Tragedi di Malam Hari

“Hhh … hhh … ”

Aku terkesiap. Sebuah napas berhembus di belakangku. Begitu keras dan berat …

“Kau ingin bermain denganku di malam yang dingin ini? Sekaranglah saatnya!”

Tiba-tiba semua terasa gelap. Tak ada cahaya, tak ada sinar sedikit pun! Oh, dimana aku?

Tempat ini begitu asing. Sempat kulihat empat orang berjubah hitam menyeretku. Aku pun meronta-ronta karenanya.

Bak!! Buk!! Bak!! Buk!!

“Aduh! Aduh!”

“Sebentar, sebentar, nyalakan lampunya!” seru seseorang yang sudah tak asing lagi suaranya bagiku.

Kubuka sarung yang menutupiku sedari tadi. Oh, ini ternyata yang membuat gelap gulita, pikirku.

“Lho, Bagas, ngapain kamu malam-malam begini mengendap-endap di dapur!” kata ayah.

“Aku lapar sekali, Yah. Kenapa kalian pukuli aku?” jelasku kemudian sambil memandang ayah, ibu dan kedua adikku.

Sebagai balasan, mereka hanya garuk-garuk kepala dan nyengir kuda.

Leave a Comment