Contoh Cerita Pendek “Zina Membawa Petaka”

Contoh Cerita Pendek – Banyak sekali cerita-cerita pendek dan singkat yang mengandung banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Semoga cerita pendek ini dapat memberikan pelajaran yang dapat anda ambil.

Contoh Cerita Pendek “Zina Membawa Petaka”

“Angin.”

“Ya, Nona.”

“Mengapa mereka tega?”

“Mereka? Siapa?”

“Mereka, Angin…”

“Siapa, Nona? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Perihal peristiwa yang tengah marak terjadi di mana-mana.”

“Peristiwa apa, Nona?”

“Pembuangan bayi, pembunuhan bayi atau bahkan aborsi. Mengapa mereka tega melakukan semua itu, Angin?”

“Aku tak tahu alasan apa mereka melakukan itu semua, Nona. Tapi kemungkinan ada banyak hal yang membuat mereka melakukan hal yang jelas dilarang oleh Allah tersebut.”

“Apa, Angin? Apa? Sedang perilaku mereka tak lebih baik dari hewan.”

“Jangan berkata demikian, Nona. Kau tak berhak mencaci sungguh.”

“Aku tak berhak mencaci sedang mereka merenggut nyawa yang jelas tak berdosa Angin.”

“Allah yang lebih tahu hukuman apa yang pantas untuk mereka.”

“Memang begitu seharusnya bukan?”

“Nona dengar… Mereka memang melakukan kesalahan, namun bukan tugas kita untuk mencaci atau bahkan menghakiminya. Kita tak pernah tahu seburuk apa kita di mata Allah, bukan?”

“…”

“Perihal keburukan yang mereka lakukan jelas suatu kejahatan. Kejahatan yang disebabkan belum mampu menerima kenyataan padahal jelas mereka melakukan atas kesadaran. Kurangnya iman atau lebih tepatnya mengabaikan pedoman serta perintahNya bisa menjadi pemicu utama.”

“Tapi bayi-bayi itu tak berdosa, Angin.”

“Aku tahu itu, Nona. Tapi itulah kenyataan nya Nona. Pergaulan modern yang bebas membuka pintu-pintu kemaksiatan. Bayi-bayi malang itu berawal dari cinta yang belum waktunya.”

“Cinta belum waktunya?”

“Ya, Nona.”

“Bisakah kau jelaskan, Angin.”

“Nona bayi-bayi malang itu bisa jadi (kemungkinan) hasil dari hubungan yang belum halal. Entah takut atau malu atau alasan apapun membuat mereka gelap mata sehingga melakukan hal yang tak semestinya.”

“…”

“Cinta belum waktunya adalah cinta yang tumbuh sebelum adanya ikatan yang sah di mata Allah. Ikatan di sini adalah pernikahan. Tak ada hubungan sepasang pria dan wanita bukan mahram yang diridhoi Allah selain pernikahan. Bahkan Allah pun meminta kita untuk tidak mendekati zina.”

“Zina?”

“Ya, Zina. Disadari atau tidak, pacaran adalah langkah awal menuju per-zina-han tersebut.”

“Mengapa demikian, Angin?”

“Hei Nona, adakah kau terlalu polos?”

“Kau selalu mengejekku. Bisakah kau jelaskan padaku perihal itu, Angin.”

“Baiklah… Orang bilang pacaran itu proses mengenal sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, namun pada kenyataannya jadi ajang untuk mendekati zina. Zina tidak melulu melakukan hubungan badan bagi pasangan yang belum halal, saling tatap berlama-lama pun sudah masuk ke zina mata.”

“…”

“Sekarang coba kita ambil contoh kau sebagai seseorang yang melakukan pacaran.”

“Aku?”

“Hanya contoh, Nona.”

“Baiklah.”

“Semisal kau berpacaran dengan seorang Tuan. Awalnya hanya sebatas chat atau telpon. Kemudian berlanjut hingga bertemu. Setelah itu sering bepergian bersama satu motor misalnya, lalu siapa yang bisa menjamin apa yang akan terjadi ke depan nya?”

“Mengapa begitu?”

“Karena jika ada sepasang wanita dengan pria yang bukan mahram sedang berdua, yang ketiga adalah syaiton (setan). Siapa yang bisa menjamin pasangan tersebut bisa lolos dari godaan syaiton.”

“Astagfirullah…”

“Kita tak pernah tahu bagaimana bayi-bayi malang itu bisa terlahir. Yang kita tahu semua merupakan ketentuan-Nya. Maka bersyukurlah dirimu, Nona.”

“Bersyukur?”

“Ya bersyukurlah memiliki ibu yang luar biasa cerewet sehingga selalu melarangmu pergi berdua dengan yang bukan mahram. Atau selalu menanyakan keadaan ketika tengah bepergian.”

“Iya, Angin.”

“Oiya Nona. Satu lagi…”

“Apa?”

“Lebih baik membantu doa daripada mencela.”

Leave a Comment