contoh-cerpen-dalam-kehidupan-sehari-hari

7 Contoh Cerpen Dalam Kehidupan Sehari hari Yang Sering Terjadi Di Masyarakat

Contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari – Dalam kehidupan keseharian pribadi terkadang kita mempunyai kejadian-kejadian bahagia, sedih, senang, dan lain-lain. Artikel kali ini akan membahas tentang cerita pendek dalam kehidupan sehari-hari, semoga anda menyukai artikel ini. 🙂

Contoh Cerpen Singkat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Judul : Hiperbolis Cinta
Karya : Lina
contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari
Inilah mengapa aku meninggalkanmu, cinta. Karena rasa bersalah senantiasa mengikat segala gerakku. Akhirnya setiap melakukan apa pun yang terjadi adalah …. (wow sampai di sini masih puitis).

Bruk …!!!

Oh, tiang bendera betapa beruntungnya dirimu sepagi ini telah mencium keningku.

“Nana! Bisa engga sih kalo jalan tuh liat-liat?!”

“Maaf,” sesalku karena menabrak tiang bendera.

“Heran deh. Segini lapangan luas, kok bisa-bisanya nabrak tiang sih. Aku kan malu jadinya jalan sama kamu. Noh liat, mereka pada ngetawain,” gerutu Sita; sahabatku.

“Ya maaf. Tiangnya aja engga marah-marah kenapa kamu yang sewot sih!?” protesku sambil berjalan menutupi separuh wajah dengan ujung jilbab. Seperti ninja. Meringis juga sih, kening memar.

Si penyebab aku beramah tamah dengan tiang, tiba-tiba melambai. Ke arahku? Meyakinkan mata sambil menguceknya. Ah … wajahnya seperti diterpa larik-larik cahaya. Matahari seolah muncul dari balik punggungnya. Tunggu … berarti kiamat dong. Bukan, bukan. Itu hanya hiperbolis seseorang sepertiku yang sedang jatuh cinta saja sebenarnya.

Aku yang memang memerhatikannya dari jauh, tanpa pikir panjang langsung membalas lambaian tangannya. Tersenyum semanis madu. Tapi kok ….?

“Nana! Kamu kenapa sih!? Sumpah seminggu ini konyol banget. Siapa yang disapa siapa yang sibuk balik nyapa.”

“Haduuuh … aku juga bingung.” Wajahku bersemu. Kalau bersemi yang tumbuh tentu jerawat. Ingin sekali saat itu meminjam tameng dari Polisi anti huru hara.

Langsung saja aku berlari menuju kelas, sebelum siswa yang lain menertawakan untuk kedua kalinya. Meyakinkan diri untuk melupakan Rama si ketua OSIS bermata teduh itu. Sebelum benar-benar kehilangan akal sehat. Kalau kehilangan pensil kan masih bisa beli di koperasi sekolah.

Contoh Cerpen Pendek  Dalam Kehidupan Sehari-Hari “Korban Motto”

Judul : Korban Motto
Karya : Bangmo Muhammad Ridwan

contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari

Mata Tarjo berkedip-kedip. Tampak sekali raut kesusahan di wajahnya. Sesekali dia tampak mengucak-ucak rambut, sehingga kelihatan semakin kusut. Paijan temannya sesama ojek menghampiri,

“Kenapa kamu, Jo. Susah amat keliatannya, amat aja gak susah keuleus!” ujarnya tega.

“Gue lagi banyak masalah, Jan. Ditagih utang sama Juragan Somad.”

“Ah, gampang!”

“ Emang lu punya solusi?” sambar Paijo semangat.

“ So, pasti. Lu datang aja ke Pegadaian, disana kan tempatnya Mengatasi masalah tanpa Masalah,” sahut Paijan bangga.

“Terima kasih, Jan. Lu bener-bener sobat gue.”

“ Oke, sob. Eh, titip motor gue yak. Gue balik makan dulu,” kata Paijan sembari berlalu.
Satu jam kemudian.

“Eh, Jo. Liat motor gue nggak?” tanya Paijan panik.

“Ada, gue liat,” jawab Tarjo santai.

“Di mana?”

“Di Pegadaian, tempatnya Mengatasi masalah tanpa Masalah.” sahut Tarjo mantap.
Paijan kejang-kejang.

Contoh Cerpen Pendek Dalam Kehidupan Sehari-hari “Beda Keyakinan”

Judul : Beda Keyakinan
Karya : Ulva

contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari

“Hai, Sam, gue denger lo putus ya sama Ratih?” sapa Tyo menghampiri Sam yang tengah duduk di bawah pohon toge.

“Iya nih, gue baru aja putus sama Ratih,” jawabnya letih, lesu, lemah, lunglai, lapar. Korban 5L.

“Emangnya kenapa?” tanya Tyo pura-pura tidak tahu padahal memang tak tahu beneran. Karena dia masih sebangsa manusia bukan makanan.

“Karena selama ini kita beda keyakinan, Tyo,” jawab Sam sedih. Samijan bukan Samuel.

“Bukannya lo sama Ratih itu seagama ya?” tanya Tyo keheranan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang ketombean.

“Iya sih, cuma gue sebel … kita nggak pernah sependapat. Gue kan yakin nih, kalau diri gue ganteng … tapi Ratih nggak pernah mau mengakuinya,” jelas Sam panjang, lebar, kali tinggi, kali Ciliwung, kali saja saya beruntung dalam event ini. :v

Akhir cerita, Tyo pun tertawa terpingkal-pingkal sampai terjungkal.

Contoh Cerpen Pendek Dalam Kehidupan Sehari-hari “Gara-gara Film”

Judul : Gara-gara Film
Karya : Dede Freenzy‎ 
contoh-cerpen-dalam-kehidupan-sehari-hari
 Aku berjalan tergesa-gesa setengah berlari, ingin rasanya cepat sampai ke kosan. Seusai nonton di bioskop tadi perasaanku mendadak kurang enak, seperti ada yang mengawasi.

Untuk menghilangkan rasa takut, sepanjang perjalanan aku berdoa tiada henti. Aku tengok kanan dan kiri dengan perasaan was-was.

Krekkk … krekkk ….
“Aaa …!” Aku spontan berteriak karena kaget.
“Ah, ternyata pohon bambu.”
Aku bergidik ngeri melihat banyaknya pohon bambu, pikiran pun ngelantur kemana-mana.
“Jangan-jangan ada setannya, hi seram.”

Setelah sampai di kosan, barulah dapat bernapas lega, tak lupa mengunci pintu dan jendela. Ketika sudah terlelap, ketukan pintu membangunkan aku.

Tok … tok … tok ….

Tak ada nyali untuk membukakan pintu, terlebih lagi ini sudah tengah malam. Aku sangat ketakutan, keringat mulai bercucuran, badan pun gemetaran. Tampak jelas ada bayangan hitam di jendela samping pintu, bayangan itu tinggi dan besar.

Ketukan pintu berubah menjadi gedoran, seolah-olah tak sabar ingin melahapku. Tak lama terdengar teriakan.

“Ella ini aku, Putri. Cepat buka, aku sudah kebelet! Aku mau numpang ke toilet, yang di kamar aku rusak!”

“Huft … gara-gara nonton film horor, aku jadi paranoid. Iya tunggu sebentar.”

Contoh Cerpen Pendek Dalam Kehidupan Sehari-hari “Gara-gara Film”

Judul : Lelaki Penunggang Moge
Karya : Umisakdiyah

contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari

Ada sebuah motor gede (moge) keluaran terbaru parkir di depan rumah kosong. Pemilik rumah jarang datang, sehingga alang-alang dan rumput liar tumbuh subur di halaman. Kebetulan letaknya paling pojok dekat belokan menuju rumahku.

Siapa sih pemilik moge itu? Pasti sosok gagah, rahang kukuh, dada bidang, perut six pax, rambut sedikit gondrong, wajah tampan. Persis yang ada di film-film. Minimal sebelas dua belas sama Al, anak Ahmad Dani.

Penasaran, aku mencuri-curi pandang ke arah motor. Aduuh… itu kenapa ada sekarung rumput di sebelahnya sih! Merusak pemandangan aja!

Aku pun mendekat. Pura-pura hendak ke warung. Tiba-tiba dari balik moge muncul pemilik moge itu. Jantungku hampir copot. Dia tiba-tiba menyapaku.

“Mau ke mana, Neng?”

“Ehm… ini, mau ke warung,” sahutku gugup.

“Numpang nyari rumput, ya, Neng?” ujar laki-laki bercelana kampret hitam dengan sendal jepit dan kopiah putih itu sopan.

“I…iya, Wak Haji, silakan. Kerbaunya ada berapa sekarang?” kataku untuk menutupi rasa malu. Ternyata dia Wak Haji Romli, orang terkaya di Jonggol.

“Tinggal empat belas, Neng. Ini yang dua saya tukar sama kebo Jepang!” katanya lagi sambil tersenyum simpul.

Contoh Cerpen Pendek Dalam Kehidupan Sehari-hari “Ngopi”

Judul : Secangkir Kopi Pagi
Karya : Hafshoh Bsb

Contoh Cerpen Dalam Kehidupan Sehari hari Yang Sering Terjadi Di Masyarakat

Menjadi rutinitas pagi keluarga Usman minum secangkir kopi. Dalam meminum kopi ada kebiasaan abah yang lucu. Saat ingin meminumnya abah selalu menunggu istri atau anak untuk membersamai. Kini Umah mengambil kopi melihat itu abah sigap mengambil juga untuk membersamai.

“Sruuup … ah ….” sruputan kopi panas umah.

Sambil nglirik umah, “Sruuup … ah ….”

Cangkir umah masih menempel pada bibirnya, begitu pula yang dilakukan abah. Ketika kembali kopi itu diminum umah, abah juga mengikutinya. Sama halnya saat umah meletakkan cangkir kopi itu, abah juga mengikutinya serempak.

Giliran anaknya ambil kopi untuk diminum, sama seperti sebelumnya abah juga mengikutinya walaupun ia tidak sedang ingin minum. Tahu akan hal itu, sang anak ngerjain abahnya. Dengan ambil cangkir itu, ditempelkan dibibirnya beberapa detik, saat abah lengah memperhatikannya, ia langsung meminumnya. Tak pelak abah tergesa-gesa meminumnya. Lalu anak menaruh kopi itu tapi belum sampai meja ia angkat lagi, belum sampai bibir cangkir itu diletakkan lagi, dan begitu seterusnya. Abah pun mengikutinya.

Sambil ketawa yang ditahan akhirnya abah bicara, “jangan goda abah gitu tho ….”

“…. Hahaha … lha abah tu juga aneh, kenapa setiap minum nunggu ada yang minum dan membersamai gerakannya” kata anak sambil ketawa, berhasil ngerjain abahnya.

Abah hanya senyum-senyum.

Contoh Cerpen Pendek Dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul : Terlihat Noda Seperti Darah
Karya : Ahmad Misbakhul Munir‎ 
Contoh Cerpen Dalam Kehidupan Sehari hari Yang Sering Terjadi Di Masyarakat

“Andi ayo kita pulang, sudah magrib ini” ajakku kepada andi yg masih asik memancing di danau itu

“Iya sebentar, kailku sedang di tarik ikan nih, tarikannya kenceng banget, kayaknya gede ni ton”,

“Kamu tidak ingat kata simbah tadi, “jangan pulang lebih dari jam 18:00, Sungai itu angker kalau malam hari”, sahutku menimpali

“Resek amat si kamu, sudah sana kalau mau pulang duluan,tapi awas nanti jangan minta ikan ini”,

Sambil diliputi rasa kesal aku pun berjalan pulang sendiri meninggalkan andi.

(Dua jam berselang)
“Tok tok tok” suara ketukan pintu terdengar dari depan rumah

“Iya sebentar,…

“Ehh, tante, ada apa ya tan ?” Tanyaku heran,

“Andi mana ya ton, tadi pergi memancing bareng kamu kan, kok jam segini belum pulang juga ya,.?”

“Ehh, masak belum pulang tan ?

“Iya, sejak tadi sore belum pulang, tante kira masih sama kamu”
“Kalau begitu ayo antar tante ke sungai tempat kalian memancing tadi” dengan wajah cemas dan keringat bercucuran,ibu andi lari sambil menarik tanganku kencang-kencang,

Glekkkk,..

Alangkah terkejutnya kami,ketika melihat andi sudah tergeletak dengan noda merah bececeran di mulut dan tangannya,

Apakah iya, apa yang di katakan simbah benar, tentang sungai yg angker ini.batinku,.

“Ya Tuhan, andi bangun andi, kamu kenapa nak, kenapa bisa seperti ini” Terdengar tangisan ibu andi tak tertahan, air mataku pun perlahan menetes, melihat teman ku tergeletak tak berdaya di depan mataku

Ketika suara ringkih itu terdengar

“IBU ?? ANTON ? Sedang kalian disini..?
Pake nangis segala lagi,.”

Aku dan ibu andi pun terbengong

(Ternyata sejak awal anton dan andi berencana akan memancing dan di lanjutkan bakar ikan di dekat sungai,berhubung sudah ada api dan bumbu yang di buat, andi merasa mubazir bila tidak di gunakan, meski hanya satu ekor ikan,namun cukup besar dan di makan sendiri, akhirnya andi pun kekenyangan dan ketiduran dengan noda saos di mulut dan telapak tangannya yg masih menempel)

Contoh Cerita Pendek Dalam Kehidupan “Serba Serbi Pernikahan”

Karya : Fitrah Ilhami
Judul : Oleh-Oleh

Contoh Cerpen Singkat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kemarin, aku dan kedua orang temanku ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Setelah merampungkan tugas, entah bagaimana ceritanya, di perjalanan pulang tiba-tiba kedua temanku itu sangat serius membicarakan satu hal: Oleh-oleh.

“Bro, pelan-pelan aja ya, kita cari oleh-oleh dulu.” Salah seorang teman mengingatkan. Kebetulan ketika itu aku yang nyetir mobil.

Tapi sampai setengah jam perjalanan tak kutemukan toko oleh-oleh makanan khas. Aku lanjut tancap gas.

Kudengar di belakang, temanku berkata agak panik, “Duh, gimana nih belum dapat oleh-oleh. Bisa ribet urusan ini nanti sama istri.”

Sambil nyetir aku menimpali santai, “Emang segitu pentingnya kah oleh-oleh itu, Mas?”

“Penting banget tahu!” ia bicara lagi. “Kalau aku habis keluar kota, sampai di rumah yang dilihat pertama kali oleh istri pasti kedua tanganku. Kalau aku gak nenteng oleh-oleh, dia bakal merengut. Alamat seharian aku didiemin sama dia.”

“Kamu masih mending, Bro,” sahut temanku yang satunya lagi. “Kamu masih mending dibukain pintu. Kalau aku keluar kota, terus pulang, pasti pintu masih dikunci. Kemudian aku ketok pintu, tapi istri gak langsung bukain pintu melainkan ngintip lewat jendela rumah dulu. Dia baru mau bukain pintu setelah aku menunjukkan oleh-oleh. Kalau gak bawa apa-apa, alamat gak dibukain pintu, deh.”

Ngeri juga aku dengarnya. Wih, daripada nanti bernasib serupa, mending aku ikutan beli oleh-oleh, ah. Apalagi sekarang istriku haid. Kuberitahu kau, Kawan, istri yang sedang haid itu sangat emosional. Dan semakin emosional jika haidnya pas di akhir bulan. Bisa-bisa nanti ketika aku baru lewat pagar rumah, istriku sudah teriak dari dalam, “BAWA OLEH-OLEH APA GAAAK?! GAK BAWA OLEH-OLEH TIDUR LUAR!”

Contoh Cerita Pendek Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Karya : Fitrah Ilhami
Judul : Coretan untuk Tuan

Contoh Cerita Pendek Dalam Kehidupan Sehari-Hari
gatotaryo17.wordpress.com

Tahukah, Tuan?

Tatkala beberapa bulan lalu Anda memutuskan ikut menjadi peserta pemilihan pemimpin di Negeri ini, saya langsung menebak bahwa Tuan-lah yang akan keluar sebagai pemenang.

Dan tebakan saya pun benar adanya…

Dengan dramatis, Tuan singkirkan satu-satunya pesaing, yang selama satu setengah dekade ini mati-matian berjuang agar bisa menempati singgasana yang kini Tuan duduki. Hebat. Tuan sungguh hebat. Bahkan untuk mencapai ‘yang nomor satu’ itu, Tuan hanya perlu sedikit waktu.

Kemudian di hari kemenangan itu, Tuan diarak keliling ibu kota. Dielu-elu, bahkan tak sedikit pasang mata yang menitikkan bebulir air bening. Mungkin, mereka merasa haru lantaran akan dipimpin oleh seorang Satria yang sengaja dikirim Tuhan untuk menyelesaikan segala permasalahan yang mereka hadapi.

Di sini, di depan layar televisi, saya pun menonton Tuan diarak. Di hati ini terselip harap, semoga Tuan senantiasa diberi kekuatan untuk memenuhi janji yang sering Anda dendangkan selama kampanye; Membela kemaslahatan kami, wong-wong cilik.

Ah, tentu saja harapan ini tidak berlebihan. Bukankah Tuan sudah membuktikannya sebelum ini? Yang saya ingat, Tuan adalah salah seorang yang paling keras menolak kebijakan penguasa sebelumnya –kalau saya tidak salah ingat, terkait kenaikan harga BBM–. Dengan kesahajaan, serta santunnya sikap Tuan ketika memimpin Ibu Kota, penolakan terhadap kenaikan harga BBM sudah lebih dari cukup bagi kami untuk percaya bahwa Tuan akan selalu bersedia pasang badan untuk membela kami.

Tuan selalu bilang akan bekerja keras untuk menaikkan tingkat kesejahteraan serta kemakmuran hidup kami. Tuan juga berjanji untuk berusaha keras menaikkan indeks pendapatan harian kami. Semua target ‘kenaikan-kenaikan’ itu, Tuan katakan, wajib diperjuangkan demi satu cita-cita mulia: Mewujudkan Negeri Hebat!

Ah, Tuan, andai semua ucapan Anda tentang ‘kenaikan-kenaikan’ tersebut benar-benar menjelma nyata. Maka, hal itu adalah prestasi gemilang yang pernah ada di Negeri ini. Dan saya percaya bahwa Tuan pasti bisa menorehkan prestasi tersebut.

Akan tetapi sore itu, entah saya lupa tepatnya hari apa, di layar televisi yang sama ketika menonton Tuan di arak keliling kota di hari kemenangan Anda, Tuan berdiri di podium, lantas mengumumkan sebuah ‘kenaikan’. Saya keliru pada saat mengira ‘kenaikan’ yang akan Tuan umumkan adalah data terkait kenaikan tingkat kemakmuran rakyat. Karena pada kenyataannya, yang Tuan umumkan pada sore itu adalah kenaikan harga BBM.

Demi mendengar berita dari Tuan tersebut, hati kami, rakyat kecil ini kontan merasa resah bergulung gelisah. Isi kepala kami diliputi berbagai tanda tanya, bagaimana nasib kami kemudian jika semua harga kebutuhan menjadi naik, namun gaji kerja cuma segitu-gitu saja.

Tuan, setelah kebijakan yang Anda ambil sore itu, meluncur berbagai reaksi ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Anda. Bahkan tak sedikit orang yang dahulu paling getol mendukung Tuan, kini mulai merasa salah pilih pemimpin.

“Kondisi perekonomian Negeri ini,” begitu tanggapan Tuan kepada yang tak sepihak dengan kebijakan Anda. “Mengharuskan kami untuk memangkas subsidi BBM.”

Ah, Tuan, bukankah pemimpin sebelum Anda –yang kebijakannya untuk menaikkan harga BBM, Anda tentang habis-habisan–, juga berkata serupa?

Kemudian, keadaan semakin memanas tak terkendali. Siapa lagi yang kepanasan kalau bukan wong-wong cilik ini? Kami turun ke jalan, rela memanggang diri di bawah terik matahari, teriak-teriak hingga hampir putus pita suara, membetangkan spanduk berisi tulisan kepedihan hidup, berharap hati Tuan terketuk lantas sudi untuk kembali menurunkan harga BBM. Bahkan di lain daerah, para mahasiswa harus berdarah-darah setelah berjibaku dengan aparat, saat berdemo.

Dan saya pun terhenyak kala mendapati Tuan menanggapi hal tersebut dengan berkelakar, “Ah, paling kisruh itu cuma berlangsung seminggu-dua minggu. Nanti juga lupa sendiri, dan minta foto bareng lagi.” Tuan mengatakan hal itu sambil tersenyum di hadapan puluhan sorot kamera.

Oh, saya pikir, ucapan Tuan sangat tepat. Buktinya rakyat jelata itu tetap mencintai Anda. Bahkan, berita yang pernah saya baca, ketika Anda memampiri kampung yang baru tertimpa bencana longsor, para wong cilik itu bukan hanya meminta foto bersama Tuan, melainkan berebut air kobokan bekas cucian kaki Tuan yang terciprat lumpur, lantas membasukannya ke wajah masing-masing. Biar dapat kesuksesan yang sama seperti Tuan, begitu pengakuan salah seorang dari mereka.

Tentang kenaikan harga BBM ini, Anda juga benar, Tuan. Seiring merangkaknya sang waktu, kami sudah lupa dengan apa yang pernah diributkan waktu lalu…

Namun, saya heran dengan para pedagang di pasar, karena pada saat saya menggerutu lantaran uang pecahan dua ribuan saya hanya bertukar dengan delapan biji cabai merah kecil –itu pun ada satu yang busuk–, si pedagang berseloroh ketus kepada saya, “BBM naik, Mas. Ya, jelas semua barang jadi mahal.”

Ah, Tuan, saya heran sekali dengan para pedagang itu. Mengapa mereka tidak mau ikut-ikutan lupa tentang kenaikan BBM? Bagaimana ini, Tuan, apakah Anda punya obat yang bisa membuat para pedagang itu menjadi pelupa?

“Jangan banyak mengeluh. Kerja keras!” Tuan ucapkan kalimat itu begitu tegas kepada kami para pengeluh.

Baiklah, Tuan. Sebagai rakyat yang baik, kami akan taat melaksanakan perintah Tuan. Bekerja keras, tanpa mengeluh.

Lihatlah kini, Tuan. Rakyat Anda sedang bekerja keras;

Yang copet, semakin keras mencopet.

Para pejabat nakal, semakin keras bekerja guna melipatgandakan pemasukan di kantongnya, tentu saja dengan tipu muslihat tingkat dewa.

Guru? Ah, profesi ini juga harus bekerja keras, bukan, Tuan? Dan kini, yang digugu dan ditiru itu selain mengajar, rupanya sudah punya tambahan kerja, yakni hilir mudik mengurus sertifikasi. Berharap tunjangan itu bisa cair di kantong baju dinas masing-masing.

Tatkala, para murid merutuk dongkol lantaran setiap hari mendapati gurunya hanya; masuk kelas, memberi tugas, lalu keluar kelas lagi –guna mengurus tunjangan sertifikasi–, guru tersebut menanggapi santai, “Sudahlah jangan banyak mengeluh, Murid-muridku. Kerjakan saja tugas yang Bapak berikan, sebab Bapak juga sedang bekerja keras demi menjaga dapur di rumah tetap mengepul.”

Hehehe. Sungguh, saya tersenyum geli melihat adegan guru-murid tersebut.

Apakah Tuan di sana juga tersenyum?

Contoh Cerpen Singkat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Judul : Aku
Karya : Fitrah Ilhami

Contoh Cerpen Singkat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Matahari pagi menembus kisi-kisi kamar tidurku. Sorot cahayanya menerpa wajah, seolah sengaja membangunkanku dari tidur pulas. Aku menggeliat.

“Astaga, sholat subuhku terlewat,” aku duduk bersila sambil menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah.

“Kenapa Ibu tak membangunkanku subuh tadi?” Gumamku pada diri sendiri. Tak biasanya ibu membiarkanku melewatkan sholat subuh walau cuma sehari, diri ini membatin. Sejenak kemudian kuberanjak meninggalkan kasur, menuju kamar mandi.

Langkah kakiku baru saja mencapai hitungan kelima, saat kedua gendang telinga ini menangkap suara isak tangis yang keras dari lantai bawah. Bukan, bukan hanya satu orang. Suara tangis yang bertindih-tindih itu pasti berasal dari beberapa orang, logikaku meyakinkan. Aku yang penasaran, langsung beranjak menuju ‘sumber keributan’.

Benar dugaanku. Saat langkah kaki masih menyisakan dua anak tangga, kedua bola mata ini menangkap lebih kurang dua puluh lima orang dewasa menyesaki ruang tamu rumah. Aku kenal sebagian dari mereka, para tetangga. Hampir semua yang berkerubung di ruang tamu itu memakai pakaian bernuansa gelap. Kudapati pipi-pipi mereka dilelehi air mata. Ada apa ini? Mengapa mereka berbondong-bondong datang ke rumahku sepagi ini? Dan, ah, mengapa mereka menangis seperti itu? Otak ini disesaki tanya.

Kuhabiskan sisa anak tangga dengan dua kali langkah. Lantas, dengan wajah kebas dan rambut yang masih berantakan, kuberanikan diri mendekat ke kerumunan yang terisak-isak itu. Astaga, apa itu? Darah ini berdesir hebat kala melihat sesosok tubuh terbujur kaku, persis di hadapan ayah ibuku yang terduduk sambil sesenggukan. Siapa yang meninggal? Batinku bergema. Kulewati kerumunan melalui sela-sela tubuh, memastikan siapa pemilik jasad yang terbaring kaku itu.

Dan, jantungku bagai melorot ke perut ketika diri ini sempurna mengenali wajah pucat dengan tubuh ditutupi kain bermotif batik tersebut. Ya Tuhan, itu aku. Tak salah lagi, itu aku.

Kuhampiri sosok kedua orang tuaku yang masih sesenggukan, lantas coba menyentuh bahu ayah, mengharap perhatian darinya. Aneh, tanganku hanya menebas udara. Kuulangi lagi, hasilnya sama, tubuh ayah tak bisa kusentuh. Ayah mendekap tubuh ibu, mengelus pundak wanitanya yang berguncang sembari berucap, “Sabarlah, Bu. Semoga Allah menerima anak kita.”

Demi mendengar kata-kata ayah barusan, seluruh persendianku bagai dilolosi. Dengan usia yang memasuki tahun ke -24, aku paham betul apa makna kalimat yang baru saja ayah katakan.

“Tidak mungkin. Aku masih hidup,” suaraku memekik membungkus udara. Orang-orang di sekitar tetap mematung seolah tak mendengar teriakanku barusan.

Di sudut ruangan, kulihat adik perempuanku tergugu. Wajahnya penuh baret.

Aku baru ingat, bahwa kemarin malam, aku mengajaknya untuk beli makan di Pasar Malam. Pukul sembilan, kami memutuskan pulang. Di tengah perjalanan pulang itulah tiba-tiba ponselku berdering, tanda pesan masuk. Dengan motor yang masih melaju 50 km/jam, kuambil ponsel dari kantong berniat membuka inbox. Setelah membaca pesan tersebut, aku mengetik balasan dengan jemari tangan kiri.

Lima detik setelah mata ini sepenuhnya berfokus pada layar ponsel, sekonyong-konyong ban depan motorku terperosok pada aspal yang rusak lagi berlubang. Sebab terlalu fokus pada ponsel-lah yang membuatku terlambat untuk menghindari jalanan yang rusak itu. Kami berdua terpelanting ke ruas tengah jalan. Adikku terjatuh cukup jauh dariku, sekilas kudapati pelipisnya mengucurkan darah. Dan malam itu benar-benar menjelma petaka, tatkala sepersekian detik selanjutnya sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam tubuhku dari arah yang berlawanan. Entahlah, setelah itu aku tak ingat lagi bagaimana diri ini sudah berada di rumah, tidur di atas kasur dan terbangun saat matahari terbit tadi.

Jasad kaku itu diangkat oleh empat lelaki dewasa, dibawa entah ke mana?

“Kita mandikan dulu almarhum ini. Dan, kita akan kuburkan setelah sholat jenazah dilakukan,” tutur salah satu sesepuh kampung kepada orang tuaku. Ayah mengangguk takzim, tapi tidak dengan ibu yang meraung-raung, memegangi mayat pucat itu.

Apa? Almarhum? Dimandikan? Disholati? Hei, aku belum mati. Aku pun belum mau mati. Usiaku masih 24 tahun. Masih banyak yang harus kulakukan dalam hidup ini. Aku juga belum pernah membahagiakan kedua orang tuaku.

Tuhan, kumohon beri kesempatan sekali lagi, hamba berjanji tak akan mengulangi lagi kebodohan menggunakan ponsel saat berkendara.

Aku berlutut, air mataku bercucuran.

Akhir Kata

Demikian artikel mengenai contoh cerpen dalam kehidupan sehari hari, semoga bisa bermanfaat. Jika anda membutuhkan artikel tentang contoh cerpen atau puisi silahkan cari di website ini.

Terimakasih sudah membaca artikel kami tentang ccontoh cerpen dalam kehidupan sehari hari. Pastikan anda mendapatkan satu ilmu sebelum menutup halaman ini. Jika anda kembali ke web penulisngapak.com, kami pastikan anda akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk anda dan orang-orang disekitar anda.

“Penulisngapak.com menulis untuk umat”

Tinggalkan komentar