Contoh Cerpen Panjang - Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.

4 Contoh Cerpen Panjang Yang Bakal Bikin Kamu Harus Bersyukur Sama Hidupmu Saat Ini

Contoh Cerpen Panjang – Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.

Semoga dengan membaca tulisan cerpen panjang ini, kamu dapat mengambil satu pelajaran penting dari sini.

Contoh Cerpen Panjang Lucu

Judul : Tiga Sahabat yang Beruntung saat Imlek
Karya : Fitrah Ilhami
Contoh Cerpen Panjang - Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.

Pagi-pagi sekali, Faisal, Wahyu, dan Salim, pergi bersama menuju Klenteng, tempat ibadahnya umat Khonghucu. Hari itu adalah hari raya Imlek. Dan setiap tahun baru China itu tiba, di Klenteng itu, orang-orang China selalu membagi-bagikan angpao uang yang dimasukkan dalam amplop warna merah kepada warga sekitar.

Di hari itu, setiap tahun, selalu membeludak anak-anak, remaja, dewasa, bahkan jompo yang mengantri di pintu Klenteng untuk mendapatkan angpao. Hal itulah yang membuat Faisal, Wahyu dan Salim, berinisiatif untuk pergi ke Klenteng pagi buta. Biar mendapat nomor antrian awal, kata mereka.

Tak dinyana, bahkan matahari belum juga bangun dari tidurnya, ketiga sahabat itu sudah mendapati Klenteng penuh sesak oleh warga. Wah, bakalan antri panjang ini ceritanya, mereka membatin.

Selang beberapa jam, suasana mulai agak rusuh saat satu dua orang China turun dari mobil mewah lantas masuk ke dalam Klenteng dengan membawa tas. Benar saja, Faisal, Wahyu dan Salim, saling injak dengan warga lain saat mereka merangsek masuk ke dalam pintu Klenteng yang dijaga oleh orang tua kurus berperawakan China.

Suasana Klenteng pastilah sempurna rusuh andai satu menit sebelumnya, tak ada sepasukan polisi yang turun dari truk polisi untuk menertibkan warga. Awalnya polisi tersebut hanya menghimbau kepada warga yang mulai ribut itu, “Jangan rusuh ya?”; “Tenang, ya?”

Tapi karena himbauan itu tak berefek signifikan, dan warga tetap ribut sebab berusaha mendapatkan angpao lebih dahulu, maka komandan pasukan polisi itu membuat kebijakan kontroversial; “Siapa yang punya hubungan kekerabatan dengan orang China, dia boleh duluan masuk Klenteng dan mengambil angpao. Kalau tetap ribut, siap-siap kepala dipentung,” begitu ujar komandan polisi sembari mengangkat tongkat pukul di udara.

Semua orang, termasuk Faisal, Wahyu dan Salim, beringsut mundur menjahui pintu Klenteng, takut benar-benar dipentung komandan polisi.

Dan komandan polisi itu pun mulai menunjuk satu persatu warga.

“Hey, kamu,” komandan polisi menunjuk seseorang. “Kamu punya hubungan kekerabatan dengan orang China?”

Yang ditunjuk menggeleng pelan.

“Mundur!” tegas komandan polisi.

Pertanyaan itu berlangsung berulang-ulang, sayangnya tak ada satu pun orang yang punya keturunan China.

Hingga, Faisal tiba-tiba mengacungkan telunjuknya di depan komandan polisi …

“Iya,” kata komandan polisi. “Kenapa kamu tunjuk tangan? Memang kamu punya keluarga dari China?” tanyanya kepada Faisal.

“Iya, Pak. Nenek saya dari China,” Faisal berkelakar. Ia ingin sekali dapat angpao.

“Apa buktinya?” Pak polisi jelas tak percaya.

“Lihat saja kulit saya, Pak. Kulit saya kuning langsat. Ini warisan dari Nenek saya.” Iya, benar, kulit Faisal memang kuning langsat.

Komandan polisi berdehem sejenak, “Masuklah!” katanya.

Faisal pun berlompatan girang, akhirnya dia dapat angpao juga.

***
Melihat Faisal yang bisa lolos dari introgasi polisi, membuat Wahyu tak kurang akal. Ia pun mengacungkan jari di hadapan pak polisi.

“Iya, kamu,” tunjuk komandan polisi. “Kamu mau ngaku punya keluarga dari China juga? Kulit gosong kayak gitu.”

Wahyu segera berkilah, “Loh, jangan salah, Pak. Walau kulit saya gosong, tapi Bibi saya orang China, Pak.”

“Siapa nama Bibi kamu?”

“Bibi Lung, Pak. Yang jadi siluman ular putih itu loh.”

Terbahaklah komandan polisi mendengarnya.

“Pak,” ujar Wahyu. “Bapak lihatlah mataku yang sipit ini. Mata ini warisan dari Bibi Lung.”

Sang komandan melihat mata Wahyu dengan seksama. Iya, mata Wahyu benar-benar sipit. Mungkin anak ini benar punya bibi namanya Lung, pikir komandan.

“Ya, sudah masuklah,” perintah komandan. Giranglah si Wahyu.

***
Kini giliran Salim yang tertahan di pintu gerbang. Salim sadar ia tak punya mata sipit, dan kulitnya pun gosong karena sering main layang-layang. Jadi ia tak punya alasan itu berkilah seperti temannya. Tapi karena ia juga ingin dapat angpao, ia berfikir keras bagaimana cara agar ia juga bisa lolos dari hadangan polisi seperti kedua temannya, Wahyu dan Faisal.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba terbersitlah ide di kepala Salim.

“Pak.” Salim menunjuk tangan kepada komandan polisi.

“Ini juga mau apa, sipit kagak, gosong iya. Siapamu yang dari China, hah?” Komandan polisi menyeringai, meremehkan Salim.

“Hape, Pak. Hape saya asli dari China.” Jawab Salim.

Komandan polisi menelan ludah. “Masuklah, saya ikut. Hape saya juga dari China, kok.”

Contoh Cerpen Panjang pengalaman pribadi

Judul : Kisah Sang Kontraktor (Pencari Rumah Kontrak)
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Panjang - Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.

Dua hari ini aku dibantu adikku, yang kebetulan sedang libur kuliah, lagi serius cari kontrakan rumah untuk aku tinggali bersama istri dan anakku nanti. Beberapa alamat sudah terkantongi.

Namun ketika kusurvei rumah-rumah itu, masalah mulai muncul. Ada yang harga sewanya murah tapi bangunannya tak layak. Ada yang bangunannya layak namun harga sewanya tidak murah. Hingga hari pertama pencarian berakhir tanpa hasil.

“Cak, ini aku dapat info ada rumah dikontrakkan,” ujar adikku pada hari kedua. “Aku juga udah dapat kontaknya. Nama pemiliknya Pak Yon. Aku telepon dulu, ya?”

“Iya telepon saja, Dek.” Aku tersenyum sembari berharap mudah-mudahan hari ini dapat kontrakan yang layak dan ramah dompet.

Mulailah adikku menelepon Pak Yon. Setelah bicara beberapa saat, ia pun menutup teleponnya.

“Kontrakannya sudah laku katanya, Cak,” tutur adikku lemah. “Tapi Pak Yon bilang kalau ada rumah dikontrakkan di daerah deket kampusku. Ini aku dikasih alamatnya. Mau lihat?”

“Ayo!” seruku. “Lihat aja siapa tahu cocok.”

Setelah makan siang, kami berangkat ke alamat yang diberikan Pak Yon.

30 menit kemudian, sampailah kami di alamat yang tertera. Di sana nampak ada sebuah rumah berukuran tak terlalu besar yang sedang direnovasi. Dalam rumah itu juga kosong tanpa ada satu perabot-pun.

Ah, rumah ini cocok. Pasti gak mahal. Aku membatin.

Tak pakai lama, aku langsung turun dari motor, lantas mendekat pada orang yang sedang merenovasi rumah tersebut.

“Assalamualaikum,” kataku. “Siang, Pak. Berapa harga sewa rumah ini per tahunnya?” Aku yang memang tak pandai berbasa-basi langsung to the point.

“Sewa apa, ya?” Yang kutanyai malah nampak bingung.

“Loh, bukannya rumah ini dikontrakkan?”

“Siapa yang bilang, Mas?” tanyanya lagi.

“Pak Yon,” jawabku.

“Pak Yon siapa ya?”

Kali ini aku yang kikuk. “Eh Bapak gak kenal Pak Yon?”

“Gak kenal.”

Mati aku!

“Tapi benar kan alamat rumah ini adalah ini?” aku menyodorkan selembar kertas berisi tulisan alamat yang dikasih Pak Yon tadi.

“Iya benar,” ujarnya. “Tapi ini rumah saya Mas. Dan gak saya kontrakkan.”

Aku makin kikuk. “Ta-tapi kok rumahnya kosong, Pak?”

“Emang sengaja saya kosongkan karena mau direnovasi. Bulan depan ada hajatan di sini soalnya.”

Mungkin wajahku kini tampak pucat karena malu.

“Oh ya sudah kalau begitu, Pak. Maaf, saya mohon pamit dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Aku langsung loncat ke sepeda motor, menyalakan mesin, lantas buru-buru pergi sembari ngomel dalam hati, “Dasar Pak Yon edan! Rumah orang main dikontrak-kontrakin aja!”

Pencarian hari kedua, gagal maning.

Contoh Cerpen Panjang tentang pengalaman pribadi

Judul : Ini Dirimu-kah, Dek?
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Panjang - Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.

Teman-teman biasa memanggilku: Ila.

Aku dilahirkan dari rahim perempuan yang bernama Suryati, di Surabaya pada 10 November 1996, tanggal yang sama dengan peristiwa pertempuran antara Arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu Inggris, demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, 51 tahun yang lalu.

Aku merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Ketiga kakakku sudah berumah tangga, sedang keempat adikku masih duduk di bangku sekolah.

Selama sekolah, aku dapat dikatakan sebagai murid berprestasi. Aku tak pernah terlempar dari urutan 5 besar. Bahkan saat aku masih berseragam putih abu-abu di SMA Negeri 8 Surabaya, aku langganan menjadi juara kelas.

Dengan bekal juara kelas itulah, setelah lulus sekolah, aku memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Siapa yang tak ingin kuliah di kampus paling ternama di Kota Pahlawan ini? Aku yakin semua murid SMA akan mati-matian agar bisa kuliah di kampus tersebut.

Aku pun mengikuti tes seleksi, jurusan yang menjadi target utamaku adalah S1 Ekonomi. Beberapa bulan berlalu, hasil tes pun keluar, sayangnya tak ada namaku di daftar mahasiswa baru di jurusan yang kutuju. Aku tak lolos tes. Kecewa? Sangat. Tapi keinginanku untuk kuliah masih menggebu di dalam benak.

Selang beberapa tempo, aku mendengar bahwa di D3 Jurusan Manajemen Pemasaran UNAIR membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru. Kesempatan itu benar-benar tak kusia-siakan, apalagi aku memang suka jualan saat masih SMA dulu.

Aku ingat bahwa saat itu aku pernah menjual apa saja ke teman-teman sekelas, mulai jajanan ringan, hingga kerajinan tangan berupa bross, yang kubuat sendiri. Sepertinya Manajemen Pemasaran akan menjadi jurusan yang cocok buatku, aku membatin.

Akhirnya, aku mengikuti tes tersebut, dan Alhamdulillah aku lolos. Ah, aku senang bukan main. Saat mengetahui namaku terpampang pada daftar mahasiswa yang diterima, aku langsung menghubungi kedua orang tuaku lewat telepon. Orang tuaku sungguh gembira, setidaknya itulah yang kurasakan saat mendengar nada bicaranya lewat telepon.

Tetapi …

Ada satu hal yang membuat aku juga kedua orang tuaku bingung. Ya, saat itu perekonomian Bapakku, H. Tohir Salim, berada pada titik nadir. Bapakku mengalami kebangkrutan dalam bisnisnya. Jangankan untuk membayar uang masuk kuliahku yang sebesar 8 juta rupiah, bahkan untuk makan sehari-hari pun Bapak suka berhutang kepada teman-temannya.

Aku kalut. Sempat terpikir untuk menunda kuliahku tahun ini.

“Jangan. Kamu harus kuliah. Biar Bapak yang mengusahakan uang masuk kuliahmu.” Begitu ujar Bapak saat aku mengatakan bahwa tahun ini aku bekerja saja dan tidak jadi kuliah tahun ini.

Aku tak sepenuhnya tahu apa yang dilakukan Bapak untuk ‘mengusahakan’ biaya masuk kuliahku. Tapi yang jelas aku jarang sekali melihat ia di rumah. Mungkin Bapak sedang mencari hutangan ke sana kemari, pikirku. Hari berganti minggu, minggu pun bergulir menjadi bulan.

Bapak masih juga tidak menemukan hutang, sedang biaya masukku harus dilunasi seminggu lagi. Aku makin kalut. Apakah aku harus merelakan kuliahku tahun ini? Aku terus membatin.

Dua hari sebelum batas terakhir pembayaran … Bapak masih tak menemukan hutangan.

Hingga hari Jum’at, hari terakhir pembayaran, dan aku pun mulai putus asa ketika dengan gontai Bapakku masuk ke dalam rumah dan berucap, “Bapak belum dapat hutangan, Nak.”

Bagaimana ini? Aku terus bertanya pada diri sendiri. Ah, Mbak Us. Iya, mungkin Mbak Us bisa membantu. Mbak Us, adalah kakak sulungku, ia bekerja sebagai pembawa acara di berbagai event di Jawa Timur. Barangkali aku bisa meminjamnya.

Aku langsung mengontak kakakku dan bilang kalau aku butuh uang untuk pendaftaran kuliah. Sebenarnya Mbak Us juga tidak memiliki uang saat itu, karena ia harus membayar kontrakan rumah dan biaya kuliahnya sendiri (Mbak Us melanjutkan kuliah juga di S1 Ekonomi UNAIR).

Tapi akhirnya Mbak Us bisa membantuku untuk melunasi biaya masukku yang 8 juta itu. Walau pada suatu saat kelak aku tahu bahwa untuk melunasi pembayaranku, ia harus menggadaikan surat kendaraannya.

Akhirnya aku resmi menjadi bagian dari keluarga besar Civitas Akademia Manajemen Pemasaran Unair. Senang bukan buatan rasanya jadi mahasiswa. Meski pada perjalanannya, aku merasakan tugas menumpuk-numpuk yang harus kuselesaikan.

Sepertinya, tugas-tugas itu telah menyita waktuku. Ah, mungkin karena aku merasa excited belajar di kampus ini, aku tak merasakan tugas-tugas itu sebagai beban. Aku sangat rajin mengerjakan tugas tersebut. Tak heran jika teman-teman, selalu ingin satu kelompok denganku, hehehe.

Dan, satu semester pun terlewati … setelah ujian, libur pun tiba. Berbeda dengan teman-teman yang mungkin mengisi hari libur dengan pulang kampung, atau liburan ke tempat-tempat wisata, aku langsung berfikir untuk mengisi libur semester ini dengan bekerja.

Ya, aku sadar harus bekerja untuk bisa membayar uang semester ini yang sebesar 2 juta rupiah. Setelah melamar kerja kian kemari, akhirnya aku mendapat pekerjaan sebagai penjaga counter pulsa, dengan gaji 750 ribu per bulan.

Memang gaji itu tidak cukup untuk menebus uang semesteran, tapi daripada tidak? Ya, mending kukerjakan saja. Aku bekerja dengan dua jam kerja; jam 6 pagi sampai 2 siang, atau jam 2 siang sampai 10 malam. Capek? Tentu saja. Tapi aku harus kuat.

Rasa capai saat kerja itu benar-benar hilang, mirip api liliin yang ditiup kencang, saat aku mengetahui bahwa IPK-ku bernilai 3,95. Nyaris sempurna.

Ya Allah, inikah buah rajinku berdoa dan berusaha selama satu semester ini? Aku menghubungi kakak-kakakku, untuk minta traktiran karena aku telah melampaui ekspekatasi mereka. Kakak-kakakku pun mengiyakan inginku.

Namun aku kembali kelimpungan pada tenggat akhir pembayaran semesteran. Kuambil uang gaji sebagai pegawai konter yang sebesar 750 ribu, lalu minta bantuan ke kakak keduaku, M. Fitrah Ilhami. Saat itu kakakku hanya bisa memberiku uang 500 ribu, sebab dia juga harus menafkahi istrinya.

Lantas sisanya, Ibuku berhutang lagi. Hingga uang itu genap 2 juta dan dibayarkan ke bank.

Ah, aku tak ingin seperti ini terus. Aku ingin seperti teman-teman yang bisa belajar dengan tenang, tanpa memikirkan biaya kuliah. Hingga aku berfikir bahwa mencari beasiswa-lah salah satu jalan agar aku bisa mewujudkan keinginanku ini.

Semoga dengan mendapat beasiswa itu, aku benar-benar bisa kuliah dengan nyaman, serta meraih prestasi jauh lebih tinggi daripada yang sekarang ini.

Contoh Cerpen Panjang Pendidikan

Judul : Bahaya Handphone ‘QWERTY’
Karya : Fitrah Ilhami
Contoh Cerpen Panjang - Contoh-contoh cerpen ini ditulis untuk menjadi refrensi anda dalam menulis cerpen tentang pendidikan, liburan, persahabatan, ibu, kehidupan sehari-hari, hal-hal lucu, diri sendiri ataupun tentang pengalaman pribadi.
http://cthulhujugend.blogspot.co.id
Tahukah Anda tentang handphone QWERTY? Ituloh, handphone yang kalau huruf pada keypad paling atas diurutkan dari kiri ke kanan, maka akan menbentuk kata QWERTY.

Aku baru beli handphone bermodel seperti itu dua hari yang lalu. Namun, handphone QWERTY ini ternyata bisa berbahaya jika kita tidak fokus saat menggunakannya. Tak percaya? Ini dia kisahnya …

***
Siang itu, seorang perempuan sedang mengirim pesan kepada seorang baby sitter lewat SMS. Ia hendak bertanya kepada baby sitter, apakah si buah hati yang dititipkannya baik-baik saja?

Ya, selain menjadi ibu dari anak yang masih berusia 4 tahun, perempuan itu juga seorang pegawai kantor yang bekerja mulai jam 9 pagi, dan baru pulang pada pukul setengah 5 sore.

Suaminya pun bekerja dengan intensitas waktu yang sama. Maka, agar anaknya terkondisikan dengan baik, perempuan itu menitipkan si kecil ke Tempat Penitipan Anak, selama ia bekerja.

“Bu, bagaimana kondisi anak saya?” begitu pesan singkat yang dikirim kepada si baby sitter.

Terbalas. Sebenarnya si baby sitter itu ingin menjawab pesan itu lewat handphone QWERTY miliknya dengan kalimat, “Kondisi anak Ibu sangat BAIK.”

Tapi mungkin karena ia sedang sibuk atau mengantuk jadi ia tidak fokus saat mengetik balasan pesan (ingat! Pada handphone QWERTY, huruf I dengan U posisinya bersebelahan), hingga si baby sitter itu mengetik jawaban seperti ini, “Kondisi anak Ibu sangat BAUK.”

Karena salah paham, dikirimi pesan seperti itu, perempuan yang menitipkan anaknya tersebut menjadi naik darah. APA? ANAKKU SANGAT BAUK? Pikirnya. Enak saja, tadi pagi kumandikan si kecil pakai sabun colek setengah botol masih dibilang bauk? Ah, baby sitter ini menghinaku, lanjut perempuan itu membatin.

Tak ingin memperpanjang masalah, perempuan itu kini bertanya soal lain.

“Lalu, hari ini anak saya diberi makan siang apa?” ketik perempuan itu. Terkirim.

Pesannya berbalas cepat. Namun kali ini jawaban si baby sitter sungguh meremas-remas perasaannya sebagai seorang ibu. Begini teks balasannya, “Anak Ibu baru saja kami beri makan TAHI.”

Deg. Detik itu pula, perempuan itu langsung ijin pulang kepada atasan, lalu melesat menuju Tempat Penitipan Anak untuk membawa buah hatinya pulang ke rumah. Anakku bisa kejang-kejang kalau terus-terusan diberi makan tahi, gerutunya.

Padahal, andai perempuan itu mengerti bahwa sebenarnya si baby sitter itu ingin mengatakan, “Anak Ibu saja kami beri makan TAHU.” Sayangnya baby sitter itu kembali gagal fokus sampai lagi-lagi ia salah meletakkan huruf terakhir.

Contoh Cerpen Panjang

Judul : Sekali Kucek
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Panjang

Menjalani kehidupan berumah tangga, benar-benar membentukku menjadi pribadi yang berbeda dengan saat bujang dahulu. Waktu bujang, aku yang punya kebiasaan tidur mirip orang koma ini, baru bisa bangun tatkala mendengar Ibuku berkata, “Nak, ayo bangun, waktunya makan.”

Sekarang, saat sudah punya isteri, aku selalu terlonjak dari tidur ketika isteriku bilang, “Bang, ayo bangun! Tidur mulu kerjaannya, cari duit sono.”

Maklum, untuk perkara tidur ini, aku sangat terinspirasi kisah Ashabul Kahfi, tujuh orang shalih yang bisa tidur di dalam gua selama 300 tahun.

Sebelum berumah tangga, tak pernah rasanya tangan ini menyentuh detergen untuk mencuci baju. Karena dahulu, jika merasa baju sudah kotor, aku tinggal lempar ke bak cucian, dan dua hari selanjutnya baju itu sudah terlipat rapi di lemariku karena sudah dicuci dan disetrika oleh Ibu.

Sekarang, keadaan sepenuhnya berubah. Tiap hari aku selalu berhadapan dengan baju kotor, hingga kini tanganku sudah terbiasa menyentuh sabun colek. Ya, demi meringankan beban masing-masing, aku dan isteri saling bagi tugas, isteriku yang masak, aku bagian cuci-cuci.

“Abang capek, ya? Ya, sudah lain kali biar aku saja yang nyuci baju.” Begitu kata isteriku pada suatu waktu, sesaat setelah melihat aku kelar mencuci pakaian.

“Ah, ndak, biasa saja.” Jawabku dengan gaya menyeka peluh di pelipis. “Mencuci baju ini urusan kecil, Neng. Neng, santai-santai saja nonton tivi.” Imbuhku.

Tapi semua yang kuucap barusan tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata mencuci baju itu melelahkan saudara-saudara. Maklum, aku yang sebelum nikah seringnya pegang stick game, sekarang terpaksa harus pegang sikat cuci. Hal itulah yang membuat aku tidak cekatan dalam mencuci baju.

Kadang aku sembarangan mengucek dan menyikat baju, hingga rontok semua kancing baju milik isteri. Kadang juga aku mengulang-ulang mengucek baju, karena takut masih ada noda di baju tersebut. Tapi yang kulakukan malah membuat kain cucian jadi belel, bahkan hampir robek.

Dan yang paling membuatku nelangsa dari kegiatan mencuci baju adalah, efek detergennya. Ya, karena keseringan bersentuhan dengan detergen, kulit di telapak tanganku terasa panas dan kasar. Saking kasarnya, sampai-sampai aku pernah mencoba mengampelas kayu pakai telapak tangan ini.

Aku juga berpikiran kalau tangan kasar ini bisa kujadikan senjata jika ada orang jahat yang menggangguku, kalau dia macam-macam, tinggal kugosok-gosokkan telapak tangan ke muka si penjahat, kupastikan wajahnya akan codet seketika.

Namun, sepertinya penderitaanku akan segera usai. Sebab, pada suatu waktu, saat iseng menonton televisi, aku melihat iklan detergen yang sangat menarik: Rinso sekali kucek. Di dalam iklan tersebut, terdapat seorang wanita melakukan aksi yang begitu ajaib dalam dunia pencucibajuan.

Ia memasukkan pakaian putih yang penuh noda ke dalam bak cuci yang sudah terisi air dan diberi detergen itu. Lalu, sambil nyengir mirip orang yang menang arisan, si wanita tersebut mengucek (yang terlihat tanpa tenaga) baju kotor itu dengan sekali kucek.

Anehnya, setelah diangkat, baju kotor tadi seketika menjadi putih cemerlang. Seolah habis disulap. Dan, di akhir iklan, wanita peraga itu berkata, “Bersihkan noda hanya dengan sekali kucek.” Tetap dengan memasang senyum menang arisannya.

Aku yang melihat iklan tersebut, langsung mematikan televisi, mengambil dompet, lalu melesat menuju toko. Hebat benar detergen itu. Dengan kemampuan membersihkan noda dalam sekali kucek, aku tak perlu lagi berpayah-payah ketika mencuci baju, batinku sumringah.

“Bu, ada detergen Rinso sekali kucek.” Kataku antusias pada penjual, padahal aku masih di luar pagar toko.

“Masuk dulu, Mas,” kata si penjual. “Ada, kok.”

Tak berlama-lama, kubeli saja detergen sakti itu dan membawanya pulang. Sampai di kos, aku langsung membuka detergen tersebut lalu bersiap untuk mencuci baju. Kusiapkan bak cucian terlebih dahulu, lantas mengisinya dengan air.

Kumasukkan semua pakaian kotor yang ada di lemari ke dalam bak cucian, dan menyucinya dengan Rinso sekali kucek. Sengaja kutiru adegan yang ada di iklan tadi dalam mencuci baju, yakni mengambil baju kotor, mencelupkannya ke bak cucian yang sudah dikasih air dan detergen, menguceknya sekali saja dan menjemurnya.

Aha, ternyata enak juga kalau kerjanya cuma begini, jika sebelumnya aku butuh waktu sekitar sejam untuk mencuci baju, kini dalam waktu sepuluh menit, urusan cuci-mencuci sudah kejar. Mantap. Dengan begini aku bisa menikmati hari libur lebih santai. Aku bersiul-siul.

***
Pagi, besok harinya…

“Abaaang!” isteriku tak sabaran memanggilku, saat aku sedang buang hajat.

“Iya, kenapa, Neng?” kepalaku melongok dari dalam kamar mandi.

“Abang kemarin cuci baju, Ndak?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Iya, nyuci, kok.”

“Tapi kenapa baju-baju ini masih kotor semua, Abang?” isteri makin tak sabaran. Ia menyodorkan satu potong baju padaku. “Nih, lihat, nodanya masih nempel semua. Pasti Abang ndak menguceknya, ya?” imbuhnya dengan tatapan penuh curiga.

“Ngucek, kok. Tapi cuman sekali, karena kemarin Abang pakai detergen Rinso sekali kucek.” Jawabku polos sembari menunjuk bungkus detergen yang tergeletak di samping kotak sampah.

“Abaaang! Abang sudah jadi korban iklan.” Ucapnya setengah kalap.

Melihat ekspresi sangar isteriku itu, aku jadi takut dan kontan menutup pintu kamar mandi, lalu mengucinya. Meski tak ada hasrat lagi untuk menuntaskan hajat.

Balada Tahu Tempe

Harus berhemat, dua kata inilah yang sering digaungkan isteri padaku di awal-awal pernikahan kami. Dua kata yang menurutnya, bisa mengamankan kondisi keuangan kami sebagai sepasang pengantin baru. Namun, dua kata ini jugalah yang kelak bisa membuat perutku meringis nelangsa…

***
Perkara makan adalah bidikan pertama isteri dalam merealisasikan program penghematan yang ia canangkan. Rencananya begini, isteriku akan pergi ke pasar tiap pagi untuk beli bayam, atau kangkung yang akan diolah menjadi makanan sayur.

Sedang untuk lauknya, ia hanya beli tahu dan tempe. Tak lupa ia juga membeli tomat, cabai, dan terasi, yang nantinya akan disulap menjadi sambal terasi olehnya. Menurut isteriku, hanya tahu dan tempe sajalah makanan yang bisa mewujudkan ambisinya untuk berhemat.

“Berarti selama tiap hari kita makan tahu tempe, Neng?” tanyaku memelas.
Ia mengangguk mantap, “He’em.”

Aku menepuk jidat. Bahaya. Ini berbahaya, batinku bergema. Dengan nafsu makan mirip kuli bangunan, tidak bisa dibayangkan jika aku akan hidup hanya makan dengan tahu dan tempe saja tiga kali sehari.

“Tapi, Neng. Sepertinya kalau cuma makan tahu sama tempe saja, nilai gizinya pasti kurang terpenuhi.” Aku mencoba berdiplomasi.

Yang kuajak bicara tetap bergeming. “Tahu dan tempe itu terbuat dari kedelai, jadi gizinya pasti banyak.”

“Tapi…”

“Gak ada tapi-tapian…” isteri memotong kalimatku. “Kita harus berhemat, Abang.”

Aku menggaruk leher yang memang gatal karena panu, “Baiklah,” aku mengalah.

Dan mulai saat itulah kami makan tahu, tempe, ditambah sayur kangkung dan sambal setiap harinya….

“Dinikmati saja, Bang.” Begitu kata isteriku, ketika kami akan memulai suapan pertama sarapan dengan lauk tahu dan tempe.

Aku mengangguk. Ya, akan kunikmati.

Benar kata orang, kalau makan bersama orang yang dicintai itu, semuanya terasa nikmat. Dan ajaib! Aku merasakan hal itu ketika makan bersama isteri.

Meski hanya dengan lauk tahu dan tempe, namun yang terasa di lidah seperti sedang makan ayam goreng. Nikmat sekali. Apalagi makannya diselingi canda seperti saling lempar cuilan tempe atau tahu ke muka masing-masing. Ah, senangnya.

Kegiatan makan olahan kedelai itu berlangsung rutin selama berhari-hari. Sampai-sampai setiap habis makan tempe dan tahu, aku sering berkaca di spion motor karena takut wajah ini sudah dipenuhi jamur ragi. Jujur, aku mulai bosan makan itu-itu saja.

Pernah sekali waktu aku berujar ingin makan dengan jenis lauk yang lain, bukan tempe tahu saja, eh, isteri malah belikan aku telor ayam suntik. Yang penting makanan baru, begitu katanya. Padahal aku pingin makan ikan yang bisa berenang, seperti mujaer, atau lele, gitu.

Tapi pagi itu, aku lupa tepatnya hari apa, Tuhan seolah sedang berbaik hati padaku. Kala itu, kami akan sarapan pagi, tetap dengan rencana makan lauk tahu-tempe-sambal. Nah, nasi yang akan kami makan itu adalah sisa tanakan kemarin malam.

Mungkin karena keanginan sebab lupa ditutup dengan kain serbet, sehingga nasi tersebut masuk angin, dan menjadi keras, orang bilang sudah jadi aking. Isteri melarangku untuk makan nasi aking itu. Tapi aku menolak dan kukuh akan memakannya.

Aku ingat sewaktu aku masih kecil, ibu pernah berpesan padaku agar tidak sekali-kali membuang nasi, karena nasi yang terbuang akan menangis di dalam bak sampah. Benarkah? Benarkah nasi bisa menangis kalau dibuang?

Pertanyaan inilah yang kemudian membuatku penasaran dan akhirnya bereksperimen dengan membuang sisa nasi ke tempat sampah, tak lama berselang, kusorongkan telinga ke dalam tong sampah. Benar saja, telinga ini mendengar suara tangisan, bunyinya, “Meong-meong-meong…”

Setelah kuteliti lagi, ternyata suara tersebut berasal dari anak kucing yang sedang terjepit tumpukan sampah di dalam tong.

“Abang akan tetap memakannya,” kataku tegas, sesaat setelah isteri mencegahku untuk makan nasi aking tersebut.

“Kata orang tua, kita gak boleh membuang nasi, kalau gak ingin jauh rezeki.” Imbuhku. Sengaja kuutarakan alasan kalau membuang nasi bisa jauh rezeki, bukannya nasi yang dibuang bisa menangis, agar isteriku takut. Takut miskin.

Aku memulai suapan pertama, kukunyah nasi keras itu dengan sekuat tenaga.
Dan isteriku menangis. Ia benar-benar menangis.

“Hu…Hu…Hu…. Maafkan aku, Bang.” Ujar isteriku sesenggukan. “Aku memaksa berhemat, tapi malah buat Abang menderita seperti ini.”

Aku menghentikan aktivitas.

“Aku ndak merasa menderita, kok.” Ujarku sembari mengusap air matanya pakai kain serbet.

Oh, andai saja Hanung Bramantyo melihat adegan mengharukan kami berdua saat itu, boleh jadi ia akan memaksa kami untuk menjadi pemeran utama film Habibie-Ainun, menggantikan Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari.

Tapi karena sudah terlanjur tayang, mungkin nanti Hanung Bramantyo akan menyuruh kami berdua ikut casting jadi pemeran utama film Laptop Si Unyil.

“Bang,” ujar isteriku, masih dengan terisak. “Aku kasihan sama Abang. Ya sudah mulai besok kita beli lauk yang lain, ikan mujaer mungkin.” Tandasnya.

Aku terkesiap. “Benarkah? Abang boleh makan mujaer?” tanyaku girang.
Isteriku mengangguk.

Ah, aku menyesal, kenapa baru sekarang aku menyadari kalau nasi aking bisa membuat isteriku luluh. Mengerti begitu, sedari awal kan aku bisa sengaja mengangin-anginkan nasi biar keras.

Jadilah setelah itu, kami berdua pergi ke pasar. Bukan, bukan untuk mengamen. Tapi untuk membeli ikan mujaer. Sesampai di tempat tujuan, terjadilah tawar-menawar.

“Bu, ikan mujaernya berapaan?” tanyaku.

“Setengah kilo delapan ribu. Isi empat.” Jawab penjual.

Aku menawar, “Enam ribu, ya? Tuh, buntutnya saja sudah bocel.” Aku menerapkan teori umum jual beli: menjelek-jelekkan dagangan orang biar dapat harga murah.

“Gak boleh.” Tegas penjual, tak terima dagangannya dihina olehku.

Akhirnya setelah melalui tawar-menawar dengan sengit –malah hampir jambak-jambakan pula– kami pulang dengan membawa sekantong mujaer. Setiba di kos, kami langsung bersiap untuk memasaknya. Setelah berhari-hari rutin makan ikan tahu-tempe-sambal, akhirnya keturutan juga makan ikan yang bisa berenang, batinku bergejolak riang.

“Bang, sepertinya tadi lupa beli bawang, deh.” Ujar isteriku, sepersekian detik sebelum aku memotong ikan.

Setelah memeriksa kantong plastik, ternyata benar kami lupa beli bawang putih untuk menggurihkan ikan. Ya, sudah, kami pergi kembali ke pasar dan meletakkan ikan mujaer di dekat kompor. Oh, iya, perlu diketahui, kompor yang kami gunakan untuk memasak, terletak di lorong gang, persis di depan pintu kamar kos.

Hal ini disebabkan kurang memungkinkannya kompor tersebut diletakkan di dalam kamar kos kami yang mungil itu.

Sepuluh menit berselang, kami kembali ke kos dengan tangan menenteng bawang putih, hati kami bersukacita membayangkan betapa nikmatnya mujaer itu setelah dimasak nanti…

Namun, aneka bayangan kegembiraan itu sempurna luluh lantak, tatkala indera penglihatanku menangkap seekor kucing sedang merobek-robek kantong plastik isi ikan mujaer yang baru kubeli. Dan alangkah lebih terkejutnya diri ini saat mengetahui bahwa kucing bunting itu telah menyantap habis tiga ekor mujaer, dan saat ini sedang menjilat-njilat satu ekor sisanya.

Aku berlari hendak mengusir kucing nakal itu. Kucing itu melesat ke luar gang dengan membawa seekor mujaer yang terakhir. Aku menatap ikan tersebut dengan nanar. Duh, Tuhan, aku sudah memimpikan bisa makan selain tahu dan tempe.

Tapi kenapa impian itu seketika lenyap saat sudah di depan mata? Batinku memelas. Kuusap wajahku yang kebas dengan kedua tangan. Aku tak bisa berkata-kata. Suasana menjadi hening untuk beberapa waktu.

“Ndak apa, Bang,” isteriku menepuk pundakku. “Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk lebih sering makan tahu-tempe-sambal.” Imbuhnya.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Panjangsemoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Panjang. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Tinggalkan komentar