Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

6 Contoh Cerpen Cinta Singkat Dan Menarik Bikin Wanita Baper

Contoh Cerpen Cinta – Berikut ini kami akan sampaikan beragam cerita pendek (cerpen) tentang Cinta. Ketika anda sedang jenuh, anda bisa membaca cerpen ini atau ketika anda membutuhkan ide anda juga dapat menjadikan artikel ini sebagai refrensi anda.

Sebelum kami menyajikan contoh cerpen untuk anda. Alangkah baiknya anda liat video cerpen cinta romantis yang berjudul “Kasih Tak Sampai”. Siapin Tisu Yaa ^_^

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul : Suami Romantis
Karya : Neng Santi

Contoh Cerpen Cinta Singkat Dan Menarik Bikin Wanita Baper

 

Di liburan suatu pagi yang dingin. Nyai menyodorkan segelas teh hangat untuk suaminya yang baru selesai mandi.

“Makasih, Neng. Aiiih … Kamu cantik banget bagai bidadari berdaster warna warni.”

“Halaaah … Akang mah gombal masa iya ada bidadari gendut.”

“Ada lho bidadari gendut berhidung pesek, bidadarinya hati akang.” Satu cubitan mendarat telak di paha akang.

“Neng kita makan di luar yuk! Mumpung liburan.”

“Hayu, Kang. Kemana?”

“Eta ke depan rumah kita di bawah pohon mangga, enak adem.”

“Lhaaa, kirain ke restoran mana gitu.” Neng cemberut merajuk.

“Iiiiih, ini kan tanggal tua yang penting makan di luar kan, Neng. Sudah sana siapkan sayur asem, teri sama jengkol plus sambel terasi ya, Neng.” Neng beranjak masih dalam bibir terkatup manyun, tak lupa dua cubitan mampir di lengan atas akang.

“Hadaaaaw! Ah cubitanmu bagaikan irisan sembilu, Neng sayang.”

“Idiiiih! Romantismu bak ikan belum mandi, bau amis! Membuat neng mual tak kepalang.”

Akang melongo mendengar diksi janggal belahan jiwanya, bukannya setiap saat ikan mandi wong dia hidup di air. Ah, sudahlah.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Cincin Tanda Cinta
Karya : Ida Ah Fauzi Cianjur‎ 

contoh cerpen pendek.jpg

Ustaz Badru Pengasuh sebuah pondok pesantren yang terkenal karismatik itu mempunyai 4 orang istri. Beliau sangat sayang kepada keempat istrinya. Baik waktu, materi ataupun perhatian beliau selalu berusaha adil. Keempat istrinyapun akur dan saling menyayangi.

Setiap hari Jumat, keempat istri termasuk anak-anaknya berkumpul untuk mendapatkan siraman rohani dari Ustadz Badru. Tempatnya bergilir. Minggu pertama di rumah istri pertama, mingu kedua di rumah istri kedua dan seterusnya.

Meskipun mereka akur, namun ada salah seorang dari mereka, yaitu istri keempat yang sedikit manja.
Saat hari Jumat tiba, seperti biasa mereka berkumpul untuk mendengar tauziah dari Ustaz Badru. Tiba-tiba, tanpa di duga, Istri keempat bertanya pada Ustadz, “Ustadz, di antara kami berempat, yang manakah yang paling ustadz cintai?”. Sang Ustadz diam sejenak, kemudian mengatakan, “Akan saya jawab Jumat depan”

Besoknya Ustadz Badru ke pasar membeli empat buah cincin emas. Cincin tersebut kemudian diberikan kepada istri-istrinya seorang satu, sambil berpesan, “Jangan bilang istri-istriku yang lain ya!”

Hari Jumat yang ditunggupun tiba. Dengan tidak sabar keempat istrinya menunggu jawaban dari Sang Ustaz.
Dengan mantap Ustadz Badru berkata, “Di antara istri-istriku yang paling aku sayangi adalah yang kemarin aku beri cincin”.

Keempat istri Ustadz Badru tersenyum puas.
Ustadz Badru girang bukan kepalang.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Sakit Tahu Rasanya
Karya : Mrs. Y

Contoh Cerpen Cinta Singkat

“Mengapa Abang melakukan ini sama Munaroh? Apa salah Naroh?” Mata Munaroh berkaca-kaca.

“Abang minta maaf.” Bang Ocid terlihat bersalah.

“sakit tahu rasanya!”

“Abang harus bagaimana supaya Munaroh memaafkan Abang?”

“menjauh dari Naroh!”

“Abang gak bisa. Abang I love you full sama Naroh.”

“Abang gak lihat! Kaki Abang menginjak kaki Naroh!” Bang Ocid baru sadar kalau kakinya menginjak kaki Munaroh.

“ Maaf.” Sesal Bang Ocid. Munaroh masih meringis kesakitan.

“Jawab pertanyaan Naroh dengan jujur Bang! Selama ini Abang bermain api dibelakang Naroh?”

“Abang gak pernah bermain api. Abang takut terbakar, Naroh.”

“Maksud Naroh, Abang menduakan Naroh kan?!”

“Abang gak pernah menduakan Naroh, Abang …”

“bohong!”

“Abang gak pernah menduakan. Kalau mentiga, me-empatkan cinta Naroh itu benar.”

“Dasar abang jahatt!”

“Naroh salah! Abang ini tukang bakso”

“Munaroh cape punya hubungan dengan Bang Ocid.”

“makanya jangan lari-lari, jadinya cape kan?”

“Abang!!!” Munaroh kehilangan kesabaran. Berbicara dengan Bang Ocid bisa membuat Munaroh stroke. “Mulai sekarang kita p-u-t-u-s (Putus). Jangan pernah menemui Munaroh lagi!” Munaroh pergi meninggalkan Bang Ocid.

“Tunggu!” panggil Bang Ocid. Munaroh merasa bahagia karena Bang Ocid menghentikannya. Munaroh berbalik. “

Munaroh bayar dulu baksonya!”
Munaroh rasanya ingin menelan Bang Ocid dan gerobak baksonya.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul : Aku Memilih Pergi
Karya : Melly Lestari

Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

Langkah ini semakin gontai. Kususuri jalan berbukit terjal menikung sebagaimana suasana hatiku. Dicintai seseorang yang kucintai, tak pelak menumbuhkan rasa bahagia dalam hati.

Mengukir kisah seindah kisah Ali dan Fatimah, namun berakhir layaknya kisah Salman. Cinta yang tersembunyi selama ini telah terbalaskan. Namun orangtuanya tak menghendakiku. Jika salman tertolak karena si wanita lebih memilih sahabatnya. Maka kini aku tertolak karena kondisi keluarga.

Sebelum semuanya lebih menyakitkan, aku yang akan pergi lebih dahulu dan memilih berdamai dengan keadaan.
Satu tahun sudah hari-hari ini kulalui sendiri. Kudengar kabar bahwa dia yang mencintaiku sudah menikah dengan pilihan orangtuanya. Aku hanya berdoa semoga mereka bahagia.

Fajar di ufuk timur, menerbitkan harapan. Fajar datang menggantikan malam yang gelap, di balik kegelapan malam akan datang terangnya fajar dan cahaya dhuha. Kesulitan yang terjadi akan berganti dengan kemudahan. Karena kuyakin semua yang terjadi adalah kehendak-Nya.

Satu tahun dua bulan, dia datang. Datang membawa rombongan keluarganya, mereka meminta maaf, sekaligus ingin mempersuntingku untuk putranya. Karena wanita yang mereka pilihkan dulu telah meninggalkannya tepat di hari pernikahannya bersama sang kekasih.

Memang bukan zaman Siti Nurbaya, namun setidaknya pembelajaran kisah Ali dan Fatimah masih terjaga.
Ketidakpastian, ketidaktahuan, seringkali membuat kita lelah. Bila pergi adalah pilihan, maka pilihlah. Namun satu yang tidak boleh pergi. Cinta pada Allah harus tetap bersemi, abadi.

Karena hanya Dia yang tak pernah terganti, cinta sejati.

Barakallah 💐

Baca Juga : Contoh Cerpen Pendek

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Maaf Aku Masih Mencintainya
Karya : Ahsan Su

Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

“Kenapa kamu tidak bisa melupakan Jeni, Edo? Bukankah ada aku yang siap menggantikannya? Kurang apa aku ini? Banyak pria yang mengejar-ngejar aku, tapi aku lebih memilih kamu, sahabatmu! Bukankah ia sudah tenang di alam sana?” kata Ria meyakinkan Edo.

“Bagaimana aku akan melupakan Jeni? Gara-gara aku ia mati tertabrak mobil. Salah aku sendiri tidak mengawasi kucing kesayanganku itu,” jawab Edo sambil menangis sesenggukan.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Bocah kecil di tinggal sendiri
Karya : APY

Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

Hati-hati, jangan biarkan anak kecil tinggal di rumah seorang diri.

Seperti biasa, mamanya pergi berjualan, papanya ke kantor dan kakaknya ke
sekolah sedang dia di tinggal sendiri di rumah meski baru berumur 4
tahun.

Siang itu mamanya balik ke rumah. Dari luar dia melihat sang anak
tergeletak di atas sofa sedang mainannya berhamburan didekatnya.
Melihatnya seperti itu, dia langsung berlari, memeluk erat, mencium sang
anak dan berkata

“anakku anakku, bangun nak, aku mohon dengar dan lihat mama
sayang.”diucapnya berulang-ulang sambil terusap tangis.

“nak, ayo jawab mama. kamu kenapa? Apa yang terjadi?” kembali memeluk
erat sang anak.

Dengan penuh kekhawatiran dan pikiran macam-macam. pingsanglah, dimakan
hantulah bahkan dikiranya meninggal. Mamanya pun langsung berteriak
meminta tolong dan orang-orang berlarian dengan cepatnya.

Karena melihatnya tergeletak di atas sofa, dan tiba-tiba sang anak
terbangung dan berkata dengan lirih

“mama mama ada apa? Kok rame-rame?” Tanyanya heran

Tanpa menunggu lama ibunya menjawab. Diapun langsung berkata, aku tadi tertidur ma, ketika nungguin
mama pulang, kecapean bermain. Suasana tegang kini berubah menjadi tawa
besar.

Aduhh, anak ini membuat orang-orang panik dan menghebohkan kampung
ternyata hanya tertidur pulas.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul : Aamiin
Karya : Anjell Chute

Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

Nurul yang sedang melamun sambil mainan handphone, sekali sekala mengerutkan dahi. Seperti ada sesuatu hal serius yang sedang dipikirkannya. Mata dan jari jemari tangannya tertuju ke layar handphone, sedangkan pikirannya melayang-layang kemana-mana. Hingga, tanpa sadar Nurul berucap lirih ….

“Tuhan, jadikan dia … jodohku! Aamiin ….”

Tanpa dia sadari juga, jari jemari tangannya ikut menuliskan apa yang diucapkannya itu ke layar handphone, ke … dinding akun facebook miliknya. Otomatis! Banyak yang mendengar do’anya. Dan ….

“Aamiin!” Ayahnya, ikut mengaamiinkan.

“Aamiin!” Ibunya juga ikut mengaamiinkan.

“Aamiin … aamiin … aamiin!” Ketiga adiknya mengaamiinkan.

“Aamiin!” Saudara sepupunya, ikut mengaamiinkan.

“Aamiin!” Tetangga dari sebelah kiri, kanan, depan dan belakang rumah juga ikut mengaamiinkan, serentak.

“Aamiin!” Seseorang yang dimaksud di dalam do’anya itu juga ikut mengaamiinkan.

“Aamiin!” Salah satu teman dari dunia nyatanya, ikut mengaamiinkan.

Tiba-tiba ….

“Bolehkah saya ikut mengaamiinkan?” Celetuk salah satu teman dari dunia mayanya.

“Boleh, silakan. Tulis saja ‘aamiin’ di kolom komentar di bawah ini ya?” Jawabku, selaku penulis cerita.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Shalawat
Karya : Moch. Yacob (Jack)

Contoh cerpen cinta singkat pertama sejati tanah air segitiga bertepuk sebelah tangan lingkungan dalam diam

Hengky, Jack dan Lena sedang asyik melantunkan Shalawat yang berjudul “Kisah Sang Rasul” di tengah perjalanan pulang mengaji.

Lalu merekapun melihat tukang odong-odong di pinggir jalan yang tengah asyik mengayuh, yang di sana terdapat anak-anak seusianya sedang naik.

Lena : “Naik odong-odong yuk!”

Jack : “Ayo, Gimana Heng?”

Hengky : “Yuk!”

Setelah sepakat, mereka bergegas menghampiri odong-odong tersebut.

Abang dong-odong : “Baru pulang ngaji ya, Adik-adik?”

Hengky : “Iya Bang, Kita mau naik dong bang, tapi jangan pakai lagu Abang. Boleh nggak?”

Jack : “Iya Bang, kita aja yang nyanyi”

Abang odong-odong : “Boleh kok. Ayo naik!”

Merekapun berdiskusi memilih lagu yang akan dinyanyikan, dan setelah selesai berdiskusi, mereka langsung saja naik.

Abang odong-odongpun kaget ketika mendengar mereka melantunkan Shalawat yang berjudul Kisah Sang Rasul.

Apalah daya, ingin melarang tak bisa, dengan terpaksa abang odong-odong mengayuh selama 12 menit untuk mereka sampai selesai.

Contoh Cerpen Cinta Singkat

Judul: Bukan Zaman Siti Nurbaya
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Cinta Singkat

“Apa kau yakin, Zen?” tanyaku pada Zen sembari mengerutkan kening tak percaya.

Kepala Zen terangguk mantap, menegaskan kalau dia tidak sedang bergurau. Baiklah, apa salahnya kalau malam ini kuterima ajakannya menonton film bioskop. Ini kejadian langka, bukan?

“Baiklah, tunggu sebentar ya, Ibu mau ganti baju dulu,” aku balik kanan menuju kamar, namun baru tiga langkah, aku berhenti, ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Aku berbalik menyapukan pandangan ke anak lelakiku itu, “Tapi, Zen…”

“Tapi apa, Bu?”

“Apa kau tak malu menghabiskan akhir pekan ini bersama Ibu?”

“Ayolah, Bu. Bukankah ini saran Ibu juga?”

Oke. Aku mengulum senyum padanya, ia membalas senyumku dengan sunggingan di bibir yang tak kalah manis. Ah, wajah itu. Ya, wajah cerah jagoanku itu kembali hadir setelah enam bulan terakhir redup bagai langit tersaput awan mendung.

***
Enam bulan yang lalu…

Aku ingat malam itu jatuh pada Sabtu, 29 Desember, ketika Zen pulang ke rumah dengan berantakan. Air mukanya kusut, langkahnya gontai, tubuhnya limbung, lantas terduduk lemah di kursi ruang tamu. Membuatku yang masih sibuk menyiapkan makan malam di dapur, langsung melontar tanya, “Ada apa, Nak?”

Yang kuajak bicara menutup wajah kebasnya dengan kedua telapak tangan, “Aku sudah putus dengannya.”

Lemah memang suaranya, namun cukup untuk membuatku terkesiap.

Kuletakkan piring di atas meja makan dengan asal, lantas melangkahkan kaki mendekatinya.

“Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?” Tanyaku lagi saat sempurna tubuh ini berjarak sehasta dengannya. Tak ada jawaban. Zen hanya menyapukan pandangannya ke langit-langit rumah. Kedua bola matanya merah berkaca-kaca. Kudapati anak laki-lakiku itu berusaha keras menahan air mata yang hampir tumpah.

“Apa yang terjadi, Nak? Ceritakan pada Ibu. Semoga dengan bercerita, bebanmu dapat berkurang meski hanya sekelumit.” Halus kusentuh pundak Zen yang mengeras dan sedikit berguncang itu. Nafasnya terdengar berat.

Zen mengalihkan sapuan pandangannya kepadaku, dan saat sempurna menatapku, ia langsung meluapkan isi hatinya. Dari sanalah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi…

***
Tarikan tangan kanan Zen pada pedal gas, memaksa jarum spidometer motornya menunjuk angka 40 km/jam secara stabil. Tak terlalu cepat memang, sebab itulah yang sebenarnya diinginkan oleh Zen. Ia ingin menyiapkan segenap mental yang ia miliki sebelum mengungkapkan hasrat sucinya kepada Arum, gadis terkasih yang selama delapan bulan ini membawa warna berbeda dalam hidupnya.

Aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia dalam dunia ini, andai kau mau menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku, dan menjadi penjaga kehormatan nama baik keluarga besar kita kelak. Maukah kau menikah denganku?

Zen mendapat kata-kata tersebut setelah menonton acara motivasi di salah satu stasiun televisi swasta minggu lalu. Berkali-kali Zen menghafal kalimat itu, berkali-kali pula ingatannya lepas, persis lepasnya daun kering dari ranting yang tersapu angin. Duh, mengapa tiba-tiba bibirku jadi kelu seperti ini, batin Zen bercakap.

Zen memperlambat laju motor tatkala ia melihat plang bertuliskan “Taman Budaya”, tempat yang telah disepakatinya dengan Arum untuk bertemu malam ini. Laki-laki itu memakirkan tunggangannya, sembari melirik pergelangan tangan. Jarum kecil pada jam tangan Zen hampir menumbuk angka tujuh, sedang jarum panjangnya bergerak lambat meningkahi angka sepuluh. Kurang sepuluh menit lagi, masih ada waktu untuk mempersiapkan diri. Tak bosan ia mematut-matut wajah di depan kaca spion sepeda motor, sambil berucap pelan pada dirinya sendiri, “Semoga berhasil.”

Yang ditunggu Zen datang tepat waktu. Arum melambaikan tangan, sembari mengulum senyum yang terkesan dipaksakan padanya. Membuat firasat Zen menangkap gelagat yang tak beres. Tak biasanya Arum seperti itu, separuh hati Zen bergema. Ah, hanya perasaanku saja, mungkin ini karena aku terlalu gugup, separuh hatinya lagi berbicara menenangkan.

Langit malam sempurna matang, lampu-lampu kota berjejeran seperti berlomba mencahayai jalanan. Taman Budaya ramai dipenuhi pemuda-pemudi yang ingin menghabiskan malam minggu bersama. Udara malam dibungkus suara tawa. Di panggung sana, tampilan band-band pemula menggenapi suasana hingar-bingar akhir pekan ini.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Zen.” Arum membuka pembicaraan, setelah keduanya memilih tempat yang agak jauh dari keramaian.

Zen, mengangkat pandangan menatap Arum, “Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Baiklah, katakan.” Arum merapikan poninya dengan ujung jari. Sungguh, betapa sebenarnya Zen sangat terpesona menatap wajah ayu milik Arum.

“Kau duluan saja. Apa yang ingin kau sampaikan, Gadisku?” Zen ingin memberikan kejutan pada Arum. Gadis itu menggangguk ringan.

“Zen, aku tak tahu apakah hubungan ini bisa dipertahankan?” Arum menahan nafas, lalu membuangnya dengan desahan panjang.

Dahi Zen terlipat tiga lipatan. “Maksudmu?”

“Kau orang yang baik, Zen. Aku tak ingin terus menyakitimu. Aku ingin kita putus.” Kalimat itu seketika membuat jantung Zen berdebur bagai tambur.

“Tapi kenapa?” Tenggorokan Zen tercekat.
Kali ini Arum tak berani menatap wajah, Zen. “Aku masih mencintainya.”

“Mantanmu?”

Pertanyaan Zen terjawab anggukan kepala Arum.

“Lalu?” Kalimat Zen bergetar, ia tampak menahan gejolak yang ada di dalam hati.

“Maafkan aku, Zen,” tutur Arum bergetar. “Jujur, selama dua bulan ini aku jalan lagi dengannya. Ini memang menyakitkan bagimu, tetapi aku tidak bisa terus bersembunyi seperti ini.”

Zen menumbukkan pandangannya pada Arum lebih lekat. Berharap Arum hanya bergurau. Dan, ketika sadar bawah pengakuan Arum tadi tak sebatas canda, dada Zen bagai tertembus anak panah. Koyak. Wajahnya mendadak pias. Seluruh persendiannya terasa lolos. Semangatnya untuk menyampaikan hasrat menikahi Arum yang sedari tadi menggebu seketika melepuh. Arum adalah cinta pertamanya. Cinta pertama yang ia harap dapat bertahan sampai pernikahan kelak. Sekarang, harapan itu sirna bagai nyala lilin yang terkena tiupan. Fuh. Padam.

Zen bukan tidak tahu kalau dahulu Arum pernah memiliki pacar. Namun, setelah Zen mendengar kabar bahwa gadis yang ia taksir semenjak masih kuliah di semester lima itu putus tersebab dikhiati oleh sang mantan, Zen beranikan diri untuk mendekatinya. Pelan namun pasti, Zen berikan perhatian berlebih pada Arum. Berharap Arum merasakan sinyal cinta yang ia berikan. Gayung pun bersambut, Arum memberikan peluang padanya, hingga pada akhirnya jiwa mereka berdua terikat asmara.

Sungguh, walau dalam setiap pertemuan mereka, Arum selalu menceritakan kenangan di masa lalunya bersama sang mantan kepadanya, Zen tetap sabar dan selalu menanggapi. Meski dalam hati, Zen terusik rasa cemburu, merasa tak dianggap. Hanya saja Zen tak habis pikir jika ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan cintanya akan berbalas pedih di hati. Mengapa dahulu Arum mesti menerima cintanya jika pada akhirnya dia harus tersakiti? Mengapa Arum tega berbuat curang di kala dia mulai meyakini bahwa Arum-lah wanita yang akan menjadi isterinya kelak? Benak Zen bergemuruh.

Arum benar-benar meninggalkan Zen dalam keadaan porak-poranda.

Terhitung dari Sabtu kelabu itu, badan Zen semakin kurus akibat jarang makan. Zen lebih suka melamun. Daya tahan tubuhnya melemah, hingga sering sakit dan banyak pekerjaan kantor yang terbengkalai. Ibu Zen yang semakin hari semakin khawatir dengan keadaan anak tunggalnya itu, berusaha untuk melakukan pendekatan.

“Ibu paham kau sangat sakit hati. Tetapi akan sampai kapan kau terus begini?” raut wajah Ibu Zen begitu sendu menatap anaknya yang semakin lemah. “Jangan habiskan waktu untuk memikirkan dia yang telah menyia-nyiakanmu. Kau pemuda yang baik, Zen. Kelak, belahan hatimu pasti sebaik pribadimu. ”

Bibir Zen tetap terkatup, tak menanggapi.

Enam bulan berselang. Tak ada perkembangan berarti dari kondisi Zen. Hingga Ibu Zen memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan cara lain.

“Sudah lama Ibu tak ke bioskop,” ujar Ibu Zen. “Maukah akhir pekan ini kau menemani Ibu nonton film, Zen?” lanjutnya.

Mengajak anak lelakinya yang berusia dua puluh lima tahun nonton bioskop berdua? Hal konyol, bukan? Sepertinya Ibu Zen sudah kehabisan akal untuk mengajak anaknya mengobrol.

“Emm. Maaf, Ibu lupa kalau kau sudah besar. Mana ada laki-laki seusiamu mau mengajak Ibunya yang tua seperti ini menonton bioskop berdua. Hehe.” Ibu Zen menertawakan dirinya sendiri yang tak lucu. Kemudian memutuskan untuk beranjak pergi dari kamar Zen.

“Apa Ibu serius mau menonton film bioskop denganku akhir pekan ini?” Zen berkata pelan. Yang diajak bicara seketika menghentikan langkah sebelum tubuhnya sempurna ke luar dari kamar tidur Zen, lantas membalikkan badan.

“Asal kau siap dipermalukan teman-temanmu jika ketahuan.” Timpal sang Ibu.

Zen, tersenyum.

***
“Bu, ayo buruan ganti baju. Keburu habis filmnya nanti. Kok malah melamun?” Suara Zen membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya, ini Ibu mau ganti baju dulu.” Tergopoh-gopoh aku masuk kamar. Namun, tiba-tiba kuhentikan langkah setelah teringat sesuatu, “Zen, boleh Ibu pinjam handphone-mu sebentar?”

***

Akhir pekan di kota tak pernah sepi, kendaraan bermotor berjejalan memadati jalan tengah kota. Zen mengantri tiket parkir motor di Plaza Mall tempat kita berdua akan menonton film. Satu dua kali aku mendapati dua insan berjalan bergandengan tangan, sambil tertawa malu-malu. Aku yakin, hati Zen pasti pedih melihatnya.

“Nak, bagaimana menurutmu jika Ibu jodohkan kau dengan anak salah satu teman Ibu?” Kataku pada Zen yang sedang mengarahkan motornya di pojok lapangan parkir.

Zen mematikan mesin, halus menyuruhku turun dari motor, dan mengaitkan kedua helm kami di jok sepeda motor.

“Hei, kau belum jawab pertanyaan Ibu.” Ucapku dengan ekspresi pura-pura marah.

“Bu, sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi. Pakai acara dijodoh-jodohkan segala.” Tawa Zen menggema seolah sengaja mengolok-olokku. Dasar anak jaman sekarang, batinku bercanda.

Suasana di dalam mall sama ramainya dengan yang ada di jalanan luar sana. Para mama memenuhi atrium utama mall. Tak malu saling rebut memilih baju yang diobral habis-habisan. Cuci gudang katanya. Di pelataran bioskop, aku duduk sendiri di bangku pojok, Zen masih mengantri tiket film. Sepasang bola mataku bergerak-gerak mencari seseorang yang kutunggu. Semoga tak terlambat, benakku bergema. Semenit berselang. Ah, itu dia. Yang kutunggu datang bersama seorang gadis. Aku berdiri dan melambaikan tangan padanya baru saja memasuki pelataran bioskop.

“Senang bertemu denganmu, Rani.” Aku menyapa ramah.
Sahabat lawasku yang cukup lama tak bertemu itu langsung menghambur memelukku, “Senang rasanya bisa bertemu denganmu lagi, Khatijah.”

Kami melepas rindu dalam pelukan. Sebelum akhirnya Rani buka suara.

“Mendadak sekali kau memberitahuku, untung saja suamiku juga masih ada urusan kerja di luar kota.” Seperti biasa, Rani yang cerewet tapi baik hati itu berceloteh.

“Hehe, maaf, aku di sini juga tak ada rencana sama sekali.” Timpalku.

Aku menunjuk gadis semampai berparas ayu yang berdiri di samping kanan Rani, “Ini, Zi bukan? Sudah besar rupanya. Kau semakin cantik saja.”

Yang kupuji tersipu malu, membuat wajahnya terlihat semakin manis dalam balutan jilbab biru muda. “Terimakasih, Tante.”

“Bagaimana kuliahmu, Nak?” Tanyaku penuh perhatian, menghiraukan Rani yang sambil senyum-senyum menatapku. “Skripsiku sudah selesai, Tante. Tinggal menunggu wisuda bulan depan.” Zi menjawab santun, membuatku semakin yakin. Yakin?

“Apakah Zi, sudah punya pacar?” Entahlah, aku juga tak tahu mengapa sebegitu cepat aku menyemburkan pertanyaan penting ini tanpa memikirkan situasi. Benar, sudah lama memang aku begitu tertarik dengan putri Rani yang satu ini. Selain parasnya yang cantik, hatinya baik, santun, dia juga pandai. Yang kutahu selepas SMA dia melanjutkan pendidikan di Akademi Kebidanan. Dulu, sempat terpikirkan olehku, ingin mengenalkannya pada Zen. Namun Zen selalu tertawa menanggapi ideku ini dengan berseloroh, “Sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya lagi, Ibu.”

Hingga ketika aku tahu bahwa Zen telah putus hubungan dengan Arum dan mengiyakan permintaanku untuk menonton film bioskop malam ini, langsung saja kutelepon Rani untuk bertemu di sini. Kurasa inilah momen yang paling pas untuk mengenalkan Zen pada Zi.

“Zi, tak pernah mau pacaran,” Rani nimbrung percakapanku dengan anaknya. “Ia ingin langsung menikah jika ada yang benar-benar siap memintanya. Biar lebih berpahala, katanya. Asal laki-laki itu shalih, dan bisa jadi imam yang baik bagi keluarga. Begitu bukan, Zi?” Rani menggoda anaknya.

Yang digoda, menyentuhkan ujung jari di rusuk sang Ibu, “Mama ini selalu.” Ucapnya tersipu.

Benarkah? Tak mau pacaran? Perempuan langka di jaman sekarang. Sungguh, mendengarnya aku semakin terpesona dengan anak ini.

“Ibu, ini tiketnya.” Zen sedikit mengagetkanku saat tangan kanannya menyentuh lembut pundakku dari belakang.

“Oh, iya. Zen, kenalkan ini Tante Rani, sahabat Ibu semasa sekolah.” Aku mengenalkan Rani pada Zen. Anak laki-lakiku itu mengangguk menyalami Rani.

“Dan ini, Zi, putri bungsu Tante Rani.” Tanganku menunjuk Zi. Kali ini Zen sempurna mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang kutunjuk. Dalam sejenak masa, sepasang bola mata mereka bertumbuk saling tatap, sekejap kemudian Zi menundukkan pandangannya. Melihat Zi sebegitu anggun dan santun, tubuh Zen bagai paku yang tertancap pada kayu. Mematung. Dahinya berkeringat. Tiba-tiba saja tangan Zen menggenggam tangan kananku dengan sangat erat.

Dan, hanya Tuhan, aku, dan Zen saja yang mengetahui apa arti dari genggaman itu.

***
Ibu baru saja bilang padamu, bukan? Selalu begitu. Ibu seolah tak pernah bosan menceritakan kisah cintaku pada semua orang yang ia kenal, termasuk padamu kali ini. Akibatnya, selama tujuh tahun terakhir ini aku selalu menjadi bahan tertawaan banyak orang.

“Laki-laki kok nangis gara-gara diputus pacar.”

“Katanya gak mau dijodoh-jodohkan, tapi akhirnya mau juga. Malu-malu singa. Hahaha”

Begitulah komentar para tetangga padaku setelah mendengar cerita dari Ibu.

Iya, benar, akulah Zen itu. Zenal Abidin, anak tunggal Ibu. Jujur, seperti kebanyakan anak muda lainnya, aku tak mau mendapat pasangan hasil pilihan orang tua, sebab biasanya orang tua itu sering tak mengerti selera anak muda. Namun, setelah Ibu mengenalkanku pada Zi pada malam itu, aku berubah pikiran.

“Kau akan segera melupakan mantanmu, jika kau menemukan seseorang yang jauh lebih baik darinya.” Itu yang dikatakan Ibu saat aku terpuruk dalam kesedihan akibat putus dari Arum. Dan aku membuktikan sendiri kebenaran kalimat Ibu tersebut.

Aku merasakan sesuatu yang tak biasa saat pertama kali bertemu Zi. Wajahnya yang teduh menentramkan, membuat darahku berdesir halus. Kata para bijak bestari, aku terjebak cinta pandangan pertama. Setelah pertemuan itu, tiba-tiba saja hati ini terikat rasa pada Zi. Dan sepertinya, gadis itu pun juga merasakan hal yang serupa. Lantas, kekuatan ‘Maha’ di langit seperti sengaja menunjukkan salah satu keajaiban cinta di hadapanku, empat bulan kemudian, kuucap janji suci pada Zi di depan penghulu. Ya, semuanya serba tiba-tiba. Sampai sulit bagiku mengurai perjalanan cinta kami lewat kata.

Tanpa pacaran. Tanpa sakit hati. Namun, jadi.

Bukankah jalan cinta sejati selalu memudahkan?

“Baaaa…. Ketemu.” Kedua telapak tangan Faiz, anakku yang berusia 6 tahun, menutup kedua mataku. Aku lupa kalau sedang bermain petak umpet dengannya. “Hayo, cekalang Ayah halus jadi kuda cebagai ukuman.” Gemas mendengar celotehan cadelnya, kuacak-acak rambut Faiz dengan jemari tangan sembari mengulum senyum.

“Baiklah, Nak.” Aku mengiyakan.

“Ayo para jagoan, kita sarapan dulu. Nih, masakannya sudah siap.” Isteriku memanggil dari dalam dapur. Baiklah, aku dan Faiz akan mencicipi dulu masakan Zi. Kau tahu, menurutku masakan Zi adalah yang terenak di dunia. Berkunjunglah ke rumah kami jika ingin mencoba masakannya.

Oh iya, kenalkan, nama lengkap isteriku; Ziti Nurbaya.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai Contoh Cerpen Cinta, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang Contoh Cerpen Cinta. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Leave a Comment