contoh cerpen singkat tentang persahabatan, pengalaman, pendidikan, ibu, lucu sekali

Kumpulan Contoh Cerpen Pendek Dengan Beragam Genre

Contoh Cerpen Pendek – Dikala bosan sedang melanda terkadang kita membutuhkan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosa tersebut. Ada sebagian orang yang lebih suka mendengarkan musik, ada yang suka menonton film, ada yang suka makan namun kali ini saya akan memberikan anda contoh-contoh cerpen pendek. Semoga dapat menghilangkan rasa jenuh anda.

contoh cerpen singkat tentang persahabatan, pengalaman, pendidikan, ibu, lucu sekali

Contoh Cerpen Pendek

Karya : Finy Arkana
Judul : Tidak Pakai Helm

contoh-cerpen-pendek

Amin ke Masjid untuk sholat dhuhur. Waktu itu, dia tidak memakai helm, yah kebiasaan
Orang kampung. Di tengah perjalanan, tepatnya di perempatan, ia ditahan polisi.

“Permisi, Pak,” sapa Pak Polisi sambil hormat, “maaf mengganggu perjalanannya,” lanjutnya, “Bapak tahu kesalahannya apa?”

Amin senyum-senyum tidak bersalah.

“Tidak pakai helm,” jawab Amin enteng.

“Ya, kenapa anda tidak menggunakan helm?”

“Saya mau pergi masjid, sholat, harusnya pakai peci bukan helm.”

“Tapi, ini peraturan, Pak,” tegas pak polisi.

“Kau pernah lihat imam masjid sementara pakai helm pimpin sholat?” Suara Amin meninggi, “Kau pernah lihat orang adzan pakai knalpot motor? Kau pernah masuk masjid pakai sim?”

Pak polisi geleng-geleng.

Amin melanjutkan, “Kalau begitu harusnya kau yang saya tilang.”

“Hah?”

“Ini waktu sholat, kau masih berkeliaran, mau jadi apa kau kelak?” Amin mengeluarkan
ceramahnya.

“Saya kan sudah jadi polisi, Pak.” Pak Polisi cengengesan.

“SIM dan STNK tidak akan menyelamatkanmu dari api neraka, Nak.”

“Pokoknya, Bapak tetap kami tilang karena tidak menggunakan Helm.”

“Eits, saya bercanda kok, Pak. Ini surat-surat saya lengkap. Helmnya barusan saya tinggal di tempat pencucian helm, nanti habis sholat saya ambil,” terang lelaki berpeci itu.

“Oh. Ya sudah.”

“Ayo, Pak, ikut sholat juga,” ajak Amin.

“Boleh, ayo.”

Contoh Cerpen Pendek

Karya: Fitrah Ilhami
Judul: Martinah ingin Istirahat

Contoh Cerpen Pendek
inovasee.com

Martinah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dari raut wajahnya, nampak ia kelelahan. Memang, semalaman Rara, anak kedua Martinah yang baru berusia tiga bulan, menangis tiada henti hingga membuat Martinah sempurna terjaga seharian.

Si kecil baru tertidur selepas adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat Subuh, ia harus menyiapkan ini itu untuk suami dan Roni, anak sulungnya, sampai pukul tujuh pagi. Dan kini Martinah merasakan kantuk yang hebat, kelopak matanya seperti dilem, lengket. Martinah benar-benar ingin beristirahat sekarang, mumpung si kecil Rara juga masih tidur, pikirnya.

Namun, sebelum benar-benar beristirahat melepas lelah di sofa, Martinah ingin memastikan apakah Rara belum bangun. Maka Martinah pun memanggil Roni, anak laki-lakinya yang berusia tiga setegah tahun.

“Kak,” begitu panggil Martinah kepada Roni yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah. “Tolong lihatin Dede’ Rara di kamar, apakah ia masih tidur?” perintah Martinah.

Roni mengangguk. Ah, anak salih, gumam Martinah sambil tersenyum.

Lantas melangkahlah Roni ke kamar tidur yang dimaksud oleh ibunya tadi. Di dalam kamar, Roni mendapati adik perempuannya yang menggemaskan itu masih nyenyak dalam tidur.

“Buu… Dede’ Rara masih tiduuuuur!!!” Roni berteriak kencang di samping tempat tidur adiknya, bermaksud melapor kepada sang ibu.

Karena teriakan Roni yang menggelegar itu, si kecil Rara langsung terbangun, mungkin kaget, dan akhirnya menangis. Di ruang tamu, Martinah mendengar suara tangis bayinya.

Roni yang melihat adiknya menangis, kembali berteriak, lagi-lagi untuk melapor, “Eh, ndak, Buu… sekarang Dede’ sudah bangun, kok.” Kata Roni dengan polos.

Pagi itu… tak ada istirahat untuk Martinah.

Contoh Cerpen Pendek Stand Up Comedi

Karya: Andika BJ
Judul: Guru Dan Pendidikan

contoh-cerpen-pendek

Jasa guru itu banyak banget ya?
Saking banyaknya, sampai-sampai Kalkulator gue eror untuk menghitungnya.

Guru itu adalah orang yang pintar menjawab seribu pertanyaan.
Gimana nggak pintar, kan mereka semua telah memegang kunci jawaban.

Sebagai murid, gue itu haus akan pendidikan.
Haus akan wawasan.
Haus tentang ilmu.
Makanya dalam tas gue itu, gue selalu membawa air mineral.

Kemaren, gue ketemu sama guru SD gue. Terus dia nanya ke gue kayak gini,
Guru: “Apa kabar Andika?”
Gue: “Baik, Pak.”
Guru: “Sekarang kamu sudah kerja ya?”
Gue: “iya, Pak.”
Guru: “Kerja apaan?”
Gue: “ngerjain bini bapak yang lagi mandi, Pak.”

Anak sekolah itu mempunyai kelebihan ya.
Iya, lebih suka tawuran daripada belajar.
Beda sama anak yang enggak sekolah.
Mereka suka diam, diam-diam ngintipin janda.

Gue itu rindu akan pendidikan yang tinggi.
Makanya gue sering belajar nulis.
Sering baca buku.
Kadang-kadang gue nulis diwajahnya manusia kutu buku.

Sebagai balas budi ke guru gue.
Gue ingin menjodohkannya sama kakek gue.
Biar gue punya nenek muda dan baru.
Yang ada segelnya.

Contoh Cerpen Paling Pendek Dan Ga Jelas

Karya : Syahid
Judul : Single or Jomblo

contoh-cerpen-pendek

Nasib dan takdir itu harus diyakini, dan gua juga harus yakin kalo gua…..?

“Hai jomlo” (T-T)/

Apaan si apaan si apaan si! (-_-‘)

“Hai mahkluk yang bergelar jomlo?” (T-T)/

Single kelles.. -_-

“Hai single tapi jomlo?” (T-T)/

Hentikan anak muda.. (j-j)
hiks.

“Ciyeee yang jomlo..” :v

Hadehh.. -_-

“Eheum.. Eheumm, ciyee yang jomlo.. :v
emang enak jomlo.. Wlek..” :p :v

Menyedihkan.. (j-j)

Hadah hadahh, entah mana yang harus aku yakini.
Kini aku dalam kebimbangan.
Hiks. (j-j)

“Menyedihkan..” (T-T)/

Contoh Cerpen Pendek Lucu

Judul : Salah Sangka
Karya : Winda Pratiwi

contoh-cerpen-pendek
“Riel, loe dah makan? ” Tanya Aji

“Belum ji, lupa ga bawa duit!” Jawab Ariel

“Lhah, tadi siang istirahat ga makan?”

“Ya makan, cuma cukup buat istirahat siang tadi doank, ga tau kalau di suruh lembur!” Jawab Ariel sambil mengisap rokoknya

“Loe dah bilang sama nyokap, kalau lembur? Ntar dicariin lagi kayak kemarin?”

“Belum, kemarin hp gue lowbad jadi ga bisa kasih kabar ke nyokap kalau gue lembur!”

“Dasar anak mami!” Kataku sambil tertawa. Ariel kesal, sampai-sampai bibirnya bisa di iket.

***
*Di dalam pabrik*

“Eh, Ji … Ini teleponnya bisa di pakai kan?” Tanya Ariel

“Ya bisa, memangnya mau telepon siapa?”

“Mau telepon nyokap Ji?”Jawab Ariel dengan santainya.

Spontan yang dari tadi lagi nyantai,tertawa sampai ngakak.

“Loe kira telepon nenek moyang loe Riel!” Sahut Jangkung sambil tertawa.

“Lhah, salah gue di mana Ji?” Tanya Ariel masih tidak mengerti.

” Yaps memang, teleponnya bisa di pakai. Tapi ya cuma buat telepon antar line doank, kagak bisa buat nelepon nyokap loe Ariel! “

Plakk!!!
Ariel berlalu, mungkin malu. Sedang yang lain tak hentinya tertawa.

*Pluit,270115*

Contoh Cerpen Pendek

Judul : Kuping Gajah
Oleh : Putri Handayani

contoh cerpen pendek

Rasanya lelah tubuh ini setelah seharian mengikuti jadwal kuliah yang padat di kampus. Aku putuskan pulang ke kost-an untuk beristirahat. Setibanya di kost-an aku langsung rebahan, sampai akhirnya ketiduran.

Sedang asik berada di dunia mimpi, tiba-tiba kudengar suara seseorang memanggilku,
“Put, bangun ! Shalat ashar dulu,” kudengar suara Rizqi memanggilku.

“Emm…” jawabku setengah sadar.

“Ayo bangun.”

“Iya, Qi,” jawabku malas.

Aku segera bangun dari tidur, ketika berdiri ku melihat sesuatu yang menggoda di atas lemari Rizqi.
“Qi, teteh minta kuping gajahnya ya yang di atas lemari,” teriakku sambil melangkah ke arah lemari.

“Makan aja, Put,” jawabnya sambil tersenyum lebar.

Segera kuambil bungkusan yang kusangka kuping gajah tersebut.
Entah karena lapar atau memang belum sadar, aku melihat sebuah bungkusan seperti kue. Padahal isinya adalah kerudung bermotif yang dari jauh terlihat seperti kuping gajah.

“Qi, ini mah kerudung,” teriakku kesal.

“Yang bilang kuping gajah tadi siapa?” tanya nya dibarengi dengan tawa.

“Makanya, cuci muka dulu bangun tidur itu,” lanjutnya sambil berlalu ke ruang tamu.

Haduh, aku malu jadinya.

Contoh Cerpen Pendek

Judul : Bertamu
Oleh : ‎W Sugiarto

contoh cerpen pendek

Namanya Wulan, gadis ayu bermata sayu teman sekelasku, yang sekarang sedang bikin Topan keedanan.
Kulihat hari ini tidak masuk sekolah. Tapi heran, kok Topan ya–yang gelisah.

“Wil, pulang nanti nengok Wulan, yuk?” ajak teman sebangkuku itu, ketika jam istirahat.

“Oke …. Katanya doi sakit ya, Pan?”

“Iya.”

***

Masih dengan seragam kami ke rumah Wulan. Wow! Rumahnya resik, lantainya bersih kayak rumah sakit.
Kami pun lepas sepatu lalu kuketuk pintu,

“Assalamu alaikum …!?”

Tak lama, seseorang membukakan pintu, setelah membalas salam.

“Eh, teman sekolahnya Wulan ya? Ayo masuk!” ucap wanita muda itu ramah, mempersilakan duduk di ruang tamu, kemudian beliau ke dalam.

Wulan datang dengan wanita muda tadi yang ternyata ibunya, membawa es sirup, hidangan roti bolu, pisang dan kacang.

“Ah …! Wulan gak papa kok Wil. Cuma lagi kedatangan …,” ucap Wulan, ketika kutanya sakit apa.

Ibunya juga senyum-senyum saja sambil bilang mau ke dapur. Sementara Topan begitu kaku, terkesan sangat sopan.
Tanpa ditawari, es sirup, roti bolu, pisang dan kacang aku makan … lapar.

Tiba saat pamit pulang, Wulan beranjak memanggil ibunya. Aku sibuk cepat-cepat memasukan sisa kacang ke kantong baju, mumpung gak ada orang … hihihi. Topan geleng-geleng kepala.

Diantar Wulan dan ibunya kami ke teras, berpamitan.

Saat hendak jongkok mengikat tali sepatu, praaaak …! Kacang di kantongku tumpah ke lantai. Semua tertawa. Jangan tanya mukaku seperti apa saat itu! Apalagi sambil senyum-senyum ibunya Wulan bilang,

“Di dalam masih banyak Wil! Nanti ibu bungkus pakai plastik, ya?”

~o~

Contoh Cerpen Pendek

Judul : Sandrina Manis Pandai Melukis
Oleh : ‎‎Rizka Sabine Senandu

contoh cerpen pendek
contoh cerpen pendek

Danar termangu. Berkali-kali mulutnya berkata Luar Biasa dengan mata nanar melihat sebuah gambar yang diberikan padanya. Gila! Luar  Biasa! Gila! Sumpah itu bertambah lagi.

Dirinya tak percaya jika anak tetangganya yang baru berusia delapan tahun bisa melukis seperti ini. Lukisannya bercerita, dan ceitanya jelas hingga menimbulkan reaksi semua orang.

“Jadi, bagaimana jawaban saudara? Dengan lukisan ini dan cerita dari yang bersangkutan sudah kami peroleh. Saya kira saudara sudah mengerti mengapa saudara dibawa kemari”.

“Dia anak yang manis pak. Juga penurut. Saya tak menyangka ia bisa melukis seperti ini”.

“Bagus kan? Bukti-bukti ini sudah cukup untuk menahan saudara”. Jawab sang petugas sembari memberi kode kepada anak buahnya.

Danar digiring kembali ke dalam sel. Namun ia masih sempat melirik lukisan Sandrina. Begitu jelas, dengan menggunakan pensil, Sandrina melukis bunga warna hitam tertunduk layu, di sampingnya seorang anak kecil tertindih seorang pria dewasa, lengkap dengan namanya…

Contoh Cerpen Pendek

Judul : Ayo Goyang
Oleh : ‎‎Nur

contoh cerpen pendek.jpg

Malam ini malam Jum’at kliwon.Mang Ujang dan dua temanya,Ucup dan Ali sedang kebagian tugas ronda malam.

Untuk menggusir sepi mang Ujang keliling kampung dengan ditemani radio butut yang di slempangkan di pundaknya.

Lagu-lagu dangdut mengalun merdu.Kali ini mang Ujang mengencangkan volume radionya,maklum lagu favoritnya sedang diputar.

“Ayo goyang dumang…
“Biar hati senang..
“Semua masalah jadi hilang….

Sambil terus berjalan mang Ujang mendengarkan sambil mengikuti gerakan-gerakan goyang dumang yang sering dilihatnya di TV.

Karena kebanyakan mangap-mangap,satu nyamuk nyasar masuk ke dalam mulut mang Ujang.
“Uhuueekkk…uhuueekk…!!

“Ihhh….kok berhenti sihh…!!

Dan ketika mang Ujang menoleh,ada segerombolan kunti yang ternyata juga lagi bergoyang sambil mangap-mangap,mengikuti goyangan mang Ujang.Coba bayangin oohh….oohhh…malam ini rupanya mang Ujang lagi jadi instruktur goyang dumang buat para kunti.

“Aarrrrhhh….!!!mang Ujang lari terbirit-birit.Dan kunti-kunti itu juga ikut lari.Mungkin kunti-kunti itu berfikir itu juga bagian dari goyang dumang(duyung mangap).Hhhhhhhhh…!!

Contoh Cerpen Pendek

Judul : Celoteh Bocah
Oleh : ‎‎Zuo Jia‎

contoh cerpen pendek

Di saat semua murid Sdn Sukarmaju pergi beristirahat, ada tiga orang anak perempuan yang masih berada di dalam kelas. Ketiga anak kelas empat itu sedang asyik berdiskusi tentang masalah percintaan artis idola mereka.

“Wulan! Kamu dengerin gak sih? Kok, dari tadi senyam-senyum aja?” tanya Rini berapi-api.

“Iya, kaya orang gila aja! Kasih tahu ada apa … kelleeeez,” sambung Nadia.

“Enggak, cuman lagi seneng aja …. Soalnya, besok ayah aku mau nikahin kakak perempuan aku,” ucap Wulan.

“Oh~ sama donk!” kata Nadia lantang.

Sontak Rini dan Wulan menoleh kearah temannya itu, sepengetahuan mereka, Nadia adalah anak tunggal.

“Kamu ‘kan gak punya kakak, Nad!?” ucap Rini penuh tanya.

Dengan percaya diri Nadia berkata, “minggu depan, ayah aku mau nikah lagi. Jadi entar istrinya ada dua … hahahaha.”

Contoh Cerpen Pendek

Karya : Fitrah Ilhami
Judul : Ngidam

Contoh Cerpen Pendek
lukihermanto.com

Seorang kawan pernah menasehatiku untuk selalu menuruti apa saja yang diinginkan oleh isteri yang sedang hamil. Apa saja. Kenapa? Tanyaku pada kawan tersebut.

“Sudah. Jika tidak ingin punya anak yang suka ngiler atau ngeces,” tuturnya. “Turuti saja apa permintaan isterimu itu.” Sambung kawanku.

***
Ngidam. Adalah hasrat yang kuat untuk melakukan atau memakan sesuatu, dan harus segera direalisasikan. Aku yakin, setiap ibu hamil pasti pernah merasakan hal ini.

Ada yang mengatakan bahwa karakter anak yang dikandung, bisa dilihat dari ngidamnya si ibu saat hamil. Jika ibu mengidam buah-buahan, kemungkinan nanti anaknya pinter dan manis. Jika si ibu mengidam untuk bertemu dengan orang-orang sukses, kemungkinan anaknya akan menjadi seorang pekerja keras. Nah, dari sini aku mengambil kesimpulan bahwa mungkin saat mengandungku dahulu, ibuku mengidam ikan asin dan suka nonton wayang kulit. Hingga hasilnya, tubuhku kurus tipis kayak ikan asin dan wayang kulit seperti ini.

Beda wanita, beda pula ngidamnya. Nah, yang menjadi masalah adalah jika ngidamnya si isteri itu di luar kewajaran. Salah seorang teman pernah bercerita, bahwa saat mengandung anak pertama, isterinya mengidam ngusap kepala botak milik orang lain. Harus kepala botak orang lain! Jadilah, setiap bertemu dengan orang berkepala botak di jalan, sang isteri selalu meminta kepada temanku untuk menghentikan orang botak tersebut, agar si isteri bisa mengusap kepalanya yang plontos itu. Si isteri akan merajuk jika keinginannya tak dikabulkan sang suami.

Tentang ngidam, aku punya cerita sendiri…

Kemarin malam ketika aku hendak tidur, tiba-tiba isteriku bilang kalau ia ingin sekali makan nasi goreng. Aku menyipitkan mata, berniat memberitahunya kalau aku sangat mengantuk. Tapi isteriku tak mau tahu.

“Abang pingin anak kita suka ngiler nantinya?” Tegas isteriku.

Oh, aku langsung teringat pesan temanku dahulu, agar jangan sampai menolak permintaan isteri yang lagi ngidam, kalau tak ingin anaknya nanti suka ngiler. Segera aku bangkit dari tidur dan mengambil jaket. Aku tak bisa membayangkan jika kelak anakku suka mengeluarkan air liur saat bermain bersama teman-temannya. Cukup aku saja yang punya kebiasaan buruk itu, anakku jangan, aku membatin.

“Abang mau ke mana?” tanya isteriku, sesaat setelah aku sempurna membungkus badanku dengan jaket.

Aku mengerutkan kening, “Loh, katanya mau beli nasi goreng?”

“Siapa yang mau beli nasi goreng?” timpal isteriku. “Aku pingin makan nasi goreng,” tambahnya.

“Oh, berarti Neng pingin buat nasi goreng sendiri?”

Isteriku menggeleng, membuat aku semakin bingung. Ternyata selain tidak bisa mengendalikan emosi, ibu hamil ternyata suka punya sifat yang labil.

“Terus kalau gak mau beli, juga gak mau buat sendiri, Neng mau makan nasi goreng dari mana?” tanyaku.

“Aku pingin nasi goreng yang dibuat tetangga sebelah,” jawabnya. “Tuh, bau nasi gorengnya enak banget, Bang. Aku pingin nasi goreng yang itu. Tolong mintakan, Abang. Tolong.” Imbuhnya dengan wajah memelas.

Aneh. Ya, memang tetangga di seberang kos kami sedang memasak nasi goreng. Hidungku pun menangkap aroma harumnya. Tapi permintaan isteriku ini, menurutku, sangat membebani. Jujur, aku malu jika harus meminta-minta makan pada tetangga. Siapa tahu mereka juga sedang kekurangan.

“Neng, aku ndak enak kalau minta ke tetangga.” Ujarku, “aku malu.”

“Ah, Abang. Mau anaknya jadi ngileran?” Ancamnya.

Ya, jelas tidak mau, jawabku. Tapi aku juga malu, masak minta nasi goreng ke tetangga. Setelah kuberi penjelasan cukup lama, bahkan isteriku hampir ketiduran karena ceramahku panjang sekali, akhirnya ia mengerti juga. Sebagai ganti nasi goreng tetangga, aku antar isteriku beli cap cay kesukaannya, di warung ujung gang.

Sepulang membeli cap cay, keanehan isteriku sebagai ibu hamil kembali mencuat tatkala kami melintasi sebuah acara pernikahan di kampung sebelah. Isteriku melihat kotak kue berjajar-jajar di meja penerima tamu. Lalu ia pun menunjuk, “Bang, kue-kue itu sepertinya enak sekali. Minta tolong mintakan ya, Bang.”

Aku menepuk jidat tiga kali, sambil beristighfar. Ya Allah, aku tak diundang di acara pernikahan itu, aku bahkan tak kenal siapa yang punya hajat. Masak iya aku tiba-tiba datang dan minta kotak kue itu secara cuma-cuma? Aku dirundung malu lagi gelisah.

“Abang, ayo!” cecar isteriku membuyarkan lamunanku. “Abang mau anaknya ngeces, ngileran? Aku lagi ngidam, nih, Bang.”

Pikiranku seperti sedang bertarung dengan waktu. Aku harus mencari solusi.

“Kayaknya roti yang dipajang itu ndak enak deh, Neng, “ kataku. “Lihat, mereknya saja ndak terkenal. Kita cari roti yang lebih enak di supermarket aja, aya?”

Isteriku menggeleng. “Ndak mau, aku maunya kue yang itu. Cepetan!”

Aku semakin terjepit, antara perasaan malu dengan keinginan isteri. Namun dalam keadaan itulah aku ingat sesuatu… Isteriku ini sangat percaya pada situs bidanku.com, ia akan mempercayai semua artikel yang ditulis di situs tersebut, bahkan andai di artikel tersebut disebutkan bahwa ibu hamil harus sering-sering mengunyah pecahan piring, ia bakal melaksanakannya. Ini bisa menjadi senjata bagiku. Hatiku bergumam.

“Neng, kata bidanku.com, orang hamil dilarang meminta-minta. Dikhawatirkan, karakter anaknya nanti tidak mandiri, dan ndak mau bekerja keras.” Tuturku dengan suara kumirip-miripkan dengan motivator terkenal Mario Teguh. Sayang, suara yang keluar dari mulutku lebih mirip suara anak kucing yang terjebak tumpukan kotoran di tong sampah.

Yang kuajak bicara, terlihat sedang merenung. “Iya, tah, Bang?” Ragu-ragu isteriku berucap.

Aku mengangguk.

“Ya udah, deh, kalau kata bidanku.com seperti itu. Ayo pulang.” Isteriku mengalah.

Tuh, benar, kan. Dia akan segera mempercayai apa yang kukatakan, asal aku mengawali ucapan dengan kata-kata sakti, “Kata bidanku.com… bla bla bla…”.

Dan kami pun melangkah menuju kos.

***

Pesan dan kesan:

Anakku, kelak jangan suka ngiler, ya? Bukan, bukan karena ayahmu ini tidak mau mengabulkan apa yang diidamkan ibumu, tetapi permintaan ibumu terlalu ekstrim, Nak.

Contoh Cerpen Pendek

Karya : Fitrah Ilhami
Judul : Balada Tahu Tempe

Contoh Cerpen Pendek

Harus berhemat, dua kata inilah yang sering digaungkan isteri padaku di awal-awal pernikahan kami. Dua kata yang menurutnya, bisa mengamankan kondisi keuangan kami sebagai sepasang pengantin baru. Namun, dua kata ini jugalah yang kelak bisa membuat perutku meringis nelangsa…

***
Perkara makan adalah bidikan pertama isteri dalam merealisasikan program penghematan yang ia canangkan. Rencananya begini, isteriku akan pergi ke pasar tiap pagi untuk beli bayam, atau kangkung yang akan diolah menjadi makanan sayur. Sedang untuk lauknya, ia hanya beli tahu dan tempe.

Tak lupa ia juga membeli tomat, cabai, dan terasi, yang nantinya akan disulap menjadi sambal terasi olehnya. Menurut isteriku, hanya tahu dan tempe sajalah makanan yang bisa mewujudkan ambisinya untuk berhemat.

“Berarti selama tiap hari kita makan tahu tempe, Neng?” tanyaku memelas.
Ia mengangguk mantap, “He’em.”

Aku menepuk jidat. Bahaya. Ini berbahaya, batinku bergema. Dengan nafsu makan mirip kuli bangunan, tidak bisa dibayangkan jika aku akan hidup hanya makan dengan tahu dan tempe saja tiga kali sehari.

“Tapi, Neng. Sepertinya kalau cuma makan tahu sama tempe saja, nilai gizinya pasti kurang terpenuhi.” Aku mencoba berdiplomasi.

Yang kuajak bicara tetap bergeming. “Tahu dan tempe itu terbuat dari kedelai, jadi gizinya pasti banyak.”

“Tapi…”

“Gak ada tapi-tapian…” isteri memotong kalimatku. “Kita harus berhemat, Abang.”

Aku menggaruk leher yang memang gatal karena panu, “Baiklah,” aku mengalah.

Dan mulai saat itulah kami makan tahu, tempe, ditambah sayur kangkung dan sambal setiap harinya….

“Dinikmati saja, Bang.” Begitu kata isteriku, ketika kami akan memulai suapan pertama sarapan dengan lauk tahu dan tempe.

Aku mengangguk. Ya, akan kunikmati.

Benar kata orang, kalau makan bersama orang yang dicintai itu, semuanya terasa nikmat. Dan ajaib! Aku merasakan hal itu ketika makan bersama isteri. Meski hanya dengan lauk tahu dan tempe, namun yang terasa di lidah seperti sedang makan ayam goreng.

Nikmat sekali. Apalagi makannya diselingi canda seperti saling lempar cuilan tempe atau tahu ke muka masing-masing. Ah, senangnya.

Kegiatan makan olahan kedelai itu berlangsung rutin selama berhari-hari. Sampai-sampai setiap habis makan tempe dan tahu, aku sering berkaca di spion motor karena takut wajah ini sudah dipenuhi jamur ragi. Jujur, aku mulai bosan makan itu-itu saja.

Pernah sekali waktu aku berujar ingin makan dengan jenis lauk yang lain, bukan tempe tahu saja, eh, isteri malah belikan aku telor ayam suntik. Yang penting makanan baru, begitu katanya. Padahal aku pingin makan ikan yang bisa berenang, seperti mujaer, atau lele, gitu.

Tapi pagi itu, aku lupa tepatnya hari apa, Tuhan seolah sedang berbaik hati padaku. Kala itu, kami akan sarapan pagi, tetap dengan rencana makan lauk tahu-tempe-sambal. Nah, nasi yang akan kami makan itu adalah sisa tanakan kemarin malam.

Mungkin karena keanginan sebab lupa ditutup dengan kain serbet, sehingga nasi tersebut masuk angin, dan menjadi keras, orang bilang sudah jadi aking. Isteri melarangku untuk makan nasi aking itu. Tapi aku menolak dan kukuh akan memakannya.

Aku ingat sewaktu aku masih kecil, ibu pernah berpesan padaku agar tidak sekali-kali membuang nasi, karena nasi yang terbuang akan menangis di dalam bak sampah. Benarkah? Benarkah nasi bisa menangis kalau dibuang?

Pertanyaan inilah yang kemudian membuatku penasaran dan akhirnya bereksperimen dengan membuang sisa nasi ke tempat sampah, tak lama berselang, kusorongkan telinga ke dalam tong sampah.

Benar saja, telinga ini mendengar suara tangisan, bunyinya, “Meong-meong-meong…” setelah kuteliti lagi, ternyata suara tersebut berasal dari anak kucing yang sedang terjepit tumpukan sampah di dalam tong.

“Abang akan tetap memakannya,” kataku tegas, sesaat setelah isteri mencegahku untuk makan nasi aking tersebut. “Kata orang tua, kita gak boleh membuang nasi, kalau gak ingin jauh rezeki.” Imbuhku. Sengaja kuutarakan alasan kalau membuang nasi bisa jauh rezeki, bukannya nasi yang dibuang bisa menangis, agar isteriku takut. Takut miskin.

Aku memulai suapan pertama, kukunyah nasi keras itu dengan sekuat tenaga.
Dan isteriku menangis. Ia benar-benar menangis.

“Hu…Hu…Hu…. Maafkan aku, Bang.” Ujar isteriku sesenggukan. “Aku memaksa berhemat, tapi malah buat Abang menderita seperti ini.”

Aku menghentikan aktivitas.

“Aku ndak merasa menderita, kok.” Ujarku sembari mengusap air matanya pakai kain serbet.

Oh, andai saja Hanung Bramantyo melihat adegan mengharukan kami berdua saat itu, boleh jadi ia akan memaksa kami untuk menjadi pemeran utama film Habibie-Ainun, menggantikan Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari. Tapi karena sudah terlanjur tayang, mungkin nanti Hanung Bramantyo akan menyuruh kami berdua ikut casting jadi pemeran utama film Laptop Si Unyil.

“Bang,” ujar isteriku, masih dengan terisak. “Aku kasihan sama Abang. Ya sudah mulai besok kita beli lauk yang lain, ikan mujaer mungkin.” Tandasnya.

Aku terkesiap. “Benarkah? Abang boleh makan mujaer?” tanyaku girang.
Isteriku mengangguk.

Ah, aku menyesal, kenapa baru sekarang aku menyadari kalau nasi aking bisa membuat isteriku luluh. Mengerti begitu, sedari awal kan aku bisa sengaja mengangin-anginkan nasi biar keras.

Jadilah setelah itu, kami berdua pergi ke pasar. Bukan, bukan untuk mengamen. Tapi untuk membeli ikan mujaer. Sesampai di tempat tujuan, terjadilah tawar-menawar.

“Bu, ikan mujaernya berapaan?” tanyaku.

“Setengah kilo delapan ribu. Isi empat.” Jawab penjual.

Aku menawar, “Enam ribu, ya? Tuh, buntutnya saja sudah bocel.” Aku menerapkan teori umum jual beli: menjelek-jelekkan dagangan orang biar dapat harga murah.

“Gak boleh.” Tegas penjual, tak terima dagangannya dihina olehku.

Akhirnya setelah melalui tawar-menawar dengan sengit –malah hampir jambak-jambakan pula– kami pulang dengan membawa sekantong mujaer. Setiba di kos, kami langsung bersiap untuk memasaknya. Setelah berhari-hari rutin makan ikan tahu-tempe-sambal, akhirnya keturutan juga makan ikan yang bisa berenang, batinku bergejolak riang.

“Bang, sepertinya tadi lupa beli bawang, deh.” Ujar isteriku, sepersekian detik sebelum aku memotong ikan.

Setelah memeriksa kantong plastik, ternyata benar kami lupa beli bawang putih untuk menggurihkan ikan. Ya, sudah, kami pergi kembali ke pasar dan meletakkan ikan mujaer di dekat kompor. Oh, iya, perlu diketahui, kompor yang kami gunakan untuk memasak, terletak di lorong gang, persis di depan pintu kamar kos.

Hal ini disebabkan kurang memungkinkannya kompor tersebut diletakkan di dalam kamar kos kami yang mungil itu.

Sepuluh menit berselang, kami kembali ke kos dengan tangan menenteng bawang putih, hati kami bersukacita membayangkan betapa nikmatnya mujaer itu setelah dimasak nanti…

Namun, aneka bayangan kegembiraan itu sempurna luluh lantak, tatkala indera penglihatanku menangkap seekor kucing sedang merobek-robek kantong plastik isi ikan mujaer yang baru kubeli. Dan alangkah lebih terkejutnya diri ini saat mengetahui bahwa kucing bunting itu telah menyantap habis tiga ekor mujaer, dan saat ini sedang menjilat-njilat satu ekor sisanya.

Aku berlari hendak mengusir kucing nakal itu. Kucing itu melesat ke luar gang dengan membawa seekor mujaer yang terakhir. Aku menatap ikan tersebut dengan nanar. Duh, Tuhan, aku sudah memimpikan bisa makan selain tahu dan tempe.

Tapi kenapa impian itu seketika lenyap saat sudah di depan mata? Batinku memelas. Kuusap wajahku yang kebas dengan kedua tangan. Aku tak bisa berkata-kata. Suasana menjadi hening untuk beberapa waktu.

“Ndak apa, Bang,” isteriku menepuk pundakku. “Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk lebih sering makan tahu-tempe-sambal.” Imbuhnya.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Pendek, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Pendek. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

1 thought on “Kumpulan Contoh Cerpen Pendek Dengan Beragam Genre

Leave a Comment