IQRO

Awal mula seorang anak belajar sebelum ke Al-Qur’an adalah Iqro. Pasti sudah banyak yang tahu mengenai Iqro, bukan?

Iqro adalah sebuah buku (ada yang berbentuk kecil dan besar-sesuai kebutuhan-) yang berjilid-jilid. Dimulai dari jilid satu dan berakhir di jilid enam.

Iqro di rancang oleh penulisnya guna memudahkan anak-anak untuk belajar serta paham akan huruf hijaiyah serta tajwid di dalam nya.

Di jilid pertama (Iqro 1) berisi tentang pengenalan huruf hijaiyah secara terpisah. Maksudnya begini, di lembar pertama Iqro satu huruf hijaiyah yang dikenalkan adalah a (alif setelah di Fatah) dan ba. Itu berarti di lembar pertama tersebut hanya ada huruf a dan ba. Kemungkinan penulisnya berharap si anak mampu mengenal hijaiyah secara perlahan.

Satu per satu huruf di tulis dengan metode penulisan acak. Hal tersebut memungkinkan anak untuk tahu huruf bukan hafalan huruf. Tahu hafalan huruf? Mereka menghafal nama-nama huruf tapi ketika di tanya mana ba, mana a malah bingung. Mereka hanya hafal huruf, bukan tahu huruf.

Di sini, peran orang tua dan guru sangatlah penting untuk membantu tumbuh kembang anak dalam mempelajari Iqro.

Bagi guru, jangan mudah bosan untuk mengulang dan mengulang lagi huruf yang anak belum tahu benar. Jangan memindahkan ke halaman berikutnya hanya karena kasian sudah terlalu lama di halaman tersebut.

Bagi orang tua, hendaknya jangan terlalu menuntut sang anak agar selalu pindah halaman setiap harinya. Bantu mereka dengan memberi semangat bukan tekanan.
Anak hanya ingin diberi ruang untuk mengerti dan diberi kepercayaan bahwa mereka mampu mempelajari Iqro tersebut.

Mengapa saya menulis status yang begitu panjang tentang Iqra?

Karena salah satu bentuk kepedulian bahwa penting nya belajar Iqro sebelum Al-Qur’an. Dan sedih ketika ada anak yang sudah sampai iqra 3, 4 dan 5 masih ada yang lupa huruf atau tak mampu membaca kalimat yang digabung.

Lebih baik mengulang berkali-kali dan ada di jilid bawah namun mengerti daripada dijilid atas tapi tertatih, bukan?

Dulu….
Jujur aku terlambat mempelajari Iqro, aku mulai membaca iqra dari kelas empat SD ketika sekolah di MD (Madrash Diniyah ku kelas 1). Awalnya malu karena teman satu kelas lebih muda dariku (aku paling tua di kelas). Hal tersebut menjadi dorongan agar aku tak terlihat bodoh di antara mereka.

Betul saja, selama sekolah kelas satu di MD aku hanya mendapat satu KL(kurang lancar) dari guru dengan semua halaman tertulis lancar.

Hal tersebut bukan semata-mata karena aku bisa, namun karena kerja sama guru dan Orang tua. Ketika hari ini lancar, guru memberitahukan huruf apa yang untuk esok hari. Dan orang tua membantu mengulas untuk esok hari. Jadi ketika di sekolah menjadi bisa dan tahu tanpa paksaan.

Ayoo para orang tua yang cerdas, bantu tumbuh kembang anak sedini mungkin.

Leave a Comment