Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain Yang Bikin Kamu Greget [Serius]

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain – Di artikel kali ini para penulis menceritakan tentang Cerita pendek pengalaman orang lain yang ada disekitar. Semoga cerpen ini dapat membantu merefresing pikiran anda.

Contoh Cerpen Pengalaman “Jeruk Purut”

Judul : Jeruk Purut
Oleh : Penulis Pemula

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain

Tahukah kau tentang pemakaman Jerut Purut di Jakarta Selatan? Ah, saya memiliki suatu kisah yang dialami ayah saya sekitar 20-an tahun yang lalu.

Suatu malam lelaki itu tengah berjualan nasi goreng keliling dan sempat mendengar percakapan pelanggannya yang sedang duduk di pos ronda.

“Tahu nggak? Di jalanan depan kuburan itu suka ada pocong nyeberang,” ujar salah satunya.

Semuanya bergidik ngeri, tak terkecuali ayah saya. Saat berkeliling lagi tepat di jalan yang habis dibicarakan, dari kejauhan terlihat bayangan hitam di pinggir got. Bentuknya menyerupai manusia dengan rambut acak-acakan. Bermodalkan keberanian tingkat langit ketujuh bahkan tingkat dewa, ia berjalan sembari memejamkan mata.

Gerobak yang didorongnya semakin dekat dengan sosok tersebut. Dengan mempercepat langkah, ia menerjang siluet hitam yang kini hanya dua meter di hadapannya. Tak lama kemudian terdengar suara benda jatuh dan seseorang mengaduh.

Ayah saya menoleh ke belakang dengan rasa takut yang bahkan nyaris membuatnya terkencing-kencing. Dari got menyembul sebuah wajah kucel sedang meringis sembari mengusap-usap kepala.

“Heh! Gua nggak ada hutang sama lu, napa gua ditabrak? Dasar orang gila!” racau pria tua tersebut yang ternyata adalah orang gila.

Sontak ayah saya lari kocar-kacir saat orang gila tersebut mengejarnya dengan sebuah sandal butut di tangan.

Contoh Cerpen Pengalaman “Apa Kesimpulannya”

Judul : Apa Kesimpulannya?
Oleh : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain

Dua hal yang dirasa oleh manusia ketika mendengar atau mengetahui keberhasilan orang lain; pertama, turut gembira, kedua jengkel dan iri.

Dan jujur, aku sering merasakan hal yang terakhir…

Di fb, misalnya, beberapa teman memposting foto baru menang lomba menulis, atau cerpen karya dia yang ditrbitkan koran nasional, aku langsung ngerasa iri, dan cepat-cepat melewati postingan tersebut tanpa me-like atau memberi ucapan selamat di kolom komentar.

Awalnya, aku merasa ini lumrah saja. Namun, lama- kelamaan kok jadi kepikiran terus, hati semakin sakit, tidak enak makan, tidur juga gak enak ditambah banyak nyamuk, makin gak bisa tidur.

Besoknya, aku kembali membuka fb, dan lagi-lagi ada karya teman yang diterbitkan koran nasional yang terbit tiap Minggu. Hatiku terasa gimanaaa gitu. Seperti ada yang nonjok-nonjok di dada. Panas. Bisanya pamer aja, begitu kata hati. Biasanya, aku langsung lewatin postingan tersebut, tapi saat itu berbeda. Iseng aku ikut me-like dan komentar, “selamat ya, moga sukses selalu!”

Ajaib. Sumpah. Meski tidak seratus persen tulus, setelah menulis komentar seperti itu, tiba-tiba saja hati ini adem, kejengkelan sebelumnya langsung luntur, aku merasa sesuatu yang membebani pundak seketika hilang. Plong banget.

Dalam bahasa Arab, hati disebut Qolb, artinya sesuatu yang mudah terbolak-balik. Kadang baik, kadang buruk. Saat hati baik, maka baik pula semua amalnya. Nah, saat buruk, ini yang bahaya, bisa merugikan diri bahkan orang lain.

Hanya saja, menurut pengalaman di atas, ternyata hati ini suka nurut. Nurut sama apa? Nurut sama sikap. Ibarat api, kalau disiram air padam, disiram bensin bakal tambah gede. Tatkala sikapku menuruti hati yang iri lihat kesuksesan orang lain, aku makin panas, makin sakit hati dengan hal-hal yang gak jelas sebabnya.

Namun, ketika hati panas, lalu aku paksa bersikap sebaliknya, memaksa turut berbahagia, tiba-tiba jadi enak dan gak ada beban. Bahkan, setelah itu aku jadi bertanya ke si sukses itu bagaimana kiat agar kita bisa mengikuti jejaknya? Dan dia bagi tuh tips-tipsnya secara gamblang. Tambah teman, jalan keberhasilan juga jadi kebuka.

So, kesimpulannya …, udah deh simpulin sendiri aja. Main simpul-simpulan kayak mau pramuka aja.

Contoh Cerpen Pengalaman ” Belum Ada Judulnya Part 1″

Judul : Belum Ada Judulnya
Oleh : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain

Gadis itu memandanginya dari dalam mobil. “Sayang, tetap di mobil saja ya, kau temani saudara kita ini, aku hanya menemuinya sebentar.” Perempuan yang dipanggil sayang oleh Roy itu menganggukkan kepala sekali, sembari menyuguhkan senyum tanda setuju. Air Conditioner di dalam mobil membuat segar seluruh badan, membutakan perasaan akan cuaca yang panas menyengat di luar sana.

“Ah, lu kebiasaan banget bikin gue kesel, Roy. Lu kan tau, gue paling gak suka nunggu. Dan, lu sudah buat gue menjamur di warung bakso ini se-jam. Mana panas banget udaranya.” Ken, meracau tak karuan kepada Roy, mengelap saus sisa makan bakso di sekitar mulutnya dengan tisu. Roy hanya menanggapinya dengan senyum kuda. Menyebalkan sekali. Andai Ken tidak ingat kalau Roy adalah sahabat karibnya sejak mereka masih ingusan, ingin rasanya dia menimpuk kepala Roy dengan sandal jepit yang dia pakai.

“Sorry, Bro. Force major. Jalanan macet banget, cuman Presiden yang bisa melenggang mulus dari tumpukan kendaraan yang berserakan di jalan. Ini ibu kota, Bro.” Roy membela diri, tetap dengan senyum khas kuda.

“Ah, alesan aja, lu. Mana pake bawa-bawa nama Presiden segala. Terus gimana nih kelanjutannya?” Ken sengit. Benar kata orang, ada dua hal yang bisa membuat orang selalu terpancing untuk marah. Satu, udara yang panas. Dua, gaji kerja yang segitu-gitu saja.

“Oke. Jadi gini,” Roy mengambil udara melalui kedua lubang hidungnya, diaturnya muka sedemikian rupa supaya terkesan serius.

“Produser sudah mendengar kaset demo, lu. Dia masih mempertimbangkan, terus bilang kalau lagu lu dianggap menjual, dia akan mengguhubungi lu secepatnya. Lu berdo’a aja supaya produsernya kalap, terus secara tidak sadar dia mengontrak u masuk manajemennya. Oh iya, jangan lupa minta do’a juga ama Umi.” Nada suara Roy terdengar mantap, walau kata-katanya jauh panggang dari api. Anehnya, Ken mendengarkannya khusuk, seperti mendengar petuah dukun.

“Gitu ya, Roy? Oke deh, Pokoknya jika album gue tembus label ini, gue janji bakalan jadiin lu manajer gue.” Ken berkobar-kobar bagai api, Roy nelanggsa bagai kayu bakar, tak lama kemudian lebur bagai abu. Berapa kali coba Ken bilang seperti itu? Sudah berbulan-bulan Roy membantu –lebih tepatnya dipaksa membantu – Ken masuk keluar kantor label bermaksud mempromosikan mini album yang Ken buat. Nahasnya, sampai saat ini tak ada satu pun produser yang mau menghubungi kembali. Menjadi manajer kata, Ken? Jangankan dikontrak produser, ada orang yang rela mengdengar lagunya barang setengah menit saja sudah untung.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Ken mempunyai suara yang merdu. Lagu-lagu karangannya pun sangat bagus, bahkan bisa sangat menjual di pasaran. Namun, ini ibukota, Ken bukan satu-satunya orang yang mempunyai niat tembus label musik. Di luar sana, ratusan bahkan ribuan penyanyi yang memiliki hasrat yang sama dengannya. Persaingan sangat ketat, dan itu berarti Ken harus lebih bersabar.

“Tidak bisakah cari orang lain buat jadi manajer lu, dan membiarkan gue hidup tenang tanpa bertemu lu barang satu hari saja, Ken? Kalau dekat lu, gue seperti deket dengan barang yang namanya sial.” Mendengar serapah dari Roy, Ken tertawa lepas hingga gerahamnya terlihat. Tentu saja Roy bercanda, mana mungkin Roy akan tega meninggalkan sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai saudara itu.

Ken, menggenggam tangan Roy, menyeret tubuhnya ke arah mobil yang Roy parkir dua puluh meter dari warung bakso. “Mau kemana, lu?” Roy sedikit berontak, ingin melepaskan tangan kirinya dari genggaman, Ken.

“Gue mau minta anter lu pulang ke rumah. Kan, lu sendiri yang bilang kalau gue harus minta do’a ama Umi.”

Roy menggelengkan kepala. “Kagak mau. Lu, pulang sendiri aja.”

“Ah, masak tega liat sahabat lu pulang jalan kaki, Roy? Mana panas banget udaranya.”

“Terserah. Mau jalan kaki, mau ngesot, mau naik ojek, mau naik odong-odong, bukan urusan gue. Pokoknya khusus siang ini, jangan deket-deket mobil gue.” Roy mengusap dahinya yang berpeluh. Raja siang tegak lurus dengan ubun – ubun, menyengat kulit yang tak terlindungi, membuat termometer berskala celcius beranjak naik. Belum lagi bising suara knalpot kendaraan yang tak henti-hentinya melintas bagai sekawanan semut mencari makan, membuat tubuh semakin gerah. Penjual es jus semakin bersemangat menawarkan dagangannya, tahu benar dia bahwa es jus paling cocok diminum di kondisi panas seperti ini.

“Emang kenapa mobil, lu? Ndak biasanya ngelarang gue naik mobil lu, padahal hampir tiap hari gue pake juga.” Ken menatap ciruga mobil Roy yang semua sisi jendelanya tertutup rapat. Karena rasa penasaran yang teramat sangat, setengah berlari Ken nekat merangsek maju mendekati mobil merah milik Roy. Tiga meter sudah jarak antara Ken dengan mobil. Satu meter selanjutnya , jendela pintu depan sebelah kiri turun dengan anggun, menyibak seseorang yang ada dibaliknya.

“Hai, Ken. Bagaimana kabarmu?” Perempuan yang tadi dipanggil sayang oleh Roy itu menyapa lembut.

“Eh, Laras. Apakah aku kelihatan sakit?” Ken membusungkan dada, menekuk lengan kanan bermaksud memamerkan bisep tapi yang nampak ternyata hanya tulang -belulang, mencoba mencairkan suasana. Rasa penasarannya tentang mengapa Roy sangat tidak ingin ia mendekati mobilnya masih menggema di kepala Ken.

“Kau selalu saja bisa bercanda. Kau mau pulang sama kita?” Laras menawari.

“Maunya seperti itu, tapi pacarmu mendadak kikir. Bahkan mendekati mobilnya saja seperti diharamkan untukku.” Ken menganggat kedua bahu, tak mengerti mengapa siang ini Roy begitu aneh. Laras tergelak mendengar nada suara kecewa dari pemuda gondrong yang ada di depannya itu.

Secepat kilat, dari jendela yang Laras buka, ekor mata Ken menangkap satu tubuh yang duduk manis di kursi tengah mobil. Kalau dilihat dari kondisi fisik, Ken mengira gadis itu berusia sama dengannya. Ah, tidak, Ken terlalu tua untuk disamakan dengan gadis itu. Mungkin dua tahun di bawah Ken. Tidak, masih terlalu tua. Lima tahun dibawah usia Ken? Ah, tidak penting, yang penting dia cantik.

Demi melihat parasnya yang ayu namun tegas itu, sukma Ken bagai dibetot. Cukup lama Ken terdiam menatap ciptaan Tuhan yang anggun duduk di kursi tengah layaknya permaisuri di kerajaan-kerajaan kuno. Matanya jeli menunduk. Rambutnya panjang lurus hitam tergerai menutupi punggung.

Oh, menatap gadis itu, sungguh kedua bahu Ken seperti keluar sayap dan seketika mengepak-ngepak tanpa disuruh oleh si empunya tubuh, membawanya terbang ke suatu negeri di atas awan. Ken, terus terbuai oleh kecantikan gadis yang berwajah elok itu, semakin terbuai , semakin kuat kepakan sayapnya membawa terbang tubuh Ken lebih tinggi lagi ke atas langit. Saat berada di puncak sensasi, entah mengapa Ken melihat ada sesosok jin Ifrit yang wajahnya mirip sekali dengan Roy, mengejar Ken dari belakang. Dan, ketika sudah sedekat selemparan tangan, tubuh Ken dicengkram dan dilemparkan kembali ke Bumi dengan kasar. Ken terperanjat dari fantasinya.

“Jangan coba-coba mendekatinya,” Roy menyalak seperti anjing melihat pencuri, “sudah pulang sana, besok pagi kita ketemu lagi.” Roy menyemburkan kata-kata ke muka Ken.

Tapi Roy, siapa gadis yang duduk di kursi tengah mobil lu? Tak maukah lu mengenalkannya ke gue?” Wajah Ken memelas.

“Dia adik gue. Sudah pulang sana.” Roy tetap nyolot.

“Sejak kapan lu punya adik perempuan?” Ken tersenyum tanda tak percaya, lalu dengan wajah memelas bagai orang yang tidak makan selama dua hari, Ken membisikkan sesuatu kepada Roy, “lu benar-benar gak mau mengenalkannya ke gue, Roy?” Yang dibisiki menggeleng cepat.

“Tapi kenapa, Roy?”

“Sebab lu penjahat kelamin.” Demi mendengar olokan Roy kepada Ken. Kontan, Laras terbahak-bahak, punggungnya keras berguncang. Gadis yang menjadi topik pembicaraan itu juga tertawa walau tak sekeras tawa Laras. Ken, meleleh malu.

“Baiklah, kalau lu gak mau mengenalkannya ke gue,” Ken menyisir rambut gondrongnya dengan jari-jari tangan, “sebagai sahabat, mau kan lu nuruti permintaan gue yang lain?”

Asal tidak meminta perkenalan dengan gadis yang duduk di kursi tengah mobilnya, baiklah. Roy bergumam.

“Bayarkan bakso gue. Gue gak bawa uang.” Pinta Ken pura-pura memelas, membuat wajah Roy seketika menggelembung sebal. Kebiasaan buruk. Selalu minta gratisan. Dua orang perempuan di dalam mobil semakin tenggelam dalam lautan tawa.

*Bingung gimana ngelanjutin cerita ini. Bentar ya, aku mau ambil minum dulu.*

Contoh Cerpen Pengalaman ” Belum Ada Judulnya Part 2″

Judul : Belum Ada Judulnya
Oleh : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain

Malam itu, di taman belakang rumahnya, Roy merayakan ulang tahunnya yang ke seperempat abad. Dengan tanpa banyak biaya, Roy ingin menyulap tamannya menjadi lokasi temu sahabat yang elegan dan menarik. Untuk itulah Roy sengaja mengundang Bella, saudara sepupu dari garis ayah, dari Surabaya.

Kebetulan Bella adalah mahasiswi di Jurusan Desain Interior dan Eksterior, di salah satu kampus top di Kota Pahlawan. Dan, kebetulan juga Bella sedang libur semester, jadi dia tak bisa menolak saat Roy menyuruhnya datang ke Jakarta untuk sekedar berlibur.

Ah, Roy seperti mendapat lotre tiga nomor sekaligus. Ulang tahun Roy jatuh tepat dua hari setelah Bella mendarat di Bandara Cengkareng. Tanpa rasa sungkan sedikitpun, Roy meminta Bella untuk mendesain taman di belakang rumahnya agar terlihat lebih cantik, “Biar tak sia-sia ilmu yang kau pelajari di kampus.” Roy mengedipkan mata genit, Bella berhu panjang menanggapi proyek terimakasih ini.

Benar saja, kepandaian Bella menempatkan berbagai property di taman belakang rumah Roy, menjadikan tempat itu semakin enak dipandang dan nyaman buat tongkrongan para tamu. Lampu-lampu kecil digantungkan di atas gazebo, tidak banyak, untuk meninggalkan kesan norak, kata Bella.

Lampion berbagai warna dan motif dinyalakan, tanaman hias terjajar rapi di belakang tempat duduk. Aquarium berisi ikan arwana milik Roy juga terpaksa dikeluarkan dari dalam rumah sebagai ‘pemanis’ sisi kiri taman. Roy sangat puas dengan ide Bella, berulangkali dia berterima kasih kepada sepupunya itu, tak jarang memuji kecantikan wajahnya, yang dipuji lagi-lagi berhu panjang.

Bella jualah yang mengkonsep acara demi acara hari jadi Roy. Sederhana namun elegan. Tak ada pesta minuman keras di sana. Bella tak ingin hari bahagia Roy dirusak oleh tingkah teman-temannya yang terpengaruh minuman keras.

Bella hanya memperbolehkankan undangan Roy merokok, itu pun ada tempat yang disediakan khusus di sisi pojok taman. Awalnya Roy berkeberatan mengingat rata-rata semua temannya adalah perokok aktif. Namun, dia tak bisa menolak saat Bella melotot kepadanya.

Pukul tujuh seperempat malam. Langit sempurna matang. Tamu undangan berdatangan, kado telah ditumpuk, lilin di atas kue tar sudah menyala api, namun Roy sepertinya belum berhasrat untuk memulai acara yang sepenuhnya miliknya itu.

Bella menatap Roy, menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kirinya, ingin tahu kapan acara dimulai. Yang ditatap membuka kedua telapak tangannya, memberi isyarat untuk menahan acara ini sebentar lagi. Rupanya Roy menunggu seseorang.

Laras, tunangan Roy sudah datang setengah jam yang lalu. Gaun putih panjang yang dikenakan Laras menambah pesona kecantikan parasnya, memikat hati Roy yang tak henti-henti berbisik, “kau terlihat cantik malam ini, Sayang.” Keanggunan Laras juga membuat tak sedikit undangan mencuri pandang kepada gadis yang menjadi calon pengantin Roy itu. Kedua orang tua Roy duduk di kursi bundar, bercengkrama dengan kedua orang tua Laras. Sangat santai.

Roy celingak-celinguk menanti kedatangan seseorang. Kebiasaan buruk, tak bisakah dia tepat waktu, otak Roy menggema. Panjang umur, sosok yang baru saja dipikirkan Roy masuk ke taman dengan tergopoh-gopoh. Rambut gondrongnya dijepit karet, mengingatkan pada ekor kuda. Kemeja putih yang dikenakan serasi dengan celana jeans biru dongker yang baru dibelinya.

“Maaf, forcemajor, Kawan. Jakarta macet berat, cuman presiden yang bisa melenggang mulus dari tumpukan kendaraan di jalan.” Ken nyerocos, mengambil momentum sebelum Roy mengomelinya terlebih dahulu.

“Hei, itu kata-kata gue. Dasar ndak kreatif,” Roy sebal dibuat-buat. “ Kau hampir saja mengacaukan hari bahagiaku, Ken. Kalau saja kau tak datang di pestaku malam ini, pasti kububarkan acara ini.” Mata Roy melotot.

“Hahaha, sudahlah Roy, yang penting gue sudah datang, bukan? Ini kadonya.” Ken, menyodorkan sekotak nasi kuning, lengkap dengan potongan ayam kampung goreng yang ditaburi sambal kacang. Masakan favorit, Roy.

“Ini Umi yang buat, beliau titip salam buat, lu. Selamat ulang tahun kawan, semoga lu semakin sukses.”

“Terimakasih, Kawan. Kadomu ini yang paling spesial yang pernah kuterima.” Bibir Roy mengulum senyuman.

Keduanya saling mendekapkan tubuh dalam-dalam. Ikatan persahabatan yang mereka jalin begitu lama menjadikan mereka bagai saudara sedarah. Benar kata orang, sesuatu yang dari hati akan jatuh ke hati pula. Pun, kado nasi kotak Ken, walau terhilat sederhana (jika tidak dibilang norak) tetapi nilai ketulusanlah yang membuat nasi kotak Ken terasa istimewa di hati Roy, dibanding kado-kado yang lainnya.

“Sudah selesaikah adegan ala India-nya? Apakah kalian ingin kami menjamur di sini semalaman?” Bella mendelik kepada Roy dan Ken. Menyadari kesalahannya, Roy langsung melesat pergi, segera memulai acara tiup lilin sebelum Bella semakin ganas mengomeli dirinya.

Sejenak kemudian, Bella menyusul, meninggalkan Ken yang berdiri memaku, persis orang yang tertotok persendiannya. Bukankah dia gadis cantik yang ada di dalam mobil Roy kemarin? Batin Ken bertanya dalam naungan pesona kepada Bella.

***

Acara tiup lilin berlangsung meriah. Roy memberikan potongan kue pertama kepada kedua orangtuanya, menyuapi mereka dengan lembut. Selanjutnya kekasih Roy, Laras, yang mendapat suapan kue tar, yang disuapi tersenyum malu. Ken yang berdiri di samping Roy, mendapat giliran selanjutnya. Tapi Ken terlalu risih untuk disuapin, jadi dia mengambil jatah kuenya dari Roy, lalu makan dengan tangan kanannya sendiri.

“Spesial saya ucapkan terimakasih kepada Bella, adik sepupuku yang jauh-jauh datang dari Surabaya.” Roy memberi sambutan singkat kepada undangan. Seluruh teman-teman Roy, mendengarkan walau satu dua masih asyik mengobrol.

“Dia yang sudah mendesain taman dan mengonsep acara ini hingga selesai secara sukarela,” lanjut Roy. Undangan bertepuk tangan, Roy tersenyum melirik Bella, yang dilirik berhu lemah. Bukan sukarela tapi dipaksa, batin Bella bercanda.

Pesta ulang tahun Roy malam itu berlangsung meriah. Ken, menyempatkan diri untuk menyanyikan dua buah lagu, tentang persahabatan dan tentang cinta. Bilang kepada semua orang bahwa lagu yang dinyanyikan adalah lagu ciptaannya sendiri.

Ken juga tak lupa berujar kalau tak lama lagi lagu-lagunya ini akan populer. Mendengar itu, Roy terkikik di belakang Ken. Bukan untuk menghina, tapi lebih menertawakan kepedean Ken yang melangit itu. Senandung dengan iringan gitar yang Ken bawakan mengalun begitu indah, lembut memanjakan seluruh indera pendengar di pesta itu.

Malam itu adalah malam yang sempurna bagi Roy. Dia tersenyum kala mendapati semua wajah yang hadir di acara pestanya itu mengulum bahagia. Bergurau, bertukar cerita apa saja, melepas kangen dengan kawan-kawan lama, menanggalkan penat pirikan yang selama ini disibukkan dengan urusan kantor.

Tapi di malam itu juga ada seseorang yang merasakan getaran luar biasa menghujam jantungnya. Membuat tubuhnya terduduk lemas. Dia sedang jatuh cinta. Langit sudah gosong. Beberapa undangan sudah beranjak pulang. Ken, mengangkat pantatnya yang sedari tadi seperti dilem di atas kursi. Setidaknya aku bisa berkenalan dengannya, pikir Ken. Lantas, dia beranjak dan melangkah menuju sosok yang dari tadi mencuri perhatiannya, semakin dekat, hingga Ken hanya berjarak selemparan tangan dengan gadis itu.

“Bella, kenalkan saya, Ken. Desain taman yang kau buat sungguh bagus.”

“Terimakasih. Suaramu juga bagus. Sepertinya albummu akan laris. Hehe.”

Lalu, bagai aliran air di sungai, percakapakan mereka pun mengalir lembut, tenang, tanpa hambatan, walau terkadang sedikit berombak tawa.

Di pojok sana, pandangan Roy menatap lekat dua insan yang sedang bercengkerama itu. Pikirannya bergelanyut, tak tahu bagaimana harus bersikap. Ikut bahagia atau sebaliknya.

*Aduh, kebingungan lagi neruskan cerita ini. Tunggu kawan, aku akan bertapa dulu untuk memikirkan bagaimana kelanjutan cerita ini. Sampai jumpa…*

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Pengalaman Orang Lain. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Leave a Comment