isteriku. Ibarat melajukan kapal yang mengarungi luasnya samudra, seorang suami adalah nahkoda, sedang isteri adalah penunjuk arah dan pengingat tatkala nahkoda mengalami kealpaan. Maka janganlah pernah ragu untuk mengingatkanku andai suamimu ini khilaf.

Akhirnya, mari kita memohon semoga kasih sayang Allah selalu menyertai mahligai rumah tangga kita, menyirami atap pernikahan ini dengan air keberkahan, hingga kita bisa menua bersama dalam sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Oh, iya, kuharap anak kita yang engkau kandung itu, kelak menjadi anak yang baik, salih, cerdas, dan tidak meniru kelakuan Bapaknya, yang suka menulis hal-hal yang tak bermutu seperti tulisan ini.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat
.optionpit.com

Judul : USG
Karya : Fitrah Ilhami

Tadi sore aku mendampingi isteriku pergi ke dokter kandungan untuk melihat perkembangan kondisi bayi kami lewat USG (Ultrasonografi). Setelah mengantri beberapa saat, nama isteriku dipanggil untuk masuk ke ruangan USG. Kudampingi isteri masuk ruangan tersebut. Setelah basa-basi sejenak, sang dokter langsung menyentuhkan alat USG di perut isteriku. Dan pada detik itu pula, nampaklah di monitor, sesosok –yang menurutku– serupa dengan bayangan, sedang menggeliat.

“Nah, itu anak Anda, Bu,” tutur dokter kandungan pada isteriku. “Lihatlah, ia aktif sekali,” sambungnya.

Isteriku tersenyum penuh makna. Aku ikut menatap monitor tersebut dengan mata berkaca-kaca. Engkaukah itu, Anakku? Kataku dalam hati.

“Nah, yang ini tulang punggungnya,” santun sang dokter memberikan penjelasannya sambil menunjuk salah satu bagian di layar hitam putih tersebut. “Kalau yang ini jari kakinya.” Imbuh sang dokter yang kali ini menujuk bagian lain.

“Berarti sudah terbentuk susunan tubuhnya, ya, Dok?” tanya isteriku. Yang ditanyai mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau yang itu pasti wajahnya,” ucapku girang sambil merangsek maju ke arah monitor, lantas menunjuk salah satu bagian di layar tersebut.

Dokter itu tersenyum, mungkin geli mendapati tingkahku yang tiba-tiba saja menjadi heboh, mirip emak-emak rempong yang lagi nonton sinetron. Aku tak peduli, aku sedang bahagia karena sudah melihat wujud anakku, meski hanya lewat layar hitam putih.

“Wajahnya ganteng, ya, Dok? Mirip Bapaknya.” Celotehku membanggakan diri. Telunjukku masih menumbuk monitor. “Tuh, hidungnya terlihat mancung kayak aku.” Imbuhku bersemangat. Kali ini sang dokter sempurna tertawa medengar celotehanku.

USG pun berakhir…

Selepas USG, dokter kandungan tersebut memberitakan bahwa janin yang dikandung isteriku kini berusia empat bulan dan kondisinya sehat. Ah, aku dan isteri bernafas lega mendengarnya. Dokter itu juga tak lupa menyarankan agar isteriku memperbanyak minum air putih, makan buah-buahan, dan mengkonsumsi vitamin sesuai resep. Setelah menerima penjelasan dari sang dokter kami berdua pamit undur diri untuk melakukan pembayaran pemeriksaan rutin di kasir rumah sakit.

Namun sebelum tubuh kami sempurna melewati daun pintu ruang USG, dokter kandungan itu memanggil isteriku, lalu memberi isyarat agar isteriku mendekat kepadanya. Isteriku menurut, sekejap kemudian kudapati dokter itu mendekatkan bibirnya ke telinga isteriku lantas mengatakan sesuatu dengan berbisik-bisik, entah tentang apa? Yang kutahu, isteriku tertawa terbahak-bahak setelah mendengar bisikan dari sang dokter kandungan.

***
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit, isteriku selalu tertawa cekikikan. Aku yang risih mendengar tawanya segera melontar tanya, “Ada apa, Neng? Kenapa Neng tertawa seperti itu?”

Tawa isteriku semakin membahana membungkus udara, tak ada jawaban.

Aku menghentikan laju motor, lantas kembali bertanya, kali ini dengan serius. “Neng, kenapa tertawa seperti itu? Apanya yang lucu?”

Suara tawa isteriku mengendur sejenak, lalu ia berkata, “Abang ingat ndak waktu USG tadi Abang menunjuk satu bagian di layar dan bilang kalau itu wajahnya anak kita? Terus Abang bilang kalau wajahnya ganteng dan hidungnya mancung mirip Abang. Masih inget?”

Aku mengangguk. “Terus kenapa?”

Isteriku tertawa lagi, “Kata dokter tadi waktu bisik-bisik denganku, yang Abang tunjuk itu bukan wajah anak kita. Melainkan bagian pantat.”

“Eh, benarkah? Jadi yang kukira wajah itu ternyata pantat anak kita?” kataku setengah tak percaya.

Isteriku mengiyakan. “Makanya jadi orang jangan sok tau, Abang. Pede banget bilang wajah Abang mirip sama pantatnya anak kita.” Isteriku kembali tergelak.

Tiba-tiba aku merasa pucat. Pantas saja tadi si dokter senyum-senyum tak jelas padaku. Ah, kenapa dokter itu tak langsung bilang sih, kalau yang kutunjuk dan kubangga-banggakan mirip aku tadi itu bukan wajah anakku, melainkan pantatnya? Aku menggerutu dongkol.


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat


Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat
indoplaces.com

Judul : Sekelumit Kisah dari Bandara
Karya : Fitrah Ilhami

“Saya sudah di Juanda, Pak. Kalau sudah mendarat, tolong kabari saya, ya?”

Kuklik tombol kirim, sembari menyandarkan tubuh ke kursi tunggu. Tak berapa lama terdengar bunyi bib dari ponselku. Balasan dari orang yang kutunggu.

“Baik, Mas.”

Aku menatap jam dari layar ponsel. Kalau tidak delay, InshaAllah lima belas menit lagi, pesawat yang ditumpangi orang yang kutunggu akan mendarat.

Tadi pagi, Kepala Sekolahku tiba-tiba menelepon, lalu meminta tolong untuk kujemput di bandara Juanda Surabaya pukul sembilan malam. Tiga hari terakhir ia mengikuti pelatihan pendidikan di Ibu Kota dan akan pulang nanti malam. Karena kebetulan tak ada kegiatan, kuiyakan saja permintaannya, hitung-hitung berbuat baik pada atasan. Siapa tahu tahun depan gajiku dinaikkan, hehe.

Tiga menit kemudian, ponselku kembali mem-bib, dari Kepala Sekolah, lagi. “Mas, maaf, ada keterlambatan pemberangkatan. Mungkin sejam lagi saya baru take off. Bisa menunggu, kan?”

Aku mendesah, ah, selalu begini. Telat. Bahkan sekelas transportasi termahal pun, sering molor.

“Baiklah, Pak.” Aku mengetik balasan.Lantas, membaca buku yang kubawa dari rumah, berniat mengebiri rasa bosan.

***
Aku masih duduk di depan pintu kedatangan domestik, saat melihat beberapa orang berlarian menuju crisis center –ruang pengaduan pelayanan penerbangan– di zona penerbangan internasional. Panik. Begitulah aku menebak isi perasaan mereka lewat raut wajah yang nampak.

Sekejap kemudian, lima orang berkostum salah satu media ternama di negeri ini menyusul dari belakang, empat laki-laki, satu perempuan. Satu dari lima awak media itu, menenteng kamera video lengkap dengan microphone.

“Ada apa, ya, Pak? Kok banyak wartawan?” tanyaku pada seseorang bapak yang duduk di sampingku.

“Pesawat Air Asia hilang. Tadi pagi,” jawabnya halus.

“Benarkah?”

Bapak itu mengangguk.

Ah, aku ketinggalan informasi lagi. Aku belum tahu berita ini sebelumnya. Dan dari perbincangan dengan bapak di sebelahku ini, aku baru mengerti kalau pesawat Air Asia yang hilang itu berangkat dari sini, Bandara Juanda Surabaya, menuju Singapura.

Kembali indera penglihatanku menangkap awak media lain setengah berlari menuju crisis center maskapai Air Asia. Mereka tampak antusias untuk menggali berita. Dan melihat hal itu, tiba-tiba aku teringat pada penggalan monolog di salah satu film yang pernah kutonton, kalau tak salah judulnya ‘Tomorrow Never Dies’.

Dalam monolog tersebut, salah satu aktor yang berperan sebagai pemilik media terbesar di Amerika berkata: “Bagi media, berita buruk adalah berita baik.”

Dan, kabar hilangnya burung besi milik Air Asia ini adalah berita yang berpotensi menguntungkan pihak media. Lihat saja, besok pagi semua media cetak atau elektronik akan menjadikan kabar ini sebagai head line.

Dari jauh, aku menatap kerumunan orang yang berwajah sendu di zona penerbangan internasional sana. Ada yang menangis meraung-raung. Ada juga yang sibuk bertelepon.

Mungkin mereka keluarga salah satu penumpang pesawat nahas tersebut. Ah, kasihan benar mereka. Mimpi apa semalam, hingga mereka harus menerima kenyataan kalau salah satu anggota keluarganya akan bernasib malang seperti ini? Benakku menggumam.

Sepengetahuanku, dari semua kecelakaan transportasi, kecelakaan pesawat terbanglah yang beresiko merenggut maut paling tinggi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalutnya para penumpang pesawat, sesaat sebelum terjadi kecelakaan? Jelas mengerikan.

Namun, terlepas dari musibah yang menimpa seluruh awak pesawat Air Asia yang nahas itu, aku berpendapat, sekali lagi ini pendapatku, mereka seharusnya masih bisa berbahagia.

Sebab, saat mereka dikabarkan hilang, sontak semua keluarganya langsung berdatangan di bandara, meminta informasi, mungkin juga berharap-harap dan berdoa lewat air mata semoga korban bisa kembali ke pelukan dengan selamat.

Oh, bukankah hal itu merupakan bukti kasih sayang? Di mana pun dan dalam kondisi apa pun, setidaknya bagi korban, masih ada keluarga yang mengasihi dan menyayanginya dengan sepenuh hati.

Di luar sana, bahkan aku sendiri pernah menyaksikan hal ini, ada seorang perempuan renta –maaf– meninggal dan membusuk sendirian di rumah tuanya, tanpa ada satu pun anggota keluarga yang mendampingi, apalagi melepas kepergiaannya dengan membacakan talkin di telinga dengan penuh kasih. Duh, malang benar nenek itu.

Ada lagi, orang tua yang wafat persis di depan anak-anaknya yang berebut tanah warisan. Tak ada tangis cinta dari anak-anaknya saat orang tua itu akan melepas nafas terakhir. Duh, membayangkan saja, dada ini tiba-tiba menyesak. Akankah kelak aku akan bernasib seperti ini? Pikiranku berkecamuk tanya.

“Mas …” seseorang menjawil pundak kiriku. Aku menengadah, oh, ternyata Kepala Sekolah. Dia datang tanpa kusadari, berarti aku sudah melewatkan satu jam ini dengan melamun. “Maaf, ya, Mas. Jadi menunggu terlalu lama,” lanjutnya bertutur.

“Oh, tak apa, Pak,” aku coba tersenyum. “Sudah bereskah semuanya?”
Yang kutanyai mengangguk.

“Baiklah, ayo saya antar Bapak pulang.” Ujarku.

Dan kami pun melangkah menuju parkiran mobil. Namun, pada satu jeda waktu kusempatkan menyapukan pandangan ke arah kerumunan keluarga korban di seberang sana, sembari memilin doa dalam hati, semoga Tuhan melindungi para korban kecelakaan pesawat Air Asia ini, di mana pun mereka berada.

Satu lagi … semoga kecelakaan burung besi kali ini, adalah kecelakaan terakhir yang terjadi.

Dan mobil yang kukendarai pun melaju, membelah jalanan Surabaya yang terbungkus dinginnya malam.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Singkat. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Leave a Comment